Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania Terungkap: Dari Kesepian Stadion, Lahirnya Suporter Oranye, hingga Panasnya Duel Abadi Lawan Persib

Vicky Hernanda • Rabu, 28 Januari 2026 | 19:05 WIB
Sejarah Rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania Terungkap: Dari Kesepian Stadion, Lahirnya Suporter Oranye, hingga Panasnya Duel Abadi Lawan Persib
Sejarah Rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania Terungkap: Dari Kesepian Stadion, Lahirnya Suporter Oranye, hingga Panasnya Duel Abadi Lawan Persib

BLITAR – Sejarah rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania menjadi sorotan setelah sebuah video YouTube mengulas panjang perjalanan klub ibu kota bersama suporternya. Video tersebut menampilkan bagaimana Persija Jakarta yang dikenal sebagai klub tersukses dengan sembilan gelar Perserikatan dan dua gelar Liga Indonesia, justru sempat mengalami masa sepi dukungan suporter di stadion.

Dalam paparan video, sejarah rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania tidak bisa dilepaskan dari kondisi sebelum tahun 1997. Meski berprestasi, laga-laga Persija kerap digelar di stadion yang lengang. Penonton didominasi keluarga pemain, manajemen, serta segelintir simpatisan. Fanatisme suporter Persija kala itu belum terbentuk secara masif, berbeda jauh dengan basis pendukung klub-klub daerah yang justru mendominasi tribun stadion Jakarta.

Perubahan besar terjadi pada 1997. Tahun tersebut menjadi titik balik sejarah rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania, sekaligus awal hegemoni warna oranye di ibu kota. Keluhan para pendukung loyal seperti Ferry Indra Syarif dan Gugun Gondrong mengenai minimnya basis suporter Persija mendapat respons dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso. Dari sinilah embrio pembentukan The Jakmania bermula.

Lahirnya The Jakmania dan Dukungan Pemerintah

Dalam video dijelaskan, Gugun Gondrong bersama sekitar 40 rekannya merasa miris melihat stadion Jakarta justru dipenuhi pendukung lawan saat Persija berlaga kandang. Ketika melawan PSMS Medan, tribun dipenuhi suporter Medan. Saat menghadapi Persib Bandung, dominasi suporter Sunda terasa kuat. Fenomena ini mendorong pembentukan basis suporter Persija yang solid.

Keluhan tersebut diamini oleh Sutiyoso. Dengan kewenangan sebagai gubernur, ia memberikan dukungan penuh terhadap pembentukan The Jakmania. Gugun Gondrong ditunjuk sebagai ketua umum pertama, sementara Persija secara resmi mengadopsi warna oranye menggantikan merah pada tahun 1997. Dukungan ini juga diperkuat dengan fasilitas, mulai dari distribusi tiket hingga transportasi suporter menuju stadion.

Stadion Jakarta Berubah Wajah

Metode mobilisasi massa terbukti efektif. Tiket dibagikan melalui kelurahan dan posko organisasi masyarakat, bahkan sebagian diberikan gratis. Suporter cukup berkumpul di titik tertentu, lalu diangkut menggunakan bus menuju stadion. Hasilnya, basis pendukung Persija meningkat drastis.

Sejak saat itu, stadion Jakarta tidak lagi dikuasai suporter lawan. The Jakmania menjadi tuan rumah di kotanya sendiri. Atmosfer stadion berubah total, menciptakan tekanan besar bagi tim tamu. Kondisi ini membuat Persija semakin tangguh saat bermain kandang, baik dari sisi mental pemain maupun dukungan tribun.

Awal Panas Rivalitas dengan Persib

Namun, pertumbuhan masif The Jakmania juga memicu gesekan, terutama dengan pendukung Persib Bandung. Salah satu titik awal rivalitas panas terjadi pada laga Persib vs Persija di Stadion Siliwangi Bandung tahun 1999. Kedatangan ratusan The Jakmania di tengah stadion yang sudah penuh memicu kericuhan, baik di luar maupun di dalam stadion.

Sejak insiden tersebut, rivalitas Persija Jakarta dan Persib Bandung kian memanas. Bentrokan tidak hanya terjadi di stadion, tetapi juga di luar konteks pertandingan. Media turut memperbesar tensi, sementara produksi merchandise bernuansa kebencian semakin memperkeruh suasana.

Deretan Tragedi dalam Rivalitas

Video tersebut juga mengulas berbagai tragedi yang mengiringi sejarah rivalitas Persija Jakarta dan The Jakmania. Mulai dari Persib yang memilih walk out pada 2005 karena alasan keamanan, hingga sejumlah korban jiwa dari kedua kubu dalam rentang 2012–2018. Nama-nama seperti Rangga Cipta Nugraha, Haringga Sirila, hingga Rico Andrean disebut sebagai bukti nyata betapa panas dan berbahayanya rivalitas ini.

Puncaknya, rivalitas Persija dan Persib disebut sebagai salah satu yang paling keras di dunia sepak bola. Api permusuhan yang terus berbalas membuat setiap pertemuan kedua tim selalu berada dalam pengawasan ketat aparat keamanan.

Persija, Sejarah Panjang dan Identitas

Di bagian akhir, video juga menyinggung sejarah panjang Persija Jakarta yang berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Dari era VIJ, perubahan nama menjadi Persija pada 1950, hingga transformasi warna klub dari merah-putih ke oranye pada 1997. Semua perjalanan tersebut membentuk identitas Persija Jakarta seperti yang dikenal saat ini.

Kisah ini menegaskan bahwa The Jakmania dan rivalitasnya lahir dari proses panjang, penuh dinamika, prestasi, fanatisme, dan juga tragedi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Persija Jakarta. (*)

Editor : Vicky Hernanda
#Sejarah Persija #persija jakarta #suporter persija #persija #the jakmania