Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Noor Alam Shah dan Kisah Panas di Arema: Dari Sopir Grab hingga Jadi Provokator Juara Liga Indonesia

Dyah Wulandari • Kamis, 12 Februari 2026 | 15:55 WIB

Noor Alam Shah buka-bukaan soal jadi sopir Grab, keributan di lapangan, hingga bawa Arema juara Liga Indonesia
Noor Alam Shah buka-bukaan soal jadi sopir Grab, keributan di lapangan, hingga bawa Arema juara Liga Indonesia

JAKARTA - Nama Noor Alam Shah atau yang akrab disapa Along kembali jadi perbincangan publik setelah tampil blak-blakan dalam sebuah podcast sepak bola. Mantan striker Timnas Singapura dan Arema FC itu membagikan cerita unik sekaligus emosional tentang perjalanan kariernya di Liga Indonesia, mulai dari kisah sempat menjadi sopir Grab hingga perannya sebagai “pembakar semangat” saat membawa Arema juara.

Dalam perbincangan tersebut, Noor Alam Shah mengungkap fakta menarik yang sempat membuat publik terkejut. Ia pernah menjadi sopir Grab di Singapura sekitar 2014. Namun, keputusan itu bukan karena terpuruk secara finansial, melainkan membantu adiknya agar deposit mobil tidak hangus.

“Saya cuma bantu adik. Mobilnya sudah ada deposit, jadi sayang kalau tidak dipakai. Bukan tiap hari, cuma sesekali saja,” ujarnya santai.

Baca Juga: BPNT Tahap 1 2026 Cair Rp600 Ribu! Taruna STPN Diterjunkan Restorasi Arsip Negara, TASPEN Kediri Ingatkan Waspada Hoaks

Menariknya, banyak penumpang yang mengenal dirinya sebagai kapten Timnas Singapura. Beberapa bahkan sengaja memesan agar dijemput langsung oleh Noor Alam Shah. Baginya, itu menjadi bentuk apresiasi atas kontribusinya di sepak bola.

Adaptasi di Arema: Dari Tak Kenal Malang hingga Jadi Ikon

Kisah lain yang tak kalah menarik adalah awal kedatangannya ke Arema FC pada 2010. Noor Alam Shah mengaku awalnya sama sekali tidak mengenal Malang, bahkan tidak tahu seperti apa kota tersebut.

Baca Juga: BPNT Tahap 1 2026 Cair & Isu Pesangon Sekaligus! Taruna STPN Turun Tangan Restorasi Arsip Pertanahan Pasca Bencana

“Saya cuma bilang ke Pak Andi, asal kotanya tidak macet seperti Jakarta, saya mau,” katanya sambil tertawa.

Setibanya di Malang, ia sempat kaget melihat ukuran bandara yang kecil. Namun suasana kota yang sejuk dan dukungan Aremania membuatnya cepat betah. Ia bahkan meminta manajemen mendatangkan kompatriotnya, M Ridwan, agar tidak sendirian.

Keputusan itu terbukti tepat. Duet Noor Alam Shah dan M Ridwan menjadi salah satu kombinasi paling berbahaya di Liga Indonesia saat itu. Ridwan dikenal rajin menyisir sisi lapangan dan “mencuri” bola, sementara Along menjadi eksekutor di depan gawang.

Baca Juga: Menkeu dan PT TASPEN Buka Suara! Teka-teki Kenaikan Gaji PNS dan Pensiunan 2026, Cek Bocoran Jadwal THR

Sosok Temperamental tapi Pelindung

Di balik reputasinya sebagai striker tajam, Noor Alam Shah juga dikenal sebagai pemain temperamental. Ia tak segan terlibat duel keras, bahkan keributan, demi membela rekan setim.

“Saya cuma bilang ke pemain muda, kalau ada yang hajar kamu, saya yang turun,” ujarnya.

Sikap itu diakui membuatnya sering menerima kartu kuning hingga kartu merah. Namun efeknya signifikan. Para pemain muda Arema menjadi lebih berani dan percaya diri.

Baca Juga: Jadwal Libur Ramadan 2026 Resmi Diumumkan, Benarkah Guru Terima Gaji, TPG, dan THR Tiga Kali di Bulan Maret? Ini Faktanya

Mantan pemain seperti Sahril Ishak bahkan menyebut Along sebagai sosok yang membakar semangat ruang ganti, baik di Timnas Singapura maupun di klub.

Momen Kunci Menuju Gelar Juara

Noor Alam Shah mengungkap titik balik Arema saat itu terjadi di putaran kedua musim kompetisi. Kedatangan Esteban Guillen dan solidnya lini tengah membuat tim lebih stabil.

Baca Juga: TPG Guru Harus Validasi Info GTK Tiap Cair? DPR Pastikan UU Perlindungan Guru dan Badan Guru Nasional Masuk Prioritas Prolegnas

Pelatih Robert Rene Alberts, yang juga pernah berkarier di Singapura, disebutnya sudah membaca grafik permainan tim sejak awal.

“Robert sudah bilang, kita akan juara kalau grafiknya begini. Dan itu benar,” kenangnya.

Salah satu laga paling berkesan adalah kemenangan di Wamena. Menurutnya, itu menjadi momentum mental penting. Bahkan ia sempat bercanda ingin mendapatkan kartu agar tak perlu terbang jauh ke Papua karena takut perjalanan udara ekstrem.

Baca Juga: Rapel Gaji Pensiun 2025 Cair Mulai 12 Februari? TASPEN Kediri Jelaskan Mekanisme Tahap 2 dan Penyebab Nominal Berbeda

Namun justru kemenangan di laga-laga tandang berat itulah yang memperkuat mental juara Arema.

Perbedaan Liga Indonesia dan Singapura

Sebagai pemain yang merasakan dua kompetisi berbeda, Noor Alam Shah menilai Liga Indonesia memiliki gairah luar biasa, baik dari sisi suporter maupun kualitas pemain.

Baca Juga: ⁠Harga Cabai Rawit-Ayam Potong Jelang Ramadan Kompak Melambung Tinggi, Pedagang Sebut Ada Momen Unggahan

“Di Singapura regulasi terlalu banyak. Di Indonesia, semangatnya beda. Pendukungnya luar biasa,” ujarnya.

Ia juga mengaku kaget melihat banyak pemain berkualitas di berbagai daerah yang tidak masuk Timnas Indonesia. Menurutnya, potensi sepak bola Indonesia tidak pernah habis.

Kini, setelah mengantongi lisensi kepelatihan hingga level Pro, Noor Alam Shah berambisi melatih di Indonesia suatu hari nanti. Apalagi sang istri berasal dari Indonesia.

Baca Juga: Massa GPI Geruduk PN Blitar, Pertanyakan Rencana Eksekusi Lahan di Jalan Mastrip

“Target saya memang pensiun dan melatih di Indonesia,” tegasnya.

Dari sopir Grab hingga legenda Arema, perjalanan Noor Alam Shah membuktikan bahwa karakter kuat dan jiwa kepemimpinan bisa menjadi faktor pembeda dalam sepak bola.

Editor : Dyah Wulandari
#robert rene alberts #liga indonesia #nor alam #Arema FC