BLITAR - Kekalahan telak 0-3 dari wakil Thailand, Ratchaburi FC, pada leg pertama babak 16 besar AFC Champions League 2 (ACL 2) meninggalkan luka mendalam bagi seluruh penggawa Maung Bandung. Namun, kekalahan memalukan di Stadion Ratchaburi itu kini berubah menjadi bahan bakar utama dalam update Persib terbaru yang mengusung misi balas dendam di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Pelatih Bojan Hodak secara jantan telah menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada jutaan Bobotoh dan berjanji akan menyajikan "neraka" bagi tim tamu pada pertemuan kedua mendatang. Misi berat kini diemban skuad asuhan Bojan Hodak yang wajib menang dengan selisih minimal empat gol tanpa balas.
Dalam update Persib kali ini, sang pelatih mengakui adanya kesalahan strategi dalam menyusun starting lineup yang membuat keseimbangan tim goyah sejak menit awal. Meski Maung Bandung sempat mendominasi penguasaan bola hingga 48 persen, kreativitas lini tengah yang tumpul membuat serangan Ciro Alves dan kolega mudah dipatahkan. Kini, seluruh fokus tim dialihkan untuk menciptakan keajaiban di Bandung dalam laga hidup mati yang dijadwalkan pada 18 Februari mendatang.
Tuntutan Julian Brandt dan Evaluasi Lini Tengah
Kekalahan di Thailand mengungkap lubang menganga di lini tengah Persib, terutama setelah performa Luciano Guekuea dari kubu lawan yang tampil dominan. Hal ini memicu gelombang tuntutan masif dari Bobotoh di jagat maya. Nama bintang Borussia Dortmund, Julian Brandt, secara mengejutkan mencuat sebagai kandidat pemain idaman untuk mengisi slot playmaker kelas dunia.
Status kontrak Brandt yang akan berakhir pada Juni 2026 menjadi celah harapan bagi manajemen untuk melakukan langkah revolusioner guna meningkatkan standar tim di level Asia. Selain isu transfer, sorotan tajam juga mengarah pada performa Alfeandra Dewangga. Banyak pengamat menilai pemain muda ini masih beradaptasi dengan ritme kompetisi internasional yang jauh lebih intens dibandingkan liga domestik.
Bojan Hodak pun menegaskan bahwa kesalahan kecil di level Asia akan langsung dihukum dengan gol, menjadikannya proses belajar yang pahit namun penting bagi Dewangga dan pemain lokal lainnya demi menaikkan standar permainan mereka.
Sumpah Kapten Federico Barba dan Klarifikasi Andrew Jung
Di tengah keputusasaan pasca laga, Federico Barba muncul sebagai sosok pemimpin sejati. Bek asal Italia itu tertangkap kamera menghampiri tribun Bobotoh di Thailand dengan mata merah menahan amarah dan kekecewaan. Barba bersumpah akan membalas setiap tetes keringat dengan kemenangan telak di GBLA.
Aksi heroik sang kapten ini berhasil meredam gejolak amarah suporter dan menyatukan kembali visi tim untuk melakukan remontada atau kebangkitan luar biasa di hadapan publik sendiri. Sementara itu, penyerang asing Andrew Jung juga memberikan klarifikasi terkait isu dirinya mengamuk saat digantikan oleh Sergio Castel.
Jung menegaskan bahwa berita tersebut adalah hoaks dan reaksi emosionalnya murni karena kekecewaan pada diri sendiri, bukan karena tidak menghormati keputusan pelatih. Dengan meredanya konflik internal ini, manajemen Persib kini fokus penuh untuk menyulap GBLA menjadi stadion yang angker bagi Ratchaburi FC demi tiket perempat final ACL 2.
Kontroversi Wasit dan Tuntutan Keadilan AFC
Selain faktor teknis, Persib juga merasa dizalimi oleh kepemimpinan wasit asal Timur Tengah yang enggan meninjau VAR saat insiden jatuhnya Mailson Duarte Baros di kotak penalti. Bobotoh yang geram pun meluncurkan protes keras melalui berbagai platform media sosial, menuntut transparansi dan integritas dari AFC. Amarah suporter yang sudah di puncak ubun-ubun ini diharapkan menjadi energi tambahan bagi para pemain untuk membuktikan bahwa keadilan sejati bisa ditegakkan melalui hasil pertandingan yang adil di lapangan hijau. (*)
Editor : Oksania Difa Ilmada