BLITAR – Tensi panas sepak bola nasional tidak berhenti hanya di dalam lapangan. Pasca laga sengit di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Rumor Persib Bandung yang dituduh bersekongkol dengan mafia wasit mendadak mencuat ke permukaan. Tuduhan serius ini dilontarkan secara terbuka oleh pihak manajemen Malut United yang merasa dirugikan oleh serangkaian keputusan kontroversial wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, yang memimpin jalannya pertandingan.
Isu mengenai Rumor Persib Bandung ini bermula dari unggahan emosional Wakil Manajer Malut United, Asgar Saleh, di akun media sosial pribadinya. Dalam pernyataan yang kini viral, Asgar tak segan menyebut kekalahan timnya sebagai sebuah "dagelan" yang diatur oleh kekuatan luar lapangan. "Untuk mengalahkan Malut United, para mafia bahkan harus menggunakan jasa wasit FIFA yang kualitasnya kalah jauh dibanding wasit tarkam," tulisnya dalam narasi yang langsung memantik kegaduhan di kalangan pecinta sepak bola tanah air.
Kontroversi Penalti 'Lucu' Robi Darwis
Titik utama yang memperkeruh Rumor Persib Bandung kali ini adalah keputusan penalti untuk gol pertama Maung Bandung. Dalam tayangan ulang, terjatuhnya Robi Darwis di kotak terlarang dinilai banyak pihak sangat janggal. Bahkan, Asgar Saleh menyoroti reaksi Robi Darwis yang tertangkap kamera sedang tertawa, seolah tidak menyangka wasit akan menunjuk titik putih.
Meski demikian, pengamat sepak bola menilai adanya blind spot pada teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang digunakan. Lambatnya durasi pengecekan VAR bukan karena kesengajaan wasit untuk mengulur waktu, melainkan terbatasnya angle kamera yang disediakan pihak pemegang hak siar. Sudut pengambilan gambar yang buram dan tidak presisi membuat wasit Yudai Yamamoto kesulitan menentukan titik kontak fisik, hingga akhirnya tetap pada keputusan penalti bagi Persib.
Statistik Janggal Wasit Yudai Yamamoto
Tak berhenti di situ, Rumor Persib Bandung semakin digoreng dengan data statistik kepemimpinan Yudai Yamamoto. Manajemen Malut United membeberkan fakta bahwa dalam tiga laga terakhir Persib yang dipimpin oleh wasit Jepang tersebut, Maung Bandung selalu mendapatkan hadiah penalti.
-
18 Agustus 2025: Persib vs Persis Solo (Jepara)
-
27 Desember 2025: Persib vs PSM Makassar (GBLA)
-
6 Februari 2026: Persib vs Malut United (GBLA)
"Nonton lagi tiga pertandingan ini biar waras dan berani melawan kebobrokan yang berulang kali terjadi," tegas Asgar Saleh. Ia juga menyoroti insiden handball Tyronne del Pino di menit-menit akhir yang diabaikan wasit, padahal ada potensi penalti bagi Laskar Kie Raha. Namun, kubu Persib berkilah bahwa sebelum insiden jatuh tersebut, Tyronne sudah lebih dulu melakukan kontrol bola yang menyentuh tangan, sehingga pelanggaran pertama itulah yang diambil oleh wasit.
Gorengan Media dan Mentalitas Juara
Menanggapi derasnya Rumor Persib Bandung yang dituduh menggunakan jasa mafia, para pendukung setia, Bobotoh, menganggap ini hanyalah bagian dari upaya menjatuhkan mental tim yang sedang stabil di puncak klasemen. Istilah "yang menang merayakan, yang kalah menjelaskan" kembali bergema di media sosial sebagai balasan atas tudingan kubu lawan.
Meskipun tensi kian memuncak, hingga saat ini belum ada bukti valid berupa rekaman atau aliran dana yang membuktikan keterlibatan mafia. Pihak PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI pun diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja wasit asing agar kompetisi tetap berjalan fair. Bagaimanapun, Rumor Persib Bandung ini menjadi pengingat bahwa transparansi broadcast dan kualitas VAR adalah kunci untuk menghindari fitnah dan kegaduhan di sepak bola Indonesia. (*)
Editor : Oksania Difa Ilmada