Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jebolan Diajeng 2024 Kota Blitar Ini Bilang Menari Tradisional Adalah Jati Diri Bangsa: Bukan Malah Tertinggal

M. Subchan Abdullah • Minggu, 1 Februari 2026 | 19:05 WIB
LUWES: Rashida Aura terus mengenalkan tari tradisional kepada anak-anak muda sebagai jati diri bangsa Indonesia.
LUWES: Rashida Aura terus mengenalkan tari tradisional kepada anak-anak muda sebagai jati diri bangsa Indonesia.

 

BLITAR KAWENTAR - Di tengah derasnya arus K-pop, dance TikTok, dan budaya populer global, Rashida Aura memilih jalan yang tak banyak dilirik generasi sebayanya: tarian tradisional.

Perempuan yang merupakan alumni Diajeng Kota Blitar 2024 itu, tak sekadar menari untuk tampil, melainkan menjadikan tari sebagai cara menjaga ingatan, merawat akar, sekaligus membentuk jati diri.

Bagi Rashida, menari tradisional dan modern bukan dua dunia yang saling meniadakan. Keduanya justru saling mengisi. Dia merasakan perbedaan yang sangat jelas ketika membawakan tarian klasik yang penuh pakem dengan dance yang lebih ekspresif.

Tarian klasik, menurutnya, menghadirkan rasa tenang, agung, dan dalam. Setiap gerak telah memiliki makna, sejarah, bahkan etika yang harus dijaga. Dari luar terlihat kalem, namun di dalamnya penuh kedalaman rasa.

Sebaliknya, dance kontemporer memberi kebebasan. Tubuh bergerak lebih lepas, gerakan lahir dari pengalaman hidup, bukan sekadar aturan.

“Penari yang matang justru bisa menikmati keduanya,” ujar warga Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul ini.

Disiplin klasik membuat ekspresi lebih berisi, sementara keberanian ekspresif membuat tarian tradisi terasa hidup dan relevan.

Di mata Rashida, “jiwa” tari tradisional tak pernah benar-benar tergantikan. Justru di era serba cepat dan visual seperti sekarang, tari tradisional menjadi penanda diri yang kuat. Bukan simbol ketertinggalan, melainkan pembeda. Tidak semua orang bisa menari dengan pakem, rasa, dan kesabaran. Di situlah letak nilainya.

Hobi menari menjadi fondasi kuat Rashida saat mengikuti ajang Kangmas Diajeng Kota Blitar 2024. Menari bukan hanya soal tampil indah, tetapi ruang pembentukan karakter. Dari sana dia belajar disiplin, kepercayaan diri, pengendalian emosi, hingga keberanian berdiri di ruang publik.

Menariknya, pencapaian paling berkesan baginya bukan hanya tampil di level nasional, melainkan saat membawakan tari khas Blitaran. Di situlah ia merasa benar-benar membawa identitas.

Baca Juga: Manchester United Bersiap Bekuk Fulham: Modal Positif Usai Kalahkan City & Arsenal, Dorgu Cedera, Carrick Cari Solusi

Validasi nasional memang membanggakan, tetapi membawa tarian daerah sendiri memberi makna yang lebih dalam—seolah menyuarakan bahwa Blitar punya cerita dan keindahan yang patut diperhitungkan.

Di tengah kesibukan sebagai duta daerah, studi, dan latihan rutin, Rashida belajar berdamai dengan prioritas.

“Bukan soal punya banyak waktu, tetapi setia pada komitmen yang dipilih,” kata perempuan 17 tahun ini.

Visinya sederhana namun kuat: menjadikan tari tradisional relevan, membumi, dan membanggakan tanpa kehilangan jiwa. Strateginya pun bukan menggurui, melainkan mengajak.

Tradisi, baginya, tidak meminta generasi muda menjadi kuno. Tradisi hanya meminta untuk tidak lupa.

Pesannya untuk Gen Z Blitar: menari tradisional bukan langkah mundur, melainkan memiliki akar kuat untuk melangkah lebih jauh. Anak muda boleh modern, global, dan ekspresif, tetapi tahu dari mana mereka berasal justru membuat mereka berbeda.(sub/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#generasi muda #modern dance #penari tradisional #Diajeng kota blitar #blitar #perempuan muda #k pop #tiktok #Rashida Aura