BLITAR KAWENTAR - Keutamaan puasa Ramadan menjadi tema utama dalam tausiyah yang mengajak umat Islam untuk menjalani ibadah puasa dengan penuh kesadaran, keimanan, dan harapan pahala hanya dari Allah SWT. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi ibadah agung yang menjadi jalan pengampunan dosa serta peluang besar meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa Ramadan adalah bulan suci yang dipilih Allah sebagai momentum pembentukan insan bertakwa. Setiap Muslim diingatkan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, karena nilai ibadah di bulan Ramadan memiliki keutamaan luar biasa dibanding bulan lainnya.
Keutamaan puasa Ramadan yang paling utama adalah dilakukannya dengan imanan wahtisaban, yakni penuh keimanan dan mengharap pahala hanya dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Imanan berarti meyakini bahwa puasa adalah perintah Allah dan pertolongan hanya datang dari-Nya. Sementara wahtisaban bermakna mengharapkan pahala semata-mata dari Allah, bukan demi pujian, pengakuan sosial, atau kepentingan duniawi.
Keutamaan puasa Ramadan berikutnya adalah sebagai sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Dalam penjelasan para ulama, pengampunan ini mencakup dosa-dosa kecil. Meski demikian, dosa kecil tidak boleh diremehkan, sebab akumulasi dosa yang belum diampuni dapat menjadi penghalang masuk surga.
Adapun dosa besar tetap membutuhkan taubat khusus yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, Ramadan menjadi momen tepat untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Keutamaan puasa Ramadan juga berkaitan erat dengan Lailatul Qadar. Malam istimewa ini disebut lebih baik dari seribu bulan. Siapa pun yang beribadah dan bertemu Lailatul Qadar dalam keadaan taat kepada Allah, maka nilai ibadahnya setara dengan lebih dari 83 tahun amal kebaikan.
Lailatul Qadar diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Namun, dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa orang yang menghidupkan seluruh Ramadan dengan ibadah memiliki peluang besar untuk meraihnya, bahkan tanpa disadari.
Salah satu keutamaan puasa Ramadan yang jarang disadari adalah bahwa aktivitas sehari-hari bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Selama mayoritas waktu diisi dengan ketaatan, bahkan tidur karena lelah beribadah pun dicatat sebagai amal.
Hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah di bulan Ramadan. Orang yang menjaga puasanya, memperbanyak ibadah, dan menjauhi maksiat berpeluang mendapatkan nilai ibadah sepanjang hari.
Puasa Ramadan tidak hanya dilakukan di siang hari, tetapi juga diiringi dengan menghidupkan malam-malamnya. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa siapa yang menegakkan ibadah malam di bulan Ramadan dengan iman dan harapan pahala, maka dosa-dosanya akan diampuni.
Menghidupkan malam Ramadan tidak terbatas pada salat tarawih. Membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan melakukan salat malam juga termasuk bentuk ibadah yang sangat dianjurkan.
Dalam tausiyah tersebut juga diingatkan bahwa meninggalkan puasa Ramadan tanpa uzur syar’i merupakan dosa besar. Puasa hanya boleh ditinggalkan karena alasan yang dibenarkan agama, seperti sakit atau perjalanan jauh, dan wajib diganti di hari lain.
Keutamaan puasa Ramadan akan hilang jika ibadah ini dijalani dengan main-main atau sengaja ditinggalkan. Karena itu, umat Islam diajak untuk serius menjaga puasa, salat, sedekah, dan seluruh amal ibadah selama Ramadan.
Melalui pemahaman tentang keutamaan puasa Ramadan, diharapkan umat Islam dapat menjadikan Ramadan sebagai bulan perubahan, pengampunan dosa, dan jalan menuju kemuliaan dunia serta akhirat.
Editor : Anggi Septiani