BLITAR – Tekanan besar tengah menyelimuti internal Arema FC menjelang putaran kedua kompetisi. Manajemen Singo Edan memberikan sinyal kuat akan adanya perombakan besar-besaran setelah performa tim dinilai meleset dari target awal musim. Tidak hanya pemain, jajaran tim pelatih kini masuk dalam radar evaluasi serius manajemen menyusul posisi tim yang masih tertahan di papan tengah.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan bahwa posisi tim pelatih saat ini tidak berada di zona aman. Target yang dipatok untuk menembus lima besar klasemen sementara gagal terealisasi, di mana Arema FC justru terdampar di peringkat ke-10. "Kalau tim pelatih tidak bisa fokus, tentu akan dievaluasi. Kami tidak diam, pasti ada langkah korektif agar tim kembali ke jalur yang diharapkan," tegas Inal.
Perburuan Gustavo Franca: Arema FC vs PSS Sleman
Di tengah kabar evaluasi tim, bursa transfer Arema FC kembali memanas dengan mencuatnya nama Gustavo Franca. Gelandang asal Brasil yang masa depannya di Persija Jakarta kian tak pasti ini menjadi komoditas panas. Franca dikabarkan tengah berada di persimpangan antara bergabung dengan PSS Sleman atau memilih Arema FC yang menawarkan level kompetisi tertinggi di Super League.
Pemain berusia 27 tahun ini memiliki nilai pasar yang cukup fantastis, yakni menyentuh angka Rp4,78 miliar. Meski performanya di Persija kerap naik-turun, kualitas Franca dalam menambah dinamika serangan dan kreativitas lini tengah dinilai sangat cocok dengan kebutuhan Singo Edan untuk mendongkrak posisi di putaran kedua.
Sinyal Perpisahan dengan Yan Mota
Selain rencana mendatangkan pemain baru, sinyal perombakan di lini pertahanan juga semakin kuat. Bek asal Brasil, Yan Mota, dikabarkan bakal segera meninggalkan Malang. Indikasi ini terlihat jelas setelah pemain berpostur 190 cm tersebut absen dari skuad Arema FC dalam tiga pertandingan terakhir.
Sejak bergabung, Mota baru mencatatkan enam penampilan dan sempat mengoleksi satu kartu merah saat laga kontra PSIM Yogyakarta, yang turut memperburuk penilaian terhadap performanya. Minimnya kontribusi bek berusia 26 tahun ini membuat manajemen mempertimbangkan untuk mencari bek asing baru yang lebih kokoh guna mengawal jantung pertahanan di putaran kedua.
"Semua harus dipikirkan dalam evaluasi ini. Kami pastikan evaluasi ini terukur dan tertakar," tutup Yusrinal Fitriandi mengenai nasib para pemain asingnya. Putaran kedua Super League 2025-2026 diprediksi akan menjadi panggung pembuktian bagi skuad Singo Edan yang baru.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama