JAKARTA - Kebutuhan kendaraan praktis di tengah padatnya lalu lintas perkotaan membuat city car kembali dilirik. Di saat harga mobil baru terus merangkak naik, pilihan city car bekas di bawah Rp100 juta menjadi solusi menarik bagi masyarakat yang ingin memiliki mobil irit, lincah, dan tetap nyaman untuk penggunaan harian.
Pasar mobil bekas Indonesia saat ini diramaikan berbagai model hatchback mungil dengan harga ramah di kantong. Selain mudah dikendarai di jalan sempit, city car bekas di bawah Rp100 juta juga dikenal hemat bahan bakar dan biaya perawatan relatif terjangkau. Faktor inilah yang membuat segmen ini terus diminati, terutama oleh pengemudi pemula dan keluarga muda.
Bagi calon pembeli yang sedang mempertimbangkan city car bekas di bawah Rp100 juta, ada beberapa model yang bisa menjadi pilihan. Mulai dari yang menawarkan fitur modern, kabin lega, hingga performa mesin yang efisien. Berikut lima rekomendasi yang patut dipertimbangkan.
Nissan March Generasi Keempat, Nyaman dan Ramah Pemula
Nissan March generasi keempat menjadi salah satu city car yang cukup populer di Indonesia. Mobil ini diproduksi sejak 2010 hingga 2020 dan hadir dalam pilihan mesin 1.200 cc dan 1.500 cc. Desainnya yang kompak dengan visibilitas luas membuatnya cocok untuk pengemudi pemula.
Varian tertinggi sudah dilengkapi fitur push start stop engine, AC digital, serta sistem keselamatan seperti ABS, EBD, dan dual airbag. Suspensinya empuk dan radius putarnya kecil, memudahkan manuver di jalanan padat. Harga bekas Nissan March kini berada di kisaran Rp70–90 jutaan, tergantung kondisi dan tipe.
Mazda 2 Lama Non SkyActiv, Sporty dan Fun to Drive
Mazda 2 generasi lama non SkyActiv menjadi pilihan bagi pecinta mobil dengan karakter sporty. Diproduksi antara 2009 hingga 2014, hatchback ini dibekali mesin 1.500 cc yang responsif dan efisien.
Kelebihan Mazda 2 terletak pada posisi berkendara yang ergonomis, desain interior yang terlihat premium, serta handling yang stabil. Fitur keselamatan seperti ABS dan airbag juga sudah tersedia. Namun, ruang kabin belakang tergolong sempit dan biaya perawatan relatif lebih tinggi. Harga bekasnya berada di rentang Rp70–90 jutaan.
Mitsubishi Mirage, Irit BBM dan Lincah di Jalan Sempit
Mitsubishi Mirage dikenal sebagai city car yang sangat efisien bahan bakar. Mengusung mesin 1.200 cc tiga silinder, mobil ini mampu mencatat konsumsi BBM hingga sekitar 20 km per liter.
Radius putarnya kecil, cocok untuk manuver di area sempit. Varian tertinggi sudah dilengkapi fitur push start stop engine dan AC digital. Meski demikian, peredaman kabin kurang optimal dan varian rendah belum dilengkapi ABS. Di pasar mobil bekas, Mirage dibanderol sekitar Rp80 jutaan.
Karimun Estilo, Pilihan Termurah yang Tetap Fungsional
Suzuki Karimun Estilo menjadi opsi city car dengan harga paling terjangkau di daftar ini. Diproduksi antara 2007 hingga 2013, mobil ini menggunakan mesin 1.000 cc yang terkenal irit dan mudah dirawat.
Kabin cukup lega untuk ukuran city car, visibilitas baik, dan fitur standar sudah memadai untuk kebutuhan harian. Disarankan memilih versi facelift karena ketersediaan suku cadang lebih mudah. Harga bekas Karimun Estilo berada di kisaran Rp50–70 jutaan.
Toyota Etios Valco, Kenyamanan Khas Toyota
Toyota Etios Valco menawarkan kenyamanan berkendara khas Toyota dengan harga terjangkau. Diproduksi pada 2013–2017, mobil ini dibekali mesin 1.200 cc yang juga digunakan di beberapa model Toyota lain.
Interiornya lega, suspensi empuk, dan konsumsi BBM cukup efisien. Kekurangannya hanya tersedia transmisi manual dan desainnya kurang diminati pasar saat pertama diluncurkan. Namun, hal itu justru membuat harga bekasnya kini berada di kisaran Rp70–80 jutaan
Baca Juga: Wamen ATR Ossy Dermawan Tekankan Layanan Pertanahan Murah, Cepat, dan Prudent di Kabupaten Bandung
Dengan beragam pilihan city car bekas di bawah Rp100 juta, konsumen memiliki banyak alternatif kendaraan yang sesuai kebutuhan dan anggaran. Sebelum membeli, pastikan melakukan pengecekan menyeluruh, mulai dari kondisi mesin, riwayat servis, hingga kelengkapan dokumen agar mendapatkan unit terbaik.
Editor : Dyah Wulandari