BLITAR – Sebuah pemandangan bersejarah tersaji dalam lanjutan BRI Liga 1 musim ini saat Arema FC menjamu Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Malang. Setelah hampir dua dekade atau sekitar 20 tahun saling membatasi kunjungan, dua basis suporter terbesar di Indonesia, Aremania dan Bobotoh, akhirnya resmi membuka lembaran baru dengan duduk bersama dalam satu tribun pada 11 September lalu.
Momen perdamaian ini menjadi angin segar bagi sepak bola nasional, mengingat hubungan kedua kelompok suporter sempat memanas dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun tidak pernah terjadi bentrokan besar secara langsung, rivalitas yang tinggi membuat kehadiran pendukung tim tamu di kandang masing-masing menjadi hal yang sulit terwujud selama bertahun-tahun.
Itikad Baik Bobotoh Sambut Kuota Tim Tamu
Langkah positif ini diawali oleh keputusan manajemen Arema FC yang memberikan kuota kepada pendukung tim tamu sesuai dengan regulasi kompetisi yang berlaku. Keputusan ini disambut hangat oleh elemen suporter Persib Bandung, termasuk Viking Persib Club, yang menunjukkan itikad baik untuk menjalin komunikasi langsung dengan pihak Aremania di Malang.
Awalnya, banyak pihak di Malang yang sempat terkejut dengan keberanian manajemen membuka pintu bagi pendukung Maung Bandung. Namun, melalui komunikasi yang intens dan terbuka, Aremania akhirnya membuka diri untuk menyambut kehadiran Bobotoh. "Karena dari Bobotoh ada itikad baik ke sana untuk berkomunikasi, akhirnya mereka pun membuka diri," ujar laporan terkait pertemuan tersebut.
Komitmen Balasan di Putaran Kedua
Harmonisasi ini tidak hanya berhenti di Malang. Sebagai bentuk apresiasi atas sambutan hangat Aremania, Bobotoh dan Viking telah berkomitmen untuk memberikan sambutan serupa saat Arema FC bertandang ke Bandung pada putaran kedua nanti. Tradisi saling mengunjungi ini diharapkan dapat terus terjaga dan menjadi budaya baru dalam sepak bola Indonesia.
Terciptanya perdamaian antara Bobotoh Persib Bandung dan Aremania ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata bagi kelompok suporter lain di tanah air. Bahwa rivalitas hanya berlangsung selama 90 menit di lapangan hijau, sementara di luar itu, semangat sportivitas dan perdamaian harus tetap menjadi prioritas utama demi kemajuan industri olahraga profesional di Indonesia.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama