BLITAR KAWENTAR - Kabar Ruben Amorim dipecat Manchester United akhirnya menjadi kenyataan. Kalimat yang sebelumnya terdengar seperti guyonan itu resmi diumumkan klub pada Senin, 5 Januari 2026. Pemecatan ini datang hanya beberapa hari setelah Manchester United kehilangan sosok penting lain di jajaran manajemen, membuat situasi internal klub semakin bergejolak.
Pemecatan Ruben Amorim dipecat Manchester United langsung memicu spekulasi luas. Banyak pihak menuding komentar emosional sang pelatih di konferensi pers sebagai penyebab utama. Namun, apakah benar manajemen Setan Merah hanya bereaksi terhadap satu momen ledakan emosi semata?
Ditunjuk dengan Harapan Besar
Ruben Amorim resmi ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada November 2024, menggantikan Erik ten Hag yang lebih dulu didepak. Datang dari Sporting CP dengan reputasi taktik modern dan karakter kuat, Amorim digadang-gadang menjadi sosok pembawa perubahan di Old Trafford.
Namun, musim pertamanya justru menjadi mimpi buruk. Manchester United finis di peringkat ke-15 Premier League 2024-2025. Meski sempat mencapai final Liga Europa, Setan Merah kembali gagal setelah kalah dari Tottenham Hotspur. Catatan ini menjadi noda awal yang sulit dihapus.
Belanja Besar, Hasil Tak Stabil
Memasuki musim 2025-2026, manajemen sebenarnya menunjukkan dukungan penuh. Dana lebih dari 250 juta euro digelontorkan untuk mendatangkan sejumlah pemain baru, termasuk nama-nama yang direkomendasikan Amorim.
Perlahan, performa tim memang membaik. Hingga pekan ke-20, Manchester United duduk di posisi keenam klasemen dengan 31 poin. Namun inkonsistensi tetap menghantui. Dalam tujuh laga terakhir, United hanya meraih dua kemenangan, menyia-nyiakan peluang menembus empat besar.
Gesekan dengan Manajemen
Di balik performa di lapangan, hubungan Amorim dengan manajemen mulai retak. Pelatih asal Portugal itu disebut memiliki pandangan berbeda terkait kebijakan transfer. Amorim ingin mendatangkan gelandang bertahan sebagai prioritas, sementara manajemen menilai penyerang lebih mendesak.
Ketegangan memuncak di bursa transfer musim dingin. Keinginan Amorim mendatangkan gelandang baru kabarnya ditolak direktur olahraga Jason Wilcox. Sejak saat itu, hubungan keduanya disebut memburuk secara signifikan.
Konferensi Pers yang Jadi Titik Balik
Situasi memanas setelah laga imbang kontra Leeds. Dalam konferensi pers, Amorim meluapkan kekesalannya. Ia menegaskan dirinya datang sebagai manajer penuh Manchester United, bukan sekadar pelatih di pinggir lapangan.
Pernyataan tersebut dianggap menyindir manajemen, scouting, hingga direktur olahraga. Amorim bahkan menyebut masa kerjanya hanya akan berjalan 18 bulan sebelum “semua orang move on”. Ucapan itu langsung menyulut rumor bahwa posisinya berada di ujung tanduk.
Alasan Resmi Pemecatan
Tak sampai 24 jam setelah insiden itu, Manchester United resmi mengumumkan pemecatan Amorim melalui situs klub. Dalam pernyataan resmi, United menyebut posisi keenam klasemen sebagai alasan utama. Manajemen menilai skuad seharusnya mampu bersaing lebih tinggi dan perubahan harus segera dilakukan.
Meski komentar di konferensi pers menjadi sorotan, laporan menyebut masalah Amorim jauh lebih kompleks. Sky Sports mengungkap adanya pertemuan internal pada 2 Januari 2026 yang membahas taktik dan sistem permainan.
Statistik yang Tak Membela
Dalam meeting tersebut, Amorim disebut bereaksi emosional saat diminta lebih fleksibel dengan formasi 3-4-3 andalannya. Manajemen sebenarnya tidak mempermasalahkan skema, hanya meminta adaptasi situasional.
Sayangnya, Amorim tak memiliki prestasi yang cukup kuat sebagai tameng. Selama melatih United di Premier League, ia hanya mencatatkan 15 kemenangan dan 19 kekalahan, dengan rata-rata 1,23 poin per laga. Itu menjadi rekor terburuk pelatih Manchester United di era Premier League.
Era Amorim Resmi Berakhir
Pasca Ruben Amorim dipecat Manchester United, klub menunjuk Darren Fletcher sebagai pelatih interim hingga musim panas. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, namun mencerminkan betapa kerasnya tekanan di kursi panas Old Trafford.
Apakah pemecatan ini keputusan tepat atau justru langkah tergesa-gesa? Waktu yang akan menjawab.
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi