BLITAR – Isu Unilever ke Persib Bandung kian menguat dan menjadi perbincangan panas publik sepak bola nasional. Setelah delapan musim menjalin kerja sama erat dengan Gudang Garam, Persib Bandung resmi memasuki babak baru dalam perjalanan bisnis dan olahraga mereka. Perpisahan dengan sponsor lama tak dimaknai sebagai kemunduran, melainkan awal dari transformasi besar klub kebanggaan Bobotoh itu.
Kabar Unilever ke Persib Bandung memang belum diumumkan secara resmi oleh manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB). Namun, desas-desus di balik layar menyebut kesepakatan strategis dengan raksasa FMCG dunia tersebut sudah hampir terkunci. Beberapa sumber internal menyebut, pertemuan penting telah melibatkan CEO sekaligus salah satu pemilik utama PBB, Glenn Sugita, bersama deputi CEO dan Direktur Olahraga Adhitia Putra Herawan.
Jika benar Unilever ke Persib Bandung terealisasi, suntikan finansial yang masuk diyakini akan mengubah peta kekuatan ekonomi sepak bola Indonesia. Persib bukan lagi sekadar klub Liga 1, melainkan brand olahraga nasional dengan daya tarik global yang mampu memikat investor kelas dunia.
Magnet Persib di Mata Korporasi Global
Masuknya Unilever disebut hanyalah satu bagian dari skema besar. Tercatat, setidaknya tiga entitas raksasa global kini mengintai peluang investasi saham Persib Bandung. Dua di antaranya merupakan institusi finansial besar yang terafiliasi dengan klub elite Eropa, yakni Allianz dari Jerman yang memiliki kedekatan dengan Bayern Munchen, serta City Football Group (CFG), pemilik Manchester City.
Selain itu, satu nama besar lain yang juga dikabarkan berminat adalah perusahaan pemilik platform e-commerce Shopee, yang terhubung dengan klub Singapura Lion City Sailors. Adhitia Putra Herawan sebelumnya telah membenarkan adanya komunikasi awal dengan beberapa calon investor asing sejak April 2025 lalu.
Situasi ini menegaskan bahwa Persib kini telah berevolusi. Klub asal Kota Kembang tersebut tidak lagi hanya dinilai dari prestasi di lapangan, tetapi juga sebagai aset bisnis olahraga bernilai tinggi yang diperhitungkan di pasar global.
Manajemen Masih Bungkam, Publik Menanti
Meski rumor investasi semakin kencang, manajemen PBB hingga kini memilih bersikap hati-hati dan belum memberikan pernyataan resmi. Sikap bungkam itu justru memicu spekulasi yang lebih luas di kalangan Bobotoh dan pengamat sepak bola nasional.
Pertanyaan besarnya, apakah Persib akan segera mengumumkan kerja sama yang mampu mengubah lanskap finansial sepak bola Asia Tenggara? Jika iya, Maung Bandung berpotensi menjadi pionir klub Indonesia dengan struktur bisnis modern bertaraf internasional.
Radar Transfer Mengarah ke Terence Kongolo
Tak hanya soal sponsor dan investasi, kekuatan finansial Persib juga mulai berdampak langsung ke bursa transfer. Nama Terence Kongolo kini masuk radar utama Maung Bandung. Bek berlabel timnas Belanda itu bukan sosok sembarangan. Ia memiliki pengalaman panjang di level tertinggi Eropa.
Kongolo pernah menjadi pilar di Eredivisie selama lima musim, lalu melanjutkan karier di Ligue 1 bersama AS Monaco dan Le Havre. Ia juga mencicipi kerasnya Premier League bersama Huddersfield Town dan Fulham, sebelum berpetualang ke Austria bersama Rapid Vienna dan terakhir membela NAC Breda.
Status Bebas Transfer, Peluang Terbuka Lebar
Kabar baiknya, per 16 Januari 2026, Terence Kongolo resmi berstatus tanpa klub setelah kontraknya bersama NAC Breda berakhir. Bek bernilai pasar sekitar Rp8 miliar tersebut kini tersedia tanpa biaya transfer, menjadikannya peluang emas bagi Persib.
Dengan dukungan finansial kuat dari sponsor dan calon investor global, Persib hanya perlu menyiapkan paket kontrak kompetitif: gaji menarik, fasilitas kelas atas, serta atmosfer magis Stadion yang dipenuhi puluhan ribu Bobotoh.
Jika negosiasi berjalan mulus, lini pertahanan Persib akan naik level. Kehadiran pemain berpengalaman menghadapi striker-striker Premier League akan menjadi sinyal kuat bagi rival domestik maupun Asia. Persib tak lagi bicara soal bertahan, melainkan mendominasi.
Maung Bandung kini mengaum bukan hanya di lapangan hijau, tetapi juga di ruang rapat para petinggi korporasi dunia. Semua mata tertuju pada keputusan besar berikutnya.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana