BLITAR – Laga Persib Bandung vs Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (11/1/2026), berakhir dengan skor tipis 1-0 untuk kemenangan Maung Bandung. Hasil ini memastikan Persib mengunci status juara paruh musim Liga 1 2025/2026 dengan raihan 38 poin. Namun, kemenangan tersebut justru memantik perdebatan panas di ruang publik.
Alih-alih dipuji, Persib Bandung malah dituding bermain membosankan. Gaya bertahan ekstrem, penguasaan bola rendah, dan minim serangan membuat sebagian penonton menilai laga klasik Persib Bandung vs Persija Jakarta kehilangan esensi sepak bola menyerang. Tuduhan “anti sepak bola” pun mengiringi euforia tiga poin tersebut.
Menang Tanpa Cantik, tapi Efektif
Persib memang hanya mencatatkan penguasaan bola sekitar 38 persen sepanjang laga. Namun, efektivitas menjadi kunci. Gol semata wayang yang dicetak Beckham Putra pada menit kelima lahir dari skema serangan balik cepat—cerminan filosofi pragmatis pelatih Bojan Hodak.
Bagi Hodak, angka di papan skor jauh lebih penting dibanding estetika permainan. Filosofi itu terasa kontras dengan identitas lama Persib yang dikenal agresif dan atraktif. Dalam duel Persib Bandung vs Persija Jakarta, Maung Bandung tampil disiplin, rapat, dan nyaris tanpa celah.
Transformasi Mentalitas ala Bojan Hodak
Perubahan Persib tidak terjadi dalam semalam. Sebelum era Hodak, Maung Bandung kerap tampil menyerang namun rapuh di lini belakang. Gol-gol telat yang merusak kemenangan menjadi penyakit lama.
Hodak datang membawa pendekatan berbeda. Prioritas utamanya adalah organisasi pertahanan dan kedisiplinan. Ia mengubah mentalitas “harus bermain indah” menjadi “harus menang”. Hasilnya kini terlihat jelas di klasemen.
Dalam laga Persib Bandung vs Persija Jakarta, transformasi itu mencapai puncaknya. Tidak ada lagi kesalahan elementer di menit krusial. Yang tersisa hanyalah efisiensi dan ketenangan mengamankan keunggulan.
Low Block Ekstrem dan Parkir Bus Total
Secara taktik, Persib menerapkan low block ekstrem. Jarak antar lini dijaga sangat rapat, berkisar 10–15 meter. Persija boleh menguasai bola, tetapi tidak diberi ruang. Maxwell dan Alano dibuat frustrasi karena tak menemukan celah di sepertiga akhir.
Peran Marc Klok dan Eliano menjadi vital. Keduanya berfungsi sebagai pemutus serangan, mirip gelandang bertahan klasik ala Jose Mourinho. Tackel bersih, pembacaan ruang akurat, dan disiplin posisi menjadi senjata utama.
Strategi ini bukan tanpa risiko. Dibutuhkan fokus penuh selama 90 menit. Namun Persib mampu menjalankannya nyaris sempurna dalam duel Persib Bandung vs Persija Jakarta.
Serangan Balik Mematikan
Parkir bus tanpa serangan balik adalah bunuh diri. Hodak memahami itu betul. Persib menyiapkan transisi cepat sebagai senjata utama. Gol Beckham Putra tercipta hanya lewat tiga sentuhan dari lini belakang ke gawang lawan.
William Barros dan Berguinho berperan sebagai eksekutor. Mereka tidak boros energi, tetapi mematikan saat peluang datang. Bahkan ketika Persija bermain dengan 10 orang setelah kartu merah Bruno Tubarao, Persib tetap konsisten dengan rencana awal.
Satu gol dianggap cukup. Menyerang berlebihan justru dinilai berisiko.
Kontroversi dan Kritik Usai Laga
Gaya main Persib menuai kritik tajam. Pelatih Persija, Mauricio Souza, secara terbuka menyebut laga tersebut buruk dan jauh dari esensi sepak bola. Netizen pun terbelah antara yang menuntut hiburan dan yang mendukung hasil akhir.
Namun sejarah sepak bola tak mencatat tim dengan penguasaan bola tertinggi, melainkan juara. Filosofi pragmatis yang dulu dilekatkan pada Jose Mourinho, Diego Simeone, hingga Carlo Ancelotti kini diterapkan Hodak di Bandung.
Persib: Bukan Penghibur, tapi Pemenang
Apa yang terjadi di GBLA bukan sekadar kemenangan, melainkan revolusi mental. Persib Bandung kini bukan lagi tim naif yang mudah runtuh, melainkan mesin kalkulatif yang sulit ditembus.
Taktik ini mungkin tidak indah. Tapi inilah sepak bola profesional. Pada akhirnya, duel Persib Bandung vs Persija Jakarta akan dikenang karena hasilnya: Persib menang dan berdiri di puncak klasemen. Titik.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana