BLITAR - Perjalanan Brisha Alivia Mecca menunggangi pushbike dimulai saat berusia dua tahun. Kala itu, bocah warga Kelurahan/Kecamatan Kademangan ini dibelikan sepeda dorong kaki oleh sang ayah. Dari situlah, dia rajin berlatih hingga berhasil naik podium.
Perjuangan Brisha Alivia Mecca itu diungkapkan langsung oleh ayahnya, Achmad Muchotis Yusup. Pada 2019 dia membelikan sepeda push bike seharga Rp500 ribu untuk anak perempuannya tersebut.
Mengetahui ada komunitas Patria Pushbike Blitar, dia langsung mendaftarkan anaknya untuk bergabung. Lewat komunitas tersebut, Brisha mulai berlatih teknik berlari dan skill balapan bersama puluhan anak lainnya.
Lomba pertama digelar di Sport Center Kota Blitar, sebuah ajang internal komunitas. Brisha keluar sebagai juara pertama kategori putri tahun kelahiran 2018. Lomba berikutnya tingkat provinsi di Malang, Brisha kembali juara pertama.
"Dari situ saya merasa bahwa anak saya memiliki bakat dan potensi, kemudian saya support penuh dari segi anak maupun sepeda. Saya belikan yang lebih bagus dan mumpuni untuk balapan," ungkap , Achmad Muchotis Yusup.
Prestasi Brisha bukan kebetulan. Keluarga Chotis memang memiliki latar belakang olahraga kental. Kakeknya rutin mengikuti mountain bike. Ibunya, semasa sekolah menengah kejuruan, adalah atlet taekwondo kota. Chotis sendiri pernah tergabung dalam Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) cabang road bike tingkat kota.
Latihan Brisha dimulai sejak usia 2,5 tahun. Chotis rutin mengajak putrinya berkeliling kampung naik push bike. Dengan reward jajan dan melihat pemandangan tentu rasa lelahnya akan terbayar.
Kini, setiap Minggu, Brisha berlatih bersama komunitas. Teknik, kecepatan, hingga strategi balapan diasah secara konsisten. Hasilnya dalam lima tahun terakhir, Brisha mengoleksi medali dari berbagai level kompetisi kota, karesidenan, provinsi, dan nasional. Semua masuk tiga besar.
"Di tingkat provinsi Jatim kalau gak juara satu ya dua. Di nasional bisa berubah, juara satu sampai empat juga pernah karena memang di tingkat nasional saingannya lebih banyak," jelas Chotis, sapaan akrabnya.
Jalan menuju podium tak selamanya mulus. Di tahun-tahun awal, Chotis kerap mendapat komentar dari tetangga. "Masih kecil diajak lari apa gak kasihan," atau "Masih kecil disuruh naik sepeda tapi gak ada pedalnya, kok tega," adalah sebagian cercaan yang harus ditelan.
Namun, piala demi piala yang kini memenuhi ruang tamu keluarga Brisha menjadi pembungkam paling ampuh. Setiap Lebaran, tetangga yang berkunjung menyaksikan langsung deretan trofi emas dan perak hasil kerja keras Brisha.
Sebagai siswa kelas dua di kelas unggulan MIN 11 Blitar, Brisha harus membagi waktu antara belajar dan berlatih."Kami memahami memang sulit untuk seorang anak bisa unggul di bidang akademik maupun non-akademik secara bersamaan. Tidak ada yang dikorbankan, tapi pasti ada yang harus sedikit tertinggal satu bidang," tegas Chotis, mengutip pengalaman pribadinya.
Filosofi tersebut bukan pembenaran untuk lalai, melainkan pendekatan realistis agar Brisha tidak tertekan. Yang terpenting, menurut Chotis, adalah anak tetap sehat secara fisik dan mental. "Banyak sekali manfaat, baik segi fisik, kesehatan, maupun skill berpikir.
Daripada mainan handphone di rumah, lebih baik dialihkan ke hal yang positif dan berprestasi," pesannya untuk orangtua lain yang mempertimbangkan push bike untuk anak-anak mereka.(*/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah