BLITAR – Denda Arema FC kembali bertambah setelah Komite Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi terbaru terkait insiden penyalaan kembang api jelang laga kandang pada 11 Januari lalu. Hukuman ini membuat total denda Arema FC selama putaran pertama kompetisi menembus angka Rp200 juta, sebuah jumlah yang dinilai sangat memberatkan manajemen klub.
Berdasarkan hasil sidang Komdis PSSI terbaru, manajemen Arema FC dikenai denda Rp100 juta. Selain itu, panitia pelaksana pertandingan (Panpel) juga dijatuhi sanksi denda sebesar Rp100 juta. Akumulasi tersebut membuat denda Arema FC terus membengkak dalam waktu singkat.
Insiden yang menjadi pemicu sanksi terjadi di area dekat hotel tempat menginap tim lawan asal Kediri. Oknum suporter menyalakan kembang api di sekitar lokasi tersebut, yang kemudian dinilai melanggar Kode Disiplin PSSI terkait aspek keamanan dan kenyamanan tim tamu.
Kronologi Insiden Kembang Api
Dalam pertimbangan Komdis PSSI, insiden penyalaan kembang api tersebut terjadi sebelum pertandingan digelar. Meski lokasinya berada di luar stadion, peristiwa itu tetap dianggap sebagai bagian dari rangkaian pertandingan resmi.
Komdis menegaskan bahwa regulasi keamanan pertandingan memiliki cakupan yang luas. Tidak hanya insiden yang terjadi di dalam stadion, tetapi juga kejadian sebelum, saat, maupun sesudah laga, termasuk di area penginapan tim lawan, tetap dapat dikenai sanksi.
Keputusan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa pengawasan pertandingan ke depan tidak hanya terfokus pada stadion, melainkan juga titik-titik vital lain yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan laga.
Total Denda Lampaui Musim Lalu
Dengan tambahan sanksi terbaru ini, total denda Arema FC pada putaran pertama kompetisi telah mencapai Rp200 juta. Angka tersebut bahkan sudah melampaui catatan denda musim lalu yang hanya berada di kisaran Rp130 juta hingga pekan ke-33.
Besarnya nominal denda ini menjadi sorotan karena dinilai sebagai kerugian finansial yang cukup signifikan bagi klub. Dana sebesar itu sejatinya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih produktif, seperti pengembangan tim atau peningkatan fasilitas pendukung.
Manajemen Arema FC Tak Ajukan Banding
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyayangkan terjadinya insiden tersebut. Menurutnya, pihak klub sebenarnya telah berupaya maksimal untuk memastikan pertandingan berjalan aman, nyaman, dan kondusif agar tim dapat fokus mengejar tiga poin.
Namun demikian, manajemen Arema FC memutuskan untuk tidak mengajukan banding atas keputusan Komdis PSSI. Hukuman tersebut diterima sepenuhnya sebagai bahan evaluasi menyeluruh bagi klub.
Keputusan tidak mengajukan banding ini diambil agar Arema FC bisa segera berbenah dan melakukan perbaikan, khususnya dalam hal pengamanan serta edukasi terhadap suporter.
Pesan Tegas untuk Suporter
Pihak Komdis PSSI juga memberikan penegasan bahwa euforia dan dukungan suporter tetap diperbolehkan, namun harus berada dalam koridor aturan yang berlaku. Semangat mendukung tim tidak boleh mengorbankan aspek keamanan dan kenyamanan pihak lain.
Kejadian ini diharapkan menjadi pelajaran penting bagi seluruh elemen pendukung Arema FC, khususnya Aremania. Dukungan penuh kepada tim harus tetap disertai dengan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap regulasi.
Jika pelanggaran serupa terus terjadi, klub akan kembali menanggung kerugian finansial yang pada akhirnya berdampak langsung pada perjalanan tim. Arema FC kini memilih fokus berbenah dan bangkit untuk menghadapi laga-laga berikutnya dengan lebih baik.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana