BLITAR KAWENTAR - Keringat masih membasahi wajah Priyo Suhartono saat sepedanya berhenti di titik checkpoint 01 Kota Blitar.
Namun senyum tak lepas dari raut wajah Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Blitar itu.
Tahun ini, dia kembali menantang diri mengikuti ajang East Java Journey (EJJ) kategori 600 kilometer yang melintasi berbagai kota di Jawa Timur. “Rute EJJ selalu menghadirkan cerita berbeda setiap tahunnya.
Setiap tahun rutenya bervariasi. Tahun ini luar biasa, benar-benar menguras tenaga,” ujarnya saat ditemui di checkpoint (CP) di Museum Peta, Jumat (6/2) pekan lalu.
Perjalanan dimulai dari Surabaya, menembus Sidoarjo hingga Mojosari. Dari sana, peserta harus menaklukkan tanjakan Pacet yang terkenal panjang dan menguji stamina.
Jalur berlanjut ke Mojokerto, lalu tembus ke Kandangan Kabupaten Kediri, hingga tembus Kasembon, dan Ngantang Kabupaten Malang.
Peserta kemudian melintasi Bendungan Selorejo, Tugu Trisula Desa Krisik Kecamatan Gandusari, hingga masuk wilayah Blitar.
Namun, trek tersebut belum separo perjalanan. Dari Blitar, rute terus berlanjut menuju Kademangan, kawasan JLS Tambak, lalu menanjak lagi ke Kalidawir dan Tulungagung.
Perjalanan diteruskan ke Ponorogo, Trenggalek, hingga checkpoint kedua di Madiun.
Setelah itu, peserta kembali memacu sepeda ke arah utara menuju Bojonegoro, Tuban, dan finis di Surabaya.
“Tapi, kemarin saya harus mengakhiri petualangan di trek JLS kawasan Pantai Tambakrejo. Saat itu dapat kabar pak lik saya meninggal dunia. Sebenarnya saya juga masih kuat,” ungkapnya.
Priyo mengaku sudah cukup mengenal sebagian trek di lomba balap sepeda jarak jauh tersebut.
Dia pernah mengikuti EJJ 2024, sementara pada 2025 absen karena menunaikan ibadah haji. Beberapa jalur ekstrem bahkan sudah dia coba sebelumnya.
“Saya sudah pernah coba jalur Kademangan, sampai Tambakrejo hingga Kalidawir. Kalau siang panasnya luar biasa. Waktu itu saya coba jam 12 siang, panasnya ampun-ampunan, terutama di JLS,” katanya sambil tertawa.
Priyo mencapai CP 1 di Kota Blitar pada Jumat siang. Napasnya pun terengah-engah.
Bahkan, dia beberapa kali minum air mineral dan meluruskan kakinya untuk peregangan. Hampir 2 jam dia istirahat di lokasi. Sebab, sebelumnya, dia melewati trek tanjakan yang menguras staminanya.
Menurutnya, tanjakan Pacet dan Kasembon menjadi salah satu titik paling berat dalam rute tahun ini. Elevasi yang terus menanjak memaksa peserta menguras tenaga lebih.
“Pacet sama Kasembon itu tanjakannya benar-benar menguji. Dari event ini total elevasinya lebih dari 2.000 meter. Naik turun terus, lebih menyiksa,” ungkapnya.
Meski demikian, Priyo mengaku tetap menikmati setiap kilometer yang ditempuh. Baginya,mengikuti EJJ bukan sekadar ajang olahraga, melainkan juga uji mental dan konsistensi.
Di sisi lain, keterlibatan Kota Blitar sebagai salah satu checkpoint dinilai memberi dampak positif. Meski peserta tidak bermalam karena hanya melintas, nama Blitar semakin dikenal para pesepeda dari berbagai daerah.
“Dampak langsung mungkin tidak terlalu besar karena peserta lewat saja. Tapi mereka jadi mengenal Blitar. Tidak semua daerah jadi checkpoint, dan Blitar selalu jadi rujukan bersama Madiun,” jelasnya.
Dia menambahkan, potensi dampak ekonomi akan lebih terasa pada event gravel yang rencananya digelar April mendatang dengan Blitar sebagai lokasi start dan finis.
“Kalau start-finish di Blitar, pasti banyak peserta yang menginap. Itu tentu berdampak pada ekonomi dan jadi arena sport tourism,” pungkasnya.(*/c1/sub)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama