Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Kopi Arabika dan Rahasia di Balik Nama Cappuccino: Dari Ritual Ibadah Malam hingga Jadi Komoditas Global Nomor Dua di Dunia

Satria Wira Yudha Pratama • Kamis, 18 Desember 2025 | 06:00 WIB
Photo
Photo

BLITAR - Pernahkah Anda membayangkan bahwa ritual minum kopi yang begitu modern saat ini berawal dari pengamatan seorang penggembala kambing 1.200 tahun yang lalu? Dalam catatan Sejarah Kopi Arabika, perjalanan si biji hitam ini bermula dari dataran tinggi Abisinia atau yang sekarang kita kenal sebagai Ethiopia. Kala itu, seorang penggembala menyadari kambing-kambingnya mendadak penuh energi setelah mengonsumsi buah merah kecil menyerupai ceri.

Rasa penasaran sang penggembala membawanya pada eksperimen pertama dengan merebus buah tersebut. Tanpa disangka, air rebusan itu tidak hanya bisa diminum tetapi juga memberikan efek kebugaran bagi tubuh. Memasuki abad ke-9, Sejarah Kopi Arabika mulai berkembang pesat di penjuru dunia Muslim. Dalam bahasa Arab, kopi disebut sebagai qahwa, sebuah kata yang secara harfiah memiliki arti "kekuatan". Istilah ini mencerminkan bagaimana kopi menjadi sumber energi baru bagi masyarakat saat itu.

Pada masa keemasan peradaban Islam, khasiat kopi dimanfaatkan secara spesifik oleh umat Muslim untuk membantu mereka tetap terjaga dan fokus selama melaksanakan ibadah salat malam. Barulah sekitar abad ke-16, Sejarah Kopi Arabika menyeberang ke benua Eropa melalui para pelancong yang memperkenalkan minuman ini ke Yaman, Makkah, hingga kota-kota besar seperti Baghdad dan Istanbul. Popularitasnya yang tak terbendung kemudian mengubah peta konsumsi minuman dunia selamanya.

Rahasia Nama Unik: Dari Biarawan hingga Kota Pelabuhan
Perkembangan kopi tidak hanya soal rasa, tapi juga inovasi penyajian. Jika awalnya hanya dikonsumsi sebagai kopi hitam pekat, abad ke-17 menjadi titik balik munculnya campuran bahan lain seperti susu dan krim. Dari sinilah lahir jenis minuman populer seperti Cappuccino dan Latte.

Fakta unik yang jarang diketahui adalah asal-usul penamaan Cappuccino. Istilah ini muncul karena warna cokelat kemerahan dari campuran kopi dan busa susu dianggap menyerupai warna jubah para biarawan Kristen Capuchin. Selain itu, istilah Mocca yang sering kita dengar juga bukan sekadar nama varian cokelat-kopi. Nama ini diambil dari kota pelabuhan Mocca di Yaman, yang merupakan pusat perdagangan kopi internasional paling prestisius antara abad ke-15 hingga ke-17.

Universitas Recehan: Pusat Diskusi Intelektual di London
Eropa menyambut kopi dengan lahirnya kedai-kedai kopi legendaris. Venesia, Italia, mencatat sejarah dengan membuka kedai kopi pertama pada tahun 1645. Tak lama kemudian, bisnis ini menjamur ke seluruh benua, terutama di London, Inggris. Pada tahun 1783, London telah memiliki ratusan kedai kopi yang menjadi ruang publik paling penting.

Menariknya, kedai-kedai kopi di Inggris saat itu dijuluki sebagai "Universitas Recehan". Julukan ini muncul karena siapa pun yang datang ke sana bisa mendengarkan dan berdiskusi langsung dengan orang-orang paling cerdas pada masanya hanya dengan membayar seharga secangkir kopi menggunakan uang receh. Kedai kopi bertransformasi dari sekadar tempat minum menjadi pusat pertukaran ilmu pengetahuan dan sosialisasi kelas tinggi.

Kekuatan Kopi Indonesia di Mata Dunia
Jejak penyebaran kopi terus meluas hingga mencapai benua Amerika pada pertengahan abad ke-17 melalui pedagang Belanda. Di Indonesia sendiri, kopi telah populer sejak periode Islam dan terus berkembang hingga masa kolonial. Saat ini, Indonesia memiliki lahan perkebunan kopi seluas hampir satu juta hektar yang tersebar di berbagai wilayah.

Indonesia kini kokoh berdiri sebagai negara pengekspor kopi terbesar keempat di dunia, menyumbang sekitar 350 ribu ton kopi ke pasar global setiap tahunnya. Keunggulan Indonesia terletak pada keragaman varietasnya yang mendunia. Pecinta kopi global tentu akrab dengan nama-nama besar seperti Arabika Gayo, Arabika Ijen, Toraja, hingga Bali Kintamani. Bahkan, varian unik seperti Liberika Rangsang Meranti dari Riau turut memperkaya khazanah kopi nusantara.

Selain khasiat utamanya sebagai penambah energi, penelitian modern juga mengungkap manfaat kesehatan lainnya. Konsumsi kopi secara rutin dan tepat diketahui dapat membantu menjaga kesehatan jantung, melindungi fungsi otak, hingga mengurangi risiko kanker. Jadi, sudahkah Anda menikmati secangkir kopi pagi ini untuk menjaga kesehatan dan produktivitas?(*)

Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi
#Budaya Ngopi #Asal usul Kopi #kopi indonesia #manfaat kopi #Sejarah Kopi Arabika