BLITAR KAWENTAR - Dibalik media sosial yang kerap dipenuhi konten sensasional, Mahira Diffa Rahma Hida memilih jalan yang berbeda. Bagi perempuan muda warga Kecamatan Sananwetan ini, pengaruh bukan soal popularitas, melainkan tentang keberanian menghadirkan perubahan.
Dari kegelisahan personal itulah lahir Influencer Berdampak Indonesia, sebuah komunitas yang menjadikan empati sebagai fondasi gerakan.
Sejak duduk di bangku SMP, dunia organisasi telah menjadi bagian dari hidupnya. OSIS, organisasi kepemudaan, hingga jejaring nasional menjadi ruang belajar yang membentuk cara pandangnya.
Isu pendidikan, perempuan, anak, dan kepemudaan ia temui bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai realitas yang menuntut kehadiran solusi.
“Organisasi mengajarkan saya banyak hal yang tidak saya dapatkan di kelas,” ujarnya.
Dari sanalah tumbuh keyakinan bahwa perubahan selalu lahir dari kerja bersama. Misi personal Mahira mulai menemukan bentuk ketika dia kembali ke Blitar usai menyelesaikan penelitian di Jakarta.
Niat awalnya sederhana: membuka kelas public speaking gratis bagi anak muda yang menghubunginya lewat media sosial.
Namun realitas di lapangan mengubah segalanya. Data tentang ribuan siswa putus sekolah di Blitar menjadi tamparan keras.
Baginya, masalah ini bukan sekadar statistik, melainkan potret anak-anak yang kehilangan ruang aman untuk tumbuh.
Kelas public speaking pun bertransformasi. Tak lagi sebatas teknik berbicara, melainkan ruang dialog dan pemulihan. Anak-anak muda datang membawa cerita, luka, dan keresahan—termasuk pengalaman menjadi korban bullying.
Dari pertemuan kecil pada 13 Juli 2025 itulah, Mahira bersama rekan-rekannya menyadari bahwa mereka sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar kelas pelatihan.
Influencer Berdampak Indonesia lahir dari kesadaran tersebut.
Mahira menegaskan, influencer bukan ditentukan oleh jumlah pengikut, tetapi oleh seberapa besar pengaruh positif yang diberikan. Prinsip ini menjadi napas setiap program yang dijalankan.
Salah satu wujud paling nyata dari misi personal Mahira adalah program Sahabat Ceria. Program pendampingan anti-bullying ini menyasar pelajar SMP dengan pendekatan empatik dan partisipatif.
Anak-anak diajak mengenali emosi, memahami empati, dan yang terpenting, berani bersuara.
Bagi Mahira, menciptakan ruang aman adalah langkah awal untuk memutus rantai kekerasan psikologis di lingkungan sekolah.
Hingga kini, lebih dari 600 pelajar telah merasakan dampak Sahabat Ceria. Banyak di antaranya yang sebelumnya memilih diam, kini berani mengungkapkan isi hati.
Dampaknya terasa nyata, bahkan sejumlah sekolah telah mengantre untuk program serupa tahun depan. (sub/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah