Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dinkes Kabupaten Blitar Sebut Diabetes Bukan Lagi Penyakit Lansia, Tergantung Pola Hidup

Akhmad Nur Khoiri • Kamis, 25 Desember 2025 | 01:29 WIB

‎HARUS DIKONTROL: Sering konsumsi minuman manis kemasan dapat memicu lonjakan gula darah.
‎HARUS DIKONTROL: Sering konsumsi minuman manis kemasan dapat memicu lonjakan gula darah.

BLITAR KAWENTAR – Tren penyakit diabetes melitus (DM) di Kabupaten Blitar kini tidak lagi didominasi oleh kelompok lanjut usia. Data terbaru menunjukkan peningkatan drastis penderita dari kalangan usia produktif.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar memperingatkan bahwa perpaduan antara faktor genetik (keturunan) dan gaya hidup tidak sehat menjadi "bom waktu" bagi warga di usia kerja.

‎Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto mengungkapkan, dari total 18.686 kasus DM yang tercatat pada 2025, porsi penderita di usia produktif menunjukkan tren kenaikan yang mengkhawatirkan.

‎"Dahulu DM identik dengan usia di atas 45 tahun, namun sekarang usia produktif sudah banyak yang terdiagnosis. Faktor penyebab utamanya adalah kombinasi antara genetik dan pola hidup," ujarnya.

‎Anggit menjelaskan, seseorang yang memiliki riwayat keluarga pengidap diabetes memiliki risiko lebih tinggi. Namun, risiko ini sering kali dipercepat oleh gaya hidup modern yang tidak terkontrol, seperti konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta minimnya aktivitas fisik.

‎"Masyarakat kita sekarang sering terpapar asupan tinggi gula namun tidak dibarengi dengan aktivitas fisik yang cukup. Energi dari makanan tidak terbakar dan akhirnya memicu gangguan metabolisme. Inilah yang membuat DM Tipe 2 muncul lebih awal pada usia muda," tambahnya.

‎Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan DM di usia produktif adalah minimnya kesadaran untuk melakukan deteksi dini. Banyak warga yang enggan memeriksakan diri karena merasa tubuhnya masih bugar dan tidak memiliki keluhan medis yang berarti.

‎"Fenomena yang terjadi adalah masyarakat baru memeriksakan diri saat sudah muncul komplikasi. Padahal, diabetes sering kali tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Penting bagi mereka yang memiliki riwayat keturunan untuk melakukan cek gula darah secara rutin tanpa menunggu sakit," tegas Anggit.

‎Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kabupaten Blitar terus memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan gratis (PKG) melalui posyandu integrasi layanan primer (ILP) di setiap desa.

Dinkes juga mengimbau perusahaan-perusahaan dan instansi untuk lebih rutin memfasilitasi pemeriksaan kesehatan bagi karyawannya. ‎

"Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat. Jangan takut untuk cek kesehatan. Justru dengan mengetahui kondisi sejak dini, kita bisa melakukan intervensi melalui pola makan dan olahraga sebelum penyakit ini berkembang menjadi komplikasi kronis," pungkasnya. (kho/c1/ynu)

Editor : M. Subchan Abdullah
#diabetes melitus #tren #genetik #dinkes kabupaten blitar #minuman manis #penyakit diabetes