Rumor ini semakin memanas karena melibatkan nama legenda sepak bola dunia. Manajemen Rossoneri dilaporkan lebih memilih untuk mendatangkan Jay Idzes ketimbang merekrut bek veteran eks Real Madrid, Sergio Ramos. Padahal, Ramos yang berstatus tanpa klub sempat menawarkan diri ke manajemen AC Milan untuk mengisi kekosongan di lini belakang mereka. Namun, Milan memiliki visi berbeda.
Manajemen AC Milan menolak tawaran Ramos dengan alasan usia yang sudah senja dan tuntutan gaji yang terlampau tinggi. Sebaliknya, radar mereka kini terkunci sepenuhnya kepada sosok Jay Idzes. Langkah ini bukan sekadar rumor, karena Milan dikabarkan telah menjalin kontak awal dengan agen sang pemain dan pihak Sassuolo. Keputusan memprioritaskan Idzes di atas nama besar sekelas Sergio Ramos merupakan pengakuan tak terbantahkan atas kualitas bek Timnas Indonesia tersebut.
Alasan Jurnalis Italia dan Nominal Gaji
Apa yang membuat klub sebesar AC Milan begitu bernafsu mendatangkan Bang Jay? Jurnalis terkemuka Sky Sport, Luca Cilli, melalui akun media sosialnya membocorkan alasan teknis di balik minat tersebut. Menurut Cilli, selain usia yang masih produktif (25 tahun), Idzes dinilai sebagai bek modern yang serba bisa.
Statistiknya bersama Venezia musim lalu dan Sassuolo musim ini menunjukkan dominasi dalam duel udara serta persentase operan sukses yang sangat tinggi—atribut yang sangat dicari oleh pelatih-pelatih top Eropa. Selain itu, karakter kepemimpinan yang kuat di lapangan menjadi nilai plus. Dari sisi bisnis, merekrut Idzes dianggap sebagai investasi cerdas karena harga pasarnya diprediksi akan terus melambung, ditambah potensi pasar basis penggemar Indonesia yang masif.
Jika transfer ini terwujud, Jay Idzes dipastikan akan menerima kenaikan pendapatan yang signifikan. Media Italia, Tutto Mercato, melaporkan bahwa saat ini Idzes menerima gaji sekitar 1,1 juta Euro atau setara Rp 20,9 miliar per musim di Sassuolo. Jika hijrah ke San Siro, angka yang ditawarkan Milan dipastikan akan melipatgandakan pendapatan tersebut. Ini bisa menjadi sejarah besar, di mana pemain berdarah Indonesia menjadi pilar utama di salah satu klub terbesar di dunia.
Sorotan Tajam Kekacauan SEA Games 2025 Thailand
Sementara itu, beralih ke kabar regional Asia Tenggara, persiapan Thailand sebagai tuan rumah SEA Games 2025 justru menuai kecaman keras. Kritik pedas kali ini datang dari "orang dalam", yakni mantan panitia penyelenggara bernama Suntisuk. Ia membongkar buruknya manajemen tuan rumah yang dinilai amatir.
Sejumlah insiden memalukan mewarnai persiapan dan uji coba acara. Mulai dari kesalahan fatal panitia yang memasang bendera Laos dan Vietnam saat jadwal pertandingan Timnas Putri Indonesia vs Thailand, hingga insiden "lagu kebangsaan bisu" di laga pembuka Grup B karena tidak adanya musik pengiring. Tak hanya itu, sistem pencahayaan di Stadion Rajamangala juga mengalami kerusakan parah hingga harus meminjam lampu dari stadion lain.
Suntisuk mengungkapkan bahwa kekacauan ini bukan karena faktor alam, melainkan inkompetensi dan buruknya koordinasi. Ia bahkan mengaku dipecat secara sepihak setelah bekerja selama tujuh bulan tanpa alasan jelas, yang menunjukkan ketidakkonsistenan panitia lokal.
Pelatih Vietnam Unggulkan Indonesia Ketimbang Thailand
Di tengah kekacauan tuan rumah, Timnas Indonesia U-22 justru mendapatkan pengakuan tinggi dari rival. Mantan pelatih Vietnam U-23, Hoang Anh Tuan, secara terbuka menyebut skuad Garuda Muda sebagai ancaman terbesar dalam perebutan medali emas SEA Games 2025, bahkan melebihi kekuatan tuan rumah Thailand.
Menurut Hoang, sepak bola usia muda Indonesia mengalami perkembangan pesat. Kombinasi pemain liga domestik yang kompetitif dan pemain diaspora berkualitas Eropa membuat level Indonesia kini berada di atas rata-rata Asia Tenggara. Sebaliknya, ia menilai Malaysia sedang dalam fase krisis generasi akibat masalah internal federasi, sementara Thailand masih terbebani status tuan rumah dan belum menemukan bentuk permainan terbaiknya.
Pengakuan ini tentu menjadi modal positif bagi pasukan Indra Sjafri. Namun, status unggulan harus disikapi dengan kewaspadaan tinggi agar Timnas Indonesia tidak tergelincir oleh rasa jemawa dan tetap fokus membawa pulang emas.(*)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar