BLITAR - Persib Bandung di bawah kendali Bojan Hodak semakin menunjukkan kelasnya sebagai kandidat kuat peraih gelar juara musim ini. Setelah sukses membawa Maung Bandung meraih trofi back-to-back dalam dua musim terakhir, tangan dingin pelatih asal Kroasia tersebut kini kembali memakan korban.
Dalam laga terbaru melawan PSBS Biak, strategi yang diterapkan Bojan Hodak terbukti sangat dominan dengan statistik yang mencengangkan: 62 persen penguasaan bola dan total 28 tembakan yang dilepaskan sepanjang pertandingan. Keberhasilan Bojan Hodak musim ini tak lepas dari kecerdikannya memadukan skuad juara dengan dua penggawa baru Timnas Indonesia, Tom Haye dan Eliano Reinders. Kehadiran Tom Haye di lini tengah memberikan dimensi baru dalam permainan atraktif Persib.
Bojan menempatkan Haye sebagai playmaker yang tidak hanya menjaga kedalaman, tetapi juga mampu melakukan switch play dan umpan-umpan kunci yang memanjakan lini depan. Sementara itu, kejutan taktik dilakukan Bojan dengan memplot Eliano Reinders sebagai fullback kiri, posisi yang membuatnya leluasa melakukan overlap maupun underlap untuk membongkar pertahanan lawan.
Fleksibilitas Taktik 4-2-3-1 Ala Bojan Hodak
Di atas kertas, Bojan Hodak menggunakan formasi dasar 4-2-3-1, namun di lapangan, skema ini berubah menjadi sangat dinamis. Bojan menerapkan prinsip rotasi posisi saat melakukan build-up serangan. Seringkali, formasi ini bertransformasi menjadi 4-3-3 single pivot atau bahkan menempatkan Tom Haye lebih maju untuk menciptakan situasi overload di area sayap.
Karakter permainan yang fluid atau cair ini membuat struktur pertahanan lawan kesulitan menentukan siapa pemain yang harus dijaga. "Bojan Hodak memberikan lisensi menyerang lebih kepada Reinders meskipun ia dipasang di posisi bek kiri," ungkap analisis taktik pertandingan tersebut.
Selain itu, lini tengah yang diisi duet Marc Klok dan Tom Haye berperan penting dalam menutup lubang saat pemain sayap melakukan serangan balik. Keberanian Bojan menempatkan pemain di posisi yang tidak biasa, seperti Julio Cesar yang terkadang maju melakukan progresi serangan, membuktikan bahwa pelatih Kroasia ini tidak terpaku pada posisi statis pemain.
Dominasi Total dan Catatan Finishing
Meski mendominasi total, gol pertama Persib justru lahir dari titik putih setelah pemain lawan melakukan pelanggaran saat situasi set-piece. Andre Jung sukses mengeksekusi penalti tersebut di penghujung babak pertama. Masuknya Beckham Putra di babak kedua semakin menambah daya gedor. Gol kedua lahir dari kecerdikan Tom Haye melakukan long pass yang mengekspos pertahanan lawan, diteruskan oleh Reinders dan Beckham, hingga akhirnya disambar oleh William di depan gawang.
Namun, di balik kemenangan telak 3-0 tersebut, Bojan Hodak masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup serius di sektor penyelesaian akhir (finishing). Dari 28 tembakan yang tercipta, banyak peluang emas yang gagal dikonversi menjadi gol karena tumpulnya sentuhan akhir para penyerang.
Tom Haye berkali-kali mengirimkan key pass dan melakukan shooting yang membentur tiang, namun papan skor baru benar-benar menjauh lewat gol ketiga hasil progresi individu Julio Cesar yang dituntaskan dengan apik oleh pemain pengganti.
Pertahanan Solid dan Transisi Menuju Lima Bek
Sisi pertahanan Persib di era Bojan Hodak ini nyaris tidak teruji dalam laga melawan PSBS Biak. Lawan hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran berkat sistem man-oriented marking yang diterapkan. Marc Klok dan lini belakang sangat disiplin menjaga pergerakan pemain lawan.
Menariknya, saat sudah unggul tiga gol, Bojan menunjukkan sisi pragmatisnya dengan mengubah taktik menjadi lima bek di belakang untuk mengunci kemenangan. Strategi ini menegaskan bahwa Bojan Hodak adalah pelatih yang mampu menyeimbangkan antara permainan atraktif dan kebutuhan untuk mengamankan poin.
Publik kini menanti, apakah magis Bojan Hodak mampu membawa Persib Bandung mencatatkan sejarah luar biasa dengan mengawinkan tiga gelar juara secara beruntun. Dengan materi pemain bintang yang semakin padu dan taktik yang semakin matang, ambisi tersebut bukanlah hal yang mustahil bagi sang arsitek Kroasia di musim ini. (*)
Editor : Oksania Difa Ilmada