BLITAR KAWENTAR - Rumor Persebaya Surabaya terbaru kembali memanaskan denyut nadi Bonekmania. Memasuki fase krusial musim Super League 2025–2026, Bajul Ijo dihadapkan pada sejumlah persoalan penting yang tak bisa ditunda. Mulai dari kontrak dua pemain asing andalan yang menipis, munculnya sosok supersub yang kian vital, hingga ancaman laga tandang penuh jebakan di awal putaran kedua.
Sorotan utama dalam rumor Persebaya Surabaya terbaru tertuju pada masa depan Bruno Morera dan Francisco Rivera. Dua pilar asing tersebut dipastikan akan mengakhiri kontraknya pada akhir musim ini. Situasi ini otomatis memicu kekhawatiran. Jika manajemen terlambat bergerak, risiko kehilangan aset berharga semakin terbuka lebar.
Kontrak Bruno dan Rivera Masuk Fase Kritis
Kontrak yang kian menipis membuat posisi Persebaya berada di persimpangan. Jika hingga pertengahan musim tak ada perpanjangan, Bruno dan Rivera berhak membuka negosiasi dengan klub lain. Aturan ini menjadi alarm keras bagi manajemen agar tak lengah menjaga stabilitas tim.
Bruno Morera selama ini dikenal sebagai motor serangan Persebaya Surabaya. Pemain asal Brasil itu tampil konsisten dan nyaris tak tergantikan. Catatan statistiknya mencerminkan peran vital tersebut. Bruno telah mengoleksi 1.437 menit bermain dan hanya sekali absen. Kontribusinya juga nyata lewat tujuh gol dan assist yang berdampak langsung pada performa tim.
Sementara itu, Francisco Rivera memegang peran sentral di lini tengah. Meski baru tampil 13 kali, gelandang asing ini sudah mencatatkan 1.150 menit bermain dengan torehan empat gol dan lima assist. Rivera dikenal piawai mengatur tempo, membuka ruang, serta menjadi penghubung antar lini. Kehadirannya memberi dimensi berbeda dalam permainan Bajul Ijo.
Dengan kontribusi sebesar itu, melepas Bruno dan Rivera tanpa kejelasan masa depan jelas menjadi kerugian besar. Langkah perpanjangan kontrak bukan sekadar menjaga kekuatan tim, tetapi juga sinyal keseriusan manajemen dalam membangun proyek jangka panjang menuju skuad satu abad Persebaya.
Gali Freitas, Supersub yang Berubah Jadi Juru Selamat
Di tengah isu kontrak pemain asing, rumor Persebaya Surabaya terbaru juga diwarnai cerita menarik tentang Gali Freitas. Datang tanpa banyak gembar-gembor, pemain ini justru menjelma menjadi supersub yang kerap menjadi pembeda.
Sepanjang putaran pertama Super League 2025–2026, Gali Freitas mencatatkan 16 penampilan dengan total 883 menit bermain. Dari durasi tersebut, ia mampu menyumbang empat gol dan tiga assist. Efisiensinya patut diacungi jempol, terutama saat dimainkan dari bangku cadangan.
Dari enam kali masuk sebagai pemain pengganti dengan total 121 menit bermain, Gali mencetak satu gol dan satu assist yang berdampak langsung. Ia dikenal agresif, cepat membaca celah pertahanan lawan, dan berani mengambil keputusan krusial.
Momen terbaik Gali hadir di pekan ke-17 saat Persebaya menutup putaran pertama. Turun sebagai starter, ia mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 atas Malut United. Penampilan tersebut menegaskan bahwa Gali bukan hanya andalan dari bench, tetapi juga siap bersinar sejak menit awal.
Waspada Jebakan PSIM di Awal Putaran Kedua
Tantangan Persebaya belum berhenti. Awal putaran kedua menghadirkan laga tandang ke kandang PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung Bantul, Minggu (25/1/2026). Meski tuan rumah datang dengan kondisi pincang, potensi jebakan tetap mengintai.
Bek PSIM, Franco Ramos Mingo, dipastikan absen akibat kartu merah. Selain itu, kondisi Anton Fase dan Yusaku Yamadera juga masih diragukan karena cedera. Situasi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Rasa percaya diri berlebih justru berpotensi membuat Persebaya lengah.
Dalam sepak bola, tim dengan keterbatasan kerap tampil tanpa beban dan mampu memberi kejutan. Karena itu, Persebaya dituntut tetap disiplin, fokus, dan tidak meremehkan lawan. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal di laga tandang yang sarat tekanan.
Kini, bola berada di tangan manajemen dan tim. Keputusan cepat soal kontrak, pemanfaatan kedalaman skuad, serta kesiapan mental di lapangan akan sangat menentukan arah perjalanan Persebaya ke depan. Ojo sampai lepas.
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi