BLITAR KAWENTAR-Persebaya Surabaya menutup putaran pertama BRI Super League 2025/2026 dengan kemenangan penting yang sarat makna. Bermain di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Green Force sukses mengamankan tiga poin di bawah arahan pelatih anyar Bernardo Tavares. Hasil ini menjadi simbol perubahan arah dan sinyal kebangkitan Persebaya jelang putaran kedua.
Kemenangan ini terasa istimewa karena menghadapi Malut United, tim yang tengah on fire dan belum tersentuh kekalahan dalam 11 laga terakhir. Datang dengan kepercayaan diri tinggi, Malut United justru harus menerima kenyataan pahit di Surabaya. Persebaya menghentikan laju impresif mereka dengan cara yang sederhana, disiplin, dan efektif.
Dalam laga ini, Persebaya tidak tampil dominan secara penguasaan bola. Tidak ada permainan atraktif berlebihan atau umpan-umpan cantik. Strategi Bernardo Tavares sangat jelas: bertahan rapat, menunggu momen, lalu menghukum lewat serangan balik cepat. Pendekatan ini membuktikan bahwa di level kompetisi tertinggi, kemenangan adalah prioritas utama.
Filosofi Baru Bernardo Tavares
Laga ini menandai kontras tajam perjalanan Persebaya di putaran pertama. Jika awal musim mereka dibuka dengan kekalahan dari mantan pelatih Eduardo Perez, kini putaran pertama ditutup dengan kemenangan bersama pelatih baru. Dari kalah di awal, menjadi menang di akhir.
Bernardo Tavares menunjukkan bahwa dirinya paham betul karakter kompetisi. Ia menanamkan kedisiplinan, efisiensi, dan mental bertanding yang kuat. Tanpa harus bermain indah, Persebaya mampu tampil mematikan. Sebuah filosofi realistis yang mulai diterima oleh publik GBT.
Tiga Pemain Brasil, Pesan Tegas Manajemen
Sebelum pertandingan dimulai, atmosfer Stadion Gelora Bung Tomo sudah memanas. Bukan karena kick-off, melainkan karena pengumuman resmi tiga pemain asing anyar Persebaya, semuanya berasal dari Brasil.
Tiga nama tersebut adalah Diego Paraiba (striker), Jefferson Da Silva (bek kiri), dan Gustavo Fernandez (bek tengah). Ketiganya menempati posisi krusial dalam skema tim.
Diego Paraiba diproyeksikan sebagai target man di lini depan, kuat dalam duel dan memiliki naluri mencetak gol. Jefferson Da Silva bukan hanya bertahan, tetapi agresif membantu serangan dari sisi kiri. Sementara Gustavo Fernandez hadir sebagai palang pintu yang tenang, disiplin, dan kuat di jantung pertahanan.
Kehadiran tiga pemain Brasil ini bukan sekadar tambalan. Ini adalah pesan tegas manajemen bahwa Persebaya tidak ingin hanya bertahan di papan tengah. Klub sedang membangun fondasi untuk naik level di era Bernardo Tavares.
Gali Freitas, Bintang Malam di GBT
Namun sorotan utama laga ini jatuh pada satu nama: Gali Freitas. Pemain berusia 21 tahun asal Timor Leste tersebut tampil luar biasa dan menjadi penentu kemenangan Persebaya dengan dua gol (brace).
Gali Freitas tampil tajam, efektif, dan mematikan. Bukan sekadar cepat atau kuat, ia menunjukkan kecerdasan membaca ruang dan ketenangan dalam menyelesaikan peluang. Strategi Bernardo Tavares benar-benar memaksimalkan potensinya dengan peran melebar, menyerang ruang kosong, dan mengeksekusi peluang dengan dingin.
Hingga akhir putaran pertama, Gali Freitas telah mencetak empat gol bersama Persebaya. Catatan ini semakin istimewa mengingat perannya yang juga aktif bekerja tanpa bola. Kini pertanyaannya bukan lagi siapa Gali Freitas, melainkan siapa yang mampu menghentikannya.
Diego Mauricio di Persimpangan
Di tengah sorotan pada Gali Freitas, satu nama justru berada di bawah tekanan: Diego Mauricio. Striker asal Brasil tersebut hingga akhir putaran pertama belum mencetak satu gol pun. Untuk ukuran striker asing, situasi ini jelas menjadi alarm keras.
Bukan berarti Diego Mauricio pemain buruk, tetapi sepak bola profesional tidak mengenal reputasi tanpa kontribusi nyata. Dengan performa Gali Freitas yang sedang panas serta kedatangan Diego Paraiba, persaingan di lini depan Persebaya kini semakin ketat.
Putaran kedua akan menjadi momen penentuan bagi Diego Mauricio: bangkit dan menjawab kepercayaan, atau tergeser oleh kompetisi internal.
Ancaman Nyata di Putaran Kedua
Menutup putaran pertama dengan kemenangan, pelatih baru dengan filosofi jelas, tambahan pemain berkualitas, serta bintang muda yang sedang on fire, Persebaya Surabaya kini siap menjadi ancaman serius di putaran kedua.
Satu hal yang pasti, Persebaya di paruh musim selanjutnya bukan lagi tim yang sama. Rival-rivalnya patut mulai waspada.
Editor : Ichaa Melinda Putri