BLITAR – Kekalahan perdana Borneo FC di Super League menjadi momen penting yang mengubah peta persaingan juara. Setelah tampil superior sejak awal musim hingga pekan ke-13, dominasi Borneo akhirnya runtuh. Bagi Persib Bandung, hasil ini bukan sekadar kabar baik, melainkan pembenaran atas visi jangka panjang yang sejak awal dibangun pelatih Bojan Hodak.
Sejak awal kompetisi, Super League seolah berada dalam genggaman Borneo FC. Tim asal Kalimantan itu tampil seperti mesin tak terhentikan, menyapu bersih kemenangan demi kemenangan. Entah bermain kandang atau tandang, melawan tim papan atas maupun bawah, hasilnya selalu sama: tiga poin. Bahkan Persija Jakarta pun dibuat tak berdaya dengan skor 1-3.
Kepercayaan diri Borneo meluap hingga ke media sosial. Suporter mereka ramai-ramai menyindir tim rival, termasuk Persib Bandung, yang dianggap bukan ancaman serius. Namun bagi pengamat sepak bola berpengalaman, performa semacam itu sulit dipertahankan dalam kompetisi panjang.
Dominasi Borneo FC Mulai Terbaca
Liga bukan sprint, melainkan maraton. Prinsip itu akhirnya terbukti ketika Borneo FC menelan kekalahan pertamanya dari Bali United, klub yang secara historis memiliki akar yang sama dengan Persisam Samarinda. Kekalahan ini bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan alarm keras bagi seluruh kontestan liga.
Sinyal rapuhnya Borneo sebenarnya sudah terlihat saat mereka menghadapi Madura United. Taktik mereka mulai terbaca dan ketergantungan pada satu pemain, Mariano Peralta, semakin kentara. Pemain asal Argentina itu mencatatkan sembilan gol dan empat assist dari 12 laga, sebuah statistik yang sekaligus menjadi cermin ketergantungan tim.
Ketika Peralta berhasil dikunci, permainan Borneo kehilangan arah. Strategi inilah yang kemudian disempurnakan Bali United untuk menghentikan laju 11 kemenangan beruntun Borneo FC.
Ujian Berat Menanti Borneo
Kekalahan tersebut datang di saat krusial. Borneo FC kini menghadapi rangkaian laga berat pada Desember, menghadapi Persib Bandung, Persebaya, dan Malut United secara beruntun—semuanya laga tandang. Kondisi fisik dan mental menjadi tantangan besar bagi tim yang mulai kehabisan bensin.
Sebaliknya, Persib Bandung justru berada dalam kondisi stabil. Tidak ada tanda penurunan performa, krisis kebugaran, atau kekurangan pemain siap tampil. Inilah hasil dari perencanaan matang yang sejak awal diterapkan Bojan Hodak.
Visi Bojan Hodak Mulai Terbukti
Sejak awal musim, Hodak tak tergoda menjadikan Persib tampil meledak-ledak. Ia memilih membangun kedalaman skuad, melakukan rotasi, dan menjaga kebugaran pemain. Keputusan melepas sejumlah pemain inti musim lalu sempat menuai kritik, begitu pula kebijakan merekrut banyak pemain grade A di posisi yang sama.
Namun kini, keputusan itu terbukti tepat. Saat tim lain mulai goyah, Persib tetap konsisten meski harus berlaga di kompetisi berat seperti ACL 2. Hodak tidak sekadar membangun starting eleven, tetapi membangun armada.
Laga Penentuan 5 Desember
Semua dinamika ini akan bermuara pada satu pertandingan krusial, 5 Desember. Borneo FC akan datang langsung ke markas Persib Bandung dalam duel pemuncak klasemen yang sarat gengsi dan tekanan mental.
Bagi Persib, ini bukan sekadar peluang meraih tiga poin, melainkan kesempatan menghantam mental pesaing langsung. Dukungan puluhan ribu Bobotoh bisa menjadi faktor pembeda. Kemenangan di kandang berpotensi mengubah arah musim.
Namun jika Borneo mampu mencuri kemenangan, itu akan menjadi suntikan mental luar biasa bagi mereka. Pertarungan ini akan menjawab satu pertanyaan besar: siapa yang benar-benar layak berada di singgasana liga?
Pada akhirnya, Super League tidak dimenangkan oleh tim yang berlari paling cepat di awal musim, melainkan oleh tim yang paling kuat bertahan hingga akhir. Dan sejauh ini, Persib Bandung menunjukkan bahwa mereka berada di jalur yang benar.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana