BLITAR - Persebaya Surabaya kembali menghadirkan paradoks musim ini. Di satu sisi, Green Force tampil begitu meyakinkan saat bermain di laga tandang. Namun di sisi lain, performa di kandang kerap memunculkan tanda tanya besar bagi Bonek. Fenomena itu kembali menguat usai kemenangan bersejarah Persebaya Surabaya atas Bali United dengan skor 3-1 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Sabtu (7/2/2026) malam.
Kemenangan tersebut terasa istimewa karena mengakhiri catatan minor Persebaya Surabaya setiap kali bertandang ke markas Serdadu Tridatu. Lebih dari itu, hasil ini semakin menegaskan bahwa Bajul Ijo justru lebih nyaman bermain jauh dari tekanan publik sendiri. Tambahan tiga poin membuat Persebaya tetap bersaing di papan atas Super League 2025/2026 dengan menempati posisi kelima klasemen sementara dengan koleksi 35 poin.
Persebaya Surabaya Lebih Rapi Saat Tandang
Konsistensi Persebaya Surabaya di laga tandang kembali menjadi sorotan. Saat bermain di luar kandang, tim asuhan Bernardo Tavares terlihat lebih disiplin, terorganisasi, dan efektif. Hal tersebut sangat kontras dengan performa di kandang yang kerap dinilai kurang mengalir meski hasil akhirnya tak selalu buruk.
Statistik memperkuat kebingungan Bonek. Dari 10 laga tandang, Persebaya mencatat empat kemenangan, lima hasil imbang, dan hanya satu kekalahan dengan rata-rata poin 1,70. Sementara di kandang, Green Force meraih lima kemenangan, tiga imbang, dan dua kekalahan dari 10 pertandingan. Meski poin kandang sedikit lebih tinggi, kualitas permainan di lapangan kerap menuai kritik.
Produktivitas gol juga menunjukkan perbedaan karakter. Di kandang, Persebaya mencetak 19 gol dan kebobolan 12 kali. Sebaliknya, saat tandang, mereka hanya mencetak 12 gol namun kebobolan jauh lebih sedikit, yakni enam gol. Solidnya lini pertahanan menjadi kunci kenyamanan bermain di laga away.
Tekanan Kandang Jadi Beban Mental?
Atmosfer stadion ikut disorot sebagai faktor krusial. Rata-rata laga kandang Persebaya Surabaya disaksikan 16.753 penonton, sementara laga tandang hanya sekitar 5.910 penonton. Tekanan besar dari ekspektasi Bonek di kandang disebut-sebut memengaruhi mental pemain.
Komentar suporter pun ramai di media sosial. Salah satu Bonek menuliskan bahwa bermain tandang justru terasa lebih lepas, sedangkan tampil di Gelora Bung Tomo membuat pemain terlihat kaku. Tuntutan tampil sempurna di kandang dinilai menjadi beban tersendiri bagi skuad Bajul Ijo.
Mental Baja Bernardo Tavares dan Persebaya
Di balik kemenangan di Gianyar, mentalitas juara Persebaya Surabaya mendapat pujian tinggi. Bernardo Tavares menilai perjuangan pemainnya sebagai bukti karakter kuat tim. Persebaya datang dengan kondisi pincang. Mihailo Perovic harus ditarik keluar lebih cepat karena cedera kepala, disusul Malik Risaldi yang juga mengalami cedera.
Masalah tak berhenti di situ. Sejumlah pemain kunci seperti Bruno Moreira dan Milos Raickovic absen akibat akumulasi kartu, sementara Bruno Paraiba belum dalam kondisi fit. Dalam situasi sulit tersebut, Bernardo Tavares berani melakukan improvisasi, termasuk memainkan Alfan Suaib dan menggeser Risto Mitrevski ke lini tengah.
Keputusan itu terbukti jitu. Organisasi permainan tetap solid dan Persebaya mampu mengobrak-abrik pertahanan Bali United. Gol demi gol lahir dari kerja kolektif, keberanian, dan disiplin tinggi. Skor akhir 3-1 menjadi cerminan bahwa kemenangan ini bukan kebetulan, melainkan buah kerja keras seluruh tim.
Gol Emosional Alfan Suaib
Malam di Gianyar juga menjadi panggung emosional bagi Alfan Suaib. Pemain muda Persebaya Surabaya ini mencetak gol perdananya di menit ke-69 usai menerima umpan Francisco Rivera. Gol tersebut menjadi momen penting dalam kariernya bersama tim utama.
Usai laga, Alfan mendedikasikan gol tersebut untuk orang tua serta Bonek dan Bonita. Ia mengaku kepercayaan pelatih dan dukungan pemain senior menjadi energi besar baginya. Bernardo Tavares pun memuji keberanian Alfan, menyebutnya sebagai bukti keberhasilan pembinaan Persebaya.
Kemenangan di Gianyar bukan hanya soal tiga poin. Bagi Persebaya Surabaya, hasil ini menegaskan identitas tim dengan mental baja, sekaligus menyisakan pekerjaan rumah besar: bagaimana mengubah tekanan kandang menjadi energi positif demi konsistensi sepanjang musim.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana