BLITAR – Pengamat sepak bola sekaligus tokoh Bobotoh, Eko Maung, memberikan ulasan tajam terkait dinamika yang tengah menyelimuti Persib Bandung. Dalam sebuah diskusi mendalam, Eko tidak hanya menyoroti rumor hengkangnya bek asal Italia, Federico Barba, tetapi juga meluruskan sejarah panjang rivalitas antara suporter Persib dan Persija Jakarta yang selama ini sering disalahpahami oleh publik.
Terkait kabar kepergian Federico Barba, Eko Maung menilai bahwa secara rasional, pemain dengan rekam jejak karier yang tertib seperti Barba pasti akan memilih kembali ke Eropa jika ada kesempatan, apalagi ke negara asalnya, Italia. Namun, ia memberikan komentar pedas mengenai performa sang bek di lapangan. Menurutnya, popularitas Barba di kalangan netizen lebih didorong oleh faktor ketampanan daripada kualitas permainan yang istimewa.
"Barba Mainnya Biasa Saja"
"Pikirkan Barba ini, kalau saya lihat dari perspektif netizen, cewek-cewek senang dia karena ganteng saja. Kalau main mah biasa saja saya pikir mah, banyak yang bisa gantiin, tenang saja," ujar Eko Maung dengan lugas. Ia menambahkan bahwa bagi pemain profesional seperti Barba, kembali ke Italia adalah langkah karier yang lebih masuk akal daripada bertahan lama di Indonesia, kecuali jika ia sudah berada di pengujung usia produktif.
Eko juga menekankan bahwa posisi yang ditinggalkan Barba bukanlah masalah besar bagi Persib Bandung. Ia justru lebih mengkhawatirkan lini depan Maung Bandung yang dinilai masih minim produktivitas dibandingkan era Ciro Alves dan David da Silva (DDS). "Persib ini bisa tergopoh-gopoh kalau tidak punya lagi pemain bagus di depan. Ramon (Rodriguez) panasnya terlambat, kita butuh predator yang haus gol untuk bersaing di liga maupun Asia," tegasnya.
Meluruskan Sejarah Rivalitas Bobotoh-The Jakmania
Selain masalah transfer, Eko Maung meluruskan mitos yang menyebut rivalitas Persib-Persija dimulai dari kuis "Siapa Berani". Ia memberikan kesaksian langsung bahwa benih permusuhan fisik yang masif bermula pada tahun 1999 atau 2000 di Stadion Siliwangi. Saat itu, ribuan Bobotoh tidak bisa masuk stadion, sementara delapan bus suporter Persija (The Jakmania) tiba di Bandung. Ketidaksiapan kedua belah pihak menerima kehadiran suporter tamu memicu bentrokan besar di sekitar Jalan Manado.
Rivalitas ini kemudian meluas pada tahun 2002-2003. Awalnya, perselisihan hanya terjadi antara kelompok Viking dan The Jakmania. Namun, insiden sweeping di Lebak Bulus yang menyasar seluruh pendukung berkaos biru, tanpa memandang kelompok, akhirnya memicu solidaritas seluruh elemen Bobotoh untuk ikut dalam perseteruan tersebut.
Fokus Asia Lebih Urgen daripada Hattrick Juara
Menanggapi pilihan antara meraih hattrick juara liga atau melangkah jauh di AFC Champions League (ACL) 2, Eko Maung secara mengejutkan lebih memilih prestasi di Asia. Menurutnya, tampil di level internasional adalah etalase bisnis dan prestasi yang sangat berharga bagi nama besar Persib Bandung.
"Persib juara liga saya yakin 10 tahun ke depan pun tiap tahun jadi kandidat. Tapi ke Asia sampai step sekarang dan ada peluang berhadapan dengan Al-Nassr, itu kesempatan terbaik yang belum tentu datang lagi musim depan," tutupnya. Kini, keputusan untuk memperkuat tim di bursa transfer tengah musim menjadi kunci apakah Persib mampu berbicara banyak di babak 16 besar ACL 2 nanti.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama