Isu transfer Persib ini mencuat tajam setelah akun seputar sepak bola nasional, @pilotinfootball, membocorkan indikasi kepindahan tersebut pada awal Februari 2026. Dalam unggahannya, Mariano Peralta dikaitkan erat dengan Persib Bandung melalui skema tebus transfer (buyout), mengingat kontrak sang pemain bersama Borneo FC sejatinya baru akan berakhir pada 30 Juni 2026. Langkah berani ini diambil karena Persib membutuhkan sosok pemain nomor 10 atau playmaker sayap yang mumpuni untuk menggantikan posisi William Marsilio.
Suntikan Dana Segar Investor Baru
Rumor kedatangan Peralta tidak lepas dari manuver bisnis cerdas yang dilakukan oleh PT Persib Bandung Bermartabat. Masuknya PT Unilever Indonesia Tbk sebagai mitra strategis baru melalui brand Rinso dan Sunlight disinyalir menjadi katalisator utama kekuatan finansial klub. Glenn Sugita, CEO PT PBB, menilai kemitraan ini bukan sekadar bisnis, melainkan penyatuan dua kekuatan besar yang memiliki basis massa loyal di Jawa Barat dan Indonesia.
Dengan dukungan finansial yang makin kokoh, nilai pasar Peralta yang ditaksir mencapai Rp10,43 miliar bukan halangan berarti bagi Maung Bandung. Jika Borneo FC enggan melepas sang pemain pada jendela transfer paruh musim ini, mereka berisiko kehilangan aset berharganya tersebut secara cuma-cuma (free transfer) di akhir musim. Statistik Peralta yang gemilang—mengemas 10 gol dan 14 assist dari 35 laga—menjadi alasan kuat mengapa Bojan Hodak sangat menginginkan jasa pemain asal Argentina tersebut untuk mempertajam lini serang yang belakangan dinilai seret gol.
Sorotan Tajam untuk Layvin Kurzawa
Selain hebohnya isu transfer Persib terkait Peralta, perhatian Bobotoh juga tertuju pada rekrutan bintang dunia, Layvin Kurzawa. Eks bek kiri Paris Saint-Germain (PSG) ini sukses mendongkrak branding Persib ke level internasional. Unggahan kedatangannya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) bahkan mendapat respons dari akun resmi FIFA World Cup hingga like dari megabintang Kylian Mbappe.
Namun, euforia ini mendapat catatan kritis dari legenda kiper Persib, Edi Kurnia. Ia mengingatkan manajemen dan Bobotoh agar tidak terlena dengan nama besar. Edi menekankan pentingnya adaptasi budaya dan kebugaran fisik agar kasus marquee player sebelumnya, Michael Essien, tidak terulang.
"Kurzawa harus sadar bahwa ini Persip dan Liga Indonesia. Bukan hanya sekedar harus bermain bagus, harus sadar Persip maruahnya besar. Jangan sampai apa yang terjadi saat ada Michael Essien yang tidak maksimal dan tidak reguler bermain terjadi pada Kurzawa," tegas Edi. Ia berharap Kurzawa benar-benar menjadi investasi efektif di lapangan, bukan sekadar pemanis bangku cadangan.
Lumbung Sanksi Komdis PSSI
Di balik gemerlap berita transfer, Persib Bandung justru sedang "panen" sanksi. Dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, Maung Bandung harus merogoh kocek hingga Rp115 juta akibat denda dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Sanksi ini akumulasi dari pelanggaran di dua laga berbeda.
Pertama, denda Rp25 juta dijatuhkan akibat kehadiran suporter tamu saat laga kontra Persik Kediri pada 5 Januari 2026. Kedua, insiden dalam laga panas melawan Persija Jakarta di GBLA pada 11 Januari 2026 yang menelan denda lebih besar. Komdis mencatat adanya pelemparan botol air mineral dari tribun selatan dan barat, yang berujung denda Rp30 juta.
Baca Juga: Rapel Gaji Pensiunan Disebut Tak Kunjung Cair, Ini Penjelasan Resmi Taspen soal Pencairan Bertahap
Situasi diperparah dengan penyalaan flare atau petasan sebanyak tiga kali di tribun utara dan dua kali di tribun selatan usai laga. Aksi yang dinilai membahayakan keselamatan ini memaksa Persib menanggung denda tambahan sebesar Rp60 juta. Total denda yang mencapai ratusan juta ini menjadi peringatan keras bagi Panpel dan suporter untuk lebih tertib demi menjaga momentum tim yang sedang berjuang di jalur juara Liga 1 dan AFC Champions League 2.
Kini, patut dinantikan apakah ambisi mendatangkan Mariano Peralta akan terwujud dan menjadi solusi instan bagi lini depan Persib, ataukah manajemen akan lebih fokus membenahi masalah disiplin yang kerap merugikan klub secara finansial. (*)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar