BLITAR - Nama Ciro Alves kembali menjadi perbincangan hangat pecinta sepak bola nasional. Bukan semata karena gol indah yang ia cetak, melainkan karena momen emosional yang mengiringinya. Untuk pertama kalinya sepanjang karier profesional, Ciro Alves berhasil membobol gawang Teja Paku Alam. Namun alih-alih selebrasi, gol itu justru diiringi air mata dan ekspresi duka mendalam.
Gol bersejarah tersebut tercipta pada laga Malut United kontra Persib Bandung, 14 Desember 2025. Dalam pertandingan sarat gengsi itu, Ciro Alves sukses menjebol gawang Teja Paku Alam, kiper yang selama ini seolah menjadi “kutukan” baginya. Ironisnya, gawang yang akhirnya ia taklukkan justru milik Persib Bandung, klub yang pernah membesarkan namanya.
Momen tersebut langsung menyita perhatian publik. Ciro Alves tersungkur di depan gawang Persib, menutup wajahnya, dan tak kuasa menahan air mata. Sebuah selebrasi yang tak pernah terjadi—yang ada hanyalah luapan emosi dari perjalanan panjang penuh cerita.
Kutukan Teja Paku Alam yang Membayangi Karier Ciro
Saat masih berseragam Persikabo, Ciro Alves dikenal sebagai salah satu winger paling eksplosif di Liga 1. Namun satu masalah besar selalu menghantui: ia tak pernah mampu menaklukkan Teja Paku Alam. Setiap pertemuan, peluang demi peluang tercipta, tetapi gawang Teja tetap perawan dari sentuhan kaki Ciro.
Situasi itu berulang kali membuat Ciro frustrasi. Dalam beberapa laga, raut wajahnya jelas memperlihatkan tekanan mental karena selalu gagal mencetak gol ke gawang Teja. Publik pun kerap menyebut Teja sebagai “momok” bagi pemain asal Brasil tersebut.
Dari Rival Jadi Rekan, Hingga Juara Bersama
Takdir kemudian mempertemukan keduanya dalam satu tim. Pada 2022, Ciro Alves resmi bergabung dengan Persib Bandung. Di klub berjuluk Maung Bandung itu, Ciro dan Teja bukan lagi rival, melainkan rekan seperjuangan.
Kebersamaan mereka berbuah manis. Persib Bandung sukses mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih gelar juara Liga 1 secara back to back. Ciro menjadi motor serangan, sementara Teja tampil kokoh di bawah mistar. Relasi profesional yang kuat itu membuat publik nyaris melupakan rivalitas lama di antara mereka.
Berlabuh ke Malut United dan Pertemuan Tak Terduga
Namun roda karier terus berputar. Ciro Alves akhirnya memilih tantangan baru dengan bergabung bersama Malut United. Keputusan itu sempat mengundang tanda tanya, mengingat statusnya sebagai ikon Persib dalam beberapa musim terakhir.
Tak banyak yang menyangka bahwa pertemuan pertama Ciro dengan Persib setelah hengkang akan langsung menghadirkan drama emosional. Pada 14 Desember 2025, Malut United berhadapan dengan Persib Bandung. Di laga inilah sejarah pribadi Ciro tercipta.
Gol Pertama yang Justru Menyakitkan
Gol itu akhirnya datang. Ciro Alves berhasil melewati pengawalan dan melepaskan penyelesaian yang tak mampu dibendung Teja Paku Alam. Untuk pertama kalinya, gawang Teja kebobolan oleh Ciro. Sebuah pencapaian yang selama bertahun-tahun terasa mustahil.
Namun alih-alih berlari merayakan gol, Ciro justru terjatuh di depan gawang. Air matanya mengalir. Emosi bercampur aduk antara lega, sedih, dan rasa bersalah. Gol tersebut terasa seperti membuka kembali luka lama—bukan hanya tentang rivalitas, tetapi juga tentang kenangan bersama Persib Bandung.
Simbol Profesionalisme dan Rasa Hormat
Tangisan Ciro Alves menjadi simbol bahwa sepak bola bukan sekadar soal menang dan kalah. Ada ikatan emosional, sejarah, dan rasa hormat yang tak bisa dihapus oleh pergantian seragam. Gol ke gawang mantan tim, apalagi dengan sosok Teja Paku Alam di bawah mistar, menjadi beban psikologis tersendiri.
Momen itu pun mendapat respek luas dari publik sepak bola Indonesia. Banyak yang menilai sikap Ciro menunjukkan profesionalisme dan kedewasaan emosional, sesuatu yang jarang terlihat di level kompetisi tertinggi.
Bagi Ciro Alves, gol tersebut mungkin tercatat di papan skor. Namun air mata yang mengiringinya akan dikenang lebih lama oleh para pencinta sepak bola nasional.(*)
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi