BLITAR – Malaysia Open 2026 menghadirkan cerita tak terduga sejak babak awal. Sorotan utama tertuju pada ganda putra Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri, yang sukses membalikkan keadaan secara dramatis dan mengubah peta persaingan turnamen level Super 1000 tersebut. Kemenangan ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan penegasan bahwa duet baru Indonesia mulai menemukan bentuk terbaiknya.
Di arena Malaysia Open 2026, Fajar dan Fikri datang membawa beban besar. Pasangan kembar Taiwan, Livang Chih dan Livang Zen, selama ini dikenal sebagai lawan yang kerap menjadi batu sandungan, bahkan sejak Fajar masih berpasangan dengan Muhammad Rian Ardianto. Laga babak pertama pun terasa seperti ujian identitas bagi proyek duet baru ganda putra Indonesia.
Game pertama menjadi gambaran tekanan itu. Fajar/Fikri sempat unggul, namun kehilangan momentum dan harus menyerah tipis 24-26. Kesalahan sendiri dan reli panjang membuat pertandingan terasa berat, memunculkan bayang-bayang kegagalan yang pernah terjadi di turnamen besar sebelumnya.
Perubahan Ritme Jadi Titik Balik
Alih-alih terpancing adu cepat, Fikri mengajak bermain lebih tenang. Strategi diubah. Tempo ditahan, bola diarahkan lebih sabar, dan kesalahan lawan mulai dipancing. Hasilnya terlihat jelas di game kedua. Fajar/Fikri tampil dominan dan menutup set dengan skor telak 21-4, membuat penonton terdiam.
Dominasi itu berlanjut di game penentuan. Reli-reli panjang membuat pasangan Taiwan kehilangan kesabaran. Skor 21-8 menjadi bukti bahwa kemenangan ini lahir dari pembacaan pola permainan, bukan sekadar keberuntungan. Fajar menyebut kemenangan ini sebagai “oksigen” di awal musim 2026 setelah periode tanpa gelar.
Menurut Fajar, pasangan Taiwan bermain sangat aman dengan pertahanan rapat. Namun justru pola itu bisa dibongkar dengan akurasi dan kontrol emosi, bukan power dan speed. Fikri menambahkan, kesabaran menjadi kunci karena shuttlecock terasa semakin berat setelah reli panjang.
Asa Ganda Putra Indonesia Menyala
Kemenangan ini memastikan tiket babak 16 besar Malaysia Open 2026 bagi Fajar/Fikri. Indonesia bahkan menempatkan dua wakil di sektor ganda putra setelah Sabar Karyaman Gutama dan Muhammad Reza Pahlevi Isfahani juga melaju. Sabar/Reza menang meyakinkan di laga derbi sesama Indonesia, menegaskan bahwa regenerasi ganda putra masih berjalan.
Namun tantangan belum usai. Di babak berikutnya, Fajar/Fikri kembali bertemu wakil Taiwan, Chenzirai dan Lin Yuch. Karakter lawan berbeda, lebih agresif, sehingga strategi sabar harus diracik ulang. Fajar menekankan pentingnya recovery, stretching, dan disiplin menjaga kondisi fisik setelah laga panjang.
Drama Drawing dan Tekanan Internal
Malaysia Open 2026 juga diwarnai drama drawing sejak hari pertama. Dua pasangan ganda putra Indonesia, Sabar/Reza dan Raymond Indra/Nikolaus Joakin, harus saling berhadapan. Duel ini memaksa satu wakil Indonesia tersingkir lebih awal, meski sama-sama datang dengan kepercayaan diri tinggi.
Sabar/Reza membawa status juara SEA Games 2025, sementara Raymond/Joakin hadir sebagai debutan di level Super 1000 dengan progres menjanjikan. Kedekatan mereka di latihan justru membuat laga berlangsung sarat tekanan psikologis, dengan reli panjang dan perang servis menjadi penentu.
Pusat Drama Malaysia Open
Sejarah mencatat sektor ganda putra selalu menjadi pusat drama Malaysia Open. Terakhir kali Indonesia juara terjadi pada edisi 2023 melalui Fajar/Rian. Kini, publik menaruh harapan pada generasi berikutnya, termasuk duet Fajar/Fikri yang mulai menunjukkan kematangan strategi.
Malaysia Open 2026 bukan sekadar turnamen pembuka tahun, melainkan panggung penentuan arah. Ketika Fajar dan Fikri berhasil menemukan celah dari pola aman lawan, peta persaingan pun berubah. Pertanyaannya kini, apakah konsistensi itu mampu bertahan hingga laga-laga besar berikutnya, atau hanya menjadi kilatan awal musim. (*)
Editor : Vicky Hernanda