BLITAR – Persib Bandung harus puas berbagi satu poin setelah ditahan imbang 1-1 oleh Persik Kediri dalam lanjutan Super League pekan ke-16. Meski Maung Bandung sempat unggul dan mendominasi di paruh kedua, kelengahan di menit akhir serta performa gemilang penjaga gawang tuan rumah memaksa anak asuh Bojan Hodak gagal mengudeta puncak klasemen. Laga ini pun menjadi panggung pembuktian bagi beberapa pemain, namun juga menyisakan catatan merah bagi yang lain.
Secara taktis, kedua tim memulai laga dengan pola serupa, yakni 1-4-2-3-1. Namun, efektivitas umpan panjang di babak pertama dinilai masih minim. Persib secara spesifik mencoba mencecar sisi kanan pertahanan Persik yang dikawal Yusuf Meilana. Strategi ini akhirnya membuahkan hasil di babak kedua melalui pergerakan movement of the ball yang cerdik dari Sadil Ramdani setelah memanfaatkan umpan early cross dari Berginho.
Performa "Gila" Kiper Leo dan Magis Hodak
Sorotan utama dalam laga ini jatuh pada kiper Persik Kediri, Leo. Jika bukan karena aksi heroiknya di bawah mistar, Persib diyakini bisa mencetak lebih dari dua gol. Leo berkali-kali mematahkan tendangan keras dari Julio Caesar dan peluang emas lainnya, membuat lini serang Maung Bandung frustrasi.
Di sisi lain, Bojan Hodak kembali menunjukkan "magisnya" dengan melakukan perubahan tempo yang agresif di babak kedua. Strategi ini sebenarnya berhasil membuat Persip menguasai pertandingan di 15 menit awal paruh kedua. Namun, pengamat sepak bola menyoroti mengapa agresivitas ini tidak dimunculkan sejak menit awal. Ketergantungan pada strategi "menghajar lawan di babak kedua" dianggap berisiko tinggi jika tim tidak mampu melakukan kill the game dengan gol kedua.
Catatan untuk Sadil Ramdani dan Ezra Walian
Meskipun mencetak gol pembuka bagi Persib, Sadil Ramdani mendapatkan catatan kritis. Kartu merah yang diterimanya pada menit ke-81 akibat akumulasi kartu kuning dinilai sebagai keteledoran yang merugikan tim. Agresivitas Sadil dianggap masih belum stabil dan perlu peningkatan, terutama dalam pengambilan keputusan saat bertahan agar tidak melakukan pelanggaran yang tidak perlu di momen krusial.
Sementara itu, mantan penggawa Persib yang kini berseragam Persik, Ezra Walian, menuai pujian berkat work rate-nya yang luar biasa. Bermain lebih ke dalam sebagai kreator, Ezra tampil progresif dan lebih berani menusuk dibanding rekan-rekannya di lini tengah Persik. Ezra bahkan menjadi kunci di balik gol penyeimbang Persik di masa injury time.
Fokus Permainan vs Kontroversi Wasit
Menanggapi kontroversi kepemimpinan wasit di akhir laga, pelatih Bojan Hodak bersikap bijak dengan memilih jalur resmi melalui surat protes ke komite wasit. Meski banyak diskusi mengenai keputusan pengadil, evaluasi internal Persib juga tertuju pada penyelesaian akhir yang kurang klinis.
"Persib sebenarnya bisa menciptakan 2-3 gol, tapi tidak klinis saja di depan gawang," ungkap pengamat dalam ulasan taktisnya. Jadwal padat di level Asia menuntut Persib untuk bisa memenangkan pertandingan dengan selisih gol yang lebih aman agar rotasi pemain bisa berjalan optimal. Dengan hasil imbang ini, Maung Bandung kini harus segera berbenah untuk menjaga stabilitas permainan di sisa musim 2025-2026.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama