BLITAR – Persib Bandung AFC Champions League menjadi panggung ambisi besar Maung Bandung pada musim 2025-2026. Tidak sekadar tampil, Persib membawa misi menembus babak perempat final dan menjaga gengsi sepak bola Indonesia di level Asia. Optimisme itu ditegaskan langsung oleh salah satu pilar utama lini tengah, Tom Haye.
Dalam persiapan menghadapi Racaburi FC, Tom Haye melontarkan pernyataan bernada tegas yang disebut sebagai mental war elegan. Pemain berjuluk The Professor itu menyadari bahwa di level AFC Champions League, kualitas teknik saja tidak cukup. Mental baja menjadi pembeda utama.
Persib Bandung AFC Champions League bukan hanya soal taktik dan strategi, tetapi juga kesiapan psikologis. Tom Haye menegaskan bahwa Persib siap meruntuhkan mental lawan bahkan sebelum peluit kick-off dibunyikan, terutama saat tampil di laga krusial.
Tom Haye: Mental Adalah Kunci di Level Asia
Tom Haye mengaku persiapan tim sejauh ini berjalan sangat matang. Ia ingin menularkan mentalitas Eropa kepada seluruh pemain Persib Bandung. Menurutnya, melawan tim sekelas Racaburi FC dari Thailand membutuhkan keberanian, kepercayaan diri, dan kontrol permainan dari lini tengah.
Gelandang naturalisasi itu yakin Persib mampu mendikte tempo dan mematikan pergerakan lawan. Optimisme tersebut dinilai sebagai sinyal positif, karena kepercayaan diri pemain kunci sering kali menular ke seluruh tim. Persib pun diharapkan tampil tanpa rasa takut di panggung Asia.
PR Besar Bojan Hodak di Lini Serang
Di balik optimisme Tom Haye, Bojan Hodak justru menyimpan pekerjaan rumah besar. Meski Persib Bandung baru saja meraih kemenangan atas Persis Solo, sang pelatih belum sepenuhnya puas. Masalah klasik kembali muncul, yakni penyelesaian akhir yang kurang efektif.
Bojan Hodak secara terbuka mengeluhkan borosnya peluang yang terbuang. Dalam laga tersebut, Persib mendominasi permainan dan menciptakan banyak peluang emas. Namun, jumlah gol yang tercipta tidak sebanding dengan dominasi tersebut.
Menurut Bojan, penyakit buang-buang peluang sangat berbahaya, terutama di AFC Champions League. Di level Asia, satu atau dua peluang bisa menjadi penentu hasil pertandingan. Karena itu, efektivitas lini depan menjadi fokus utama evaluasi.
Sinyal Keras untuk Para Striker
Bojan Hodak menegaskan bahwa Persib tidak boleh terus bergantung pada keberuntungan atau kemenangan tipis. Ia ingin para penyerang tampil lebih klinis dan memiliki naluri pembunuh di kotak penalti. Evaluasi ini menjadi sinyal keras bagi striker yang ada di skuad saat ini.
Jika tidak ada perbaikan signifikan, posisi mereka bisa tergeser. Kondisi inilah yang memicu rumor manuver transfer Persib Bandung di sektor penyerang.
Manuver Transfer: Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny
Manajemen Persib Bandung disebut bergerak cepat merespons kebutuhan pelatih. Isu striker baru pun mencuat dan langsung menghebohkan publik. Dua nama besar yang dikaitkan adalah Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny.
Ragnar Oratmangoen dinilai cocok dengan skema Bojan Hodak karena fleksibilitas dan kecerdasannya di lini depan. Ia bisa memecah kebuntuan, memberi assist, sekaligus mencetak gol. Sementara Ole Romeny dianggap sebagai solusi instan berkat naluri golnya yang tinggi sebagai striker murni.
Meski masih dalam tahap penjajakan, manuver ini menunjukkan keseriusan Persib. Manajemen sadar, untuk juara Liga 1 dan bicara banyak di Asia, dibutuhkan mesin gol yang benar-benar teruji.
GBLA Disiapkan Jadi Arena Balas Dendam
Di sisi lain, Persib Bandung juga bersiap menjadikan Stadion Gelora Bandung Lautan Api sebagai arena balas dendam saat menghadapi Malut United. Pertemuan sebelumnya menyisakan kenangan pahit yang ingin ditebus.
Bermain di hadapan ribuan Bobotoh menjadi keuntungan besar. Bojan Hodak menginstruksikan anak asuhnya tampil habis-habisan sejak menit awal. Targetnya jelas, tiga poin harga mati demi menjaga dominasi kandang dan kepercayaan diri tim.
Persib Bandung AFC Champions League kini berjalan seiring dengan ambisi domestik. Dengan mental siap tempur, evaluasi tajam, dan potensi kejutan transfer, Maung Bandung ingin menegaskan diri sebagai raja kandang dan kekuatan yang patut diperhitungkan di Asia. (*)
Editor : Vicky Hernanda