BLITAR KAWENTAR - Di tengah hiruk pikuk media sosial yang sering kali sibuk mengejar angka, viralitas, dan sensasi sesaat, Mahira Diffa Rahma Hida berupaya menghadirkan pesan yang lebih berdampak. Melihat fenomena tersebut lahirlah sebuah gerakan bernama Influencer Berdampak Indonesia. Sebuah komunitas yang menjadikan pengaruh sebagai jalan pengabdian.
Mahira Diffa Rahma Hida bukan sosok yang tiba-tiba muncul. Perjalanannya ditempa sejak dini melalui dunia organisasi. Sejak SMP, dia aktif di OSIS, lalu berlanjut ke berbagai organisasi daerah hingga nasional.
Isu pendidikan, perempuan dan anak, hingga kepemudaan menjadi ruang belajarnya. Baginya, organisasi bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan sekolah kehidupan. “Banyak hal yang tidak saya dapatkan di ruang kelas, justru saya temukan di organisasi,” tuturnya, Senin (29/12).
Dari sanalah dia belajar tentang empati, kepemimpinan, kerja kolektif, dan pentingnya kolaborasi. Semua pengalaman itu membentuk satu keyakinan: perubahan tidak bisa dikerjakan sendirian.
Titik balik lahirnya komunitas Influencer Berdampak Indonesia bermula dari hal sederhana. Sepulangnya Mahira ke Blitar setelah menyelesaikan penelitian di Jakarta, sejumlah pesan masuk ke akun Instagram-nya. Anak-anak muda meminta kelas public speaking.
Merespons antusiasme itu, Mahira membuka pendaftaran kelas gratis dengan kuota terbatas. Namun, menjelang pelaksanaan, dia justru menemukan fakta yang mengguncang: lebih dari 10 ribu siswa di Blitar tercatat putus sekolah.
“Kegelisahan itu tidak bisa saya abaikan,” ucap warga Kelurahan/Kecamatan Sananwetan ini.
Baginya, edukasi bukan hanya soal angka kelulusan, melainkan tentang hadirnya ruang aman, pendampingan, dan harapan.
Maka, kelas public speaking itu berkembang menjadi ruang dialog. Anak-anak muda tak hanya belajar berbicara, tetapi juga saling mendengar, berbagi keresahan, dan memikirkan solusi.
Pertemuan pertama pada 13 Juli 2025 menjadi tonggak awal. Dari ruang kecil itu, lahir kesadaran besar.
Ada visi yang sama, ada semangat kolektif untuk berbuat lebih. Dari sanalah, Influencer Berdampak Indonesia resmi terbentuk, sebuah komunitas yang memaknai influencer bukan dari jumlah pengikut, melainkan dari sejauh mana ia memberi dampak.
“Influencer itu pemengaruh. Maka siapa pun yang memberi pengaruh positif, sekecil apa pun, adalah influencer,” tegas Mahira.
Kata “berdampak” sengaja disematkan agar setiap langkah komunitas selalu berpihak pada kebermanfaatan.
Pergerakan komunitas ini tak berhenti pada diskusi. Aksi nyata menjadi ruh utama. Salah satu program unggulan adalah Sahabat Ceria, program pendampingan anti-bullying yang menyasar pelajar SMP.
Melalui pendekatan edukatif dan empatik, komunitas ini menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk berbicara, memahami empati, dan membangun kepercayaan diri.
Hingga kini, lebih dari 600 pelajar SMP di Blitar telah merasakan dampaknya. Tidak sedikit dari mereka yang awalnya pendiam, kini berani bersuara.
Tahun depan, program ini bahkan masuk daftar tunggu sejumlah sekolah, tanda bahwa gerakan ini benar-benar dirasakan manfaatnya.
Selain itu, Influencer Berdampak Indonesia juga menggelar literasi keuangan bagi anak muda, membantu mereka memahami masa depan secara lebih sadar.
Di internal komunitas, keberagaman latar belakang anggota justru menjadi kekuatan. Mereka tumbuh bersama, belajar saling memahami, dan memperkuat satu sama lain.
Tantangan tentu ada. Pendanaan dan manajemen waktu menjadi pekerjaan rumah. Namun, Mahira dan tim memilih bertahan dengan nilai. “Kami selalu mengingatkan, tujuan kami adalah dampak, bukan angka,” ujarnya.(*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah