SURABAYA – ATM Komdis kembali “bunyi” dan membuat Persebaya Surabaya harus merogoh kocek lebih dalam di tengah ketatnya persaingan Super League 2025-2026. Kali ini, Green Force dijatuhi denda Rp25 juta akibat kehadiran suporter tandang saat laga kontra PSIM Yogyakarta.
Sanksi tersebut diputuskan Komite Disiplin (Komdis) PSSI setelah menggelar sidang pada 21, 22, 23, 27, dan 28 Januari 2026. Hukuman itu berkaitan dengan pertandingan pekan ke-18 Super League 2025-2026 antara PSIM Yogyakarta melawan Persebaya Surabaya yang digelar pada 25 Januari 2026.
Pertandingan tersebut menjadi sorotan karena adanya Bonek yang hadir langsung di tribun stadion. Dalam regulasi kompetisi, kehadiran suporter tandang masih menjadi isu sensitif. Hal inilah yang kemudian menyeret Persebaya ke meja sidang Komdis PSSI.
Akumulasi Denda Membengkak
Dalam rilis resmi yang dipublikasikan PSSI, Persebaya dinyatakan melanggar aturan karena adanya suporter klub tamu di laga tersebut. Konsekuensinya, denda finansial kembali harus dibayarkan manajemen.
Sebelum sanksi terbaru ini, total denda yang telah diterima Persebaya sepanjang musim mencapai Rp55 juta. Dengan tambahan Rp25 juta, akumulasi hukuman kini menyentuh angka Rp80 juta. Jumlah tersebut menjadi beban tersendiri bagi klub di tengah kebutuhan menjaga stabilitas tim.
Di satu sisi, kehadiran Bonek di markas PSIM dianggap sebagai bentuk loyalitas tanpa batas kepada tim kebanggaan. Namun di sisi lain, regulasi kompetisi tetap harus ditegakkan.
Manajemen kini dituntut lebih tegas agar “ATM Komdis” tidak kembali berbunyi pada laga-laga berikutnya. Apalagi kompetisi masih panjang dan konsistensi tim di lapangan menjadi prioritas utama.
Dua Rekrutan Lokal Jadi Kunci Taktik
Di tengah sorotan sanksi, pelatih Bernardo Tavares bergerak cepat memperkuat skuad. Memasuki putaran kedua Super League 2025-2026, Persebaya merekrut dua pemain lokal anyar: Ahmad Mujtaba Ilham dan Rian Ardiansyah.
Tavares menegaskan perekrutan ini bukan sekadar menambah kedalaman skuad, tetapi bagian dari strategi menjaga keseimbangan tim.
“Saya mengenalnya dari PSIS Semarang. Dia tampil di banyak pertandingan di sana. Jadi itu solusi yang baik bagi kami karena kami membawa pemain yang lebih berpengalaman,” ujar Tavares soal Rian Ardiansyah, Rabu (11/2/2026).
Meski menit bermain Rian musim ini terbatas, pengalaman dan fleksibilitasnya dinilai penting. Catatan 43 tekel, 49 intersep, dan 15 sapuan menunjukkan kontribusi defensif yang bisa memperkuat lini belakang.
Sementara itu, Ilham Mujtaba direkrut untuk menambah opsi pemain muda yang bisa bermain di lebih dari satu posisi. Jebolan Persebaya U-20 itu mencatat 13 penampilan dan dua gol bersama tim muda.
“Karena kami memiliki banyak pemain muda, sebaiknya kami juga membawa pemain yang lebih berpengalaman yang bisa bermain di lebih dari satu posisi,” tambah Tavares.
Kombinasi pemain muda dan pengalaman diharapkan mampu menjaga konsistensi permainan Green Force hingga akhir musim.
Waspadai Kekuatan Bhayangkara
Di sisi lain, fokus Persebaya kini tertuju pada duel melawan Bhayangkara Presisi FC di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (14/2/2026). Kepercayaan diri tim memang meningkat usai kemenangan atas Bali United, namun Tavares memilih tetap waspada.
Ia menilai Bhayangkara sebagai salah satu tim yang paling aktif di bursa transfer. Sejumlah pemain baru yang direkrut dinilai sudah memahami atmosfer sepak bola Indonesia sehingga tidak membutuhkan adaptasi lama.
“Mereka mendapatkan banyak pemain di bursa transfer kali ini. Ada pemain-pemain kunci dari klub lain,” ujarnya.
Beberapa nama yang disorot antara lain Moussa Sidibé yang sebelumnya menjadi andalan Persis Solo, Privat Mbarga dari Bali United, hingga Yamamoto dan pemain Jepang lainnya.
Berbeda dengan Bhayangkara, Persebaya mendatangkan pemain yang belum memiliki jam terbang panjang di Liga 1. Karena itu, fokus dan disiplin menjadi harga mati agar tidak kembali kecolongan seperti pertemuan pertama.
Selain itu, kondisi tim juga belum sepenuhnya ideal. Malik Risaldi dan Mihailo Perovic diperkirakan absen karena cedera. Situasi ini memaksa Tavares menyiapkan opsi taktis alternatif.
“Target latihan adalah melihat siapa yang tersedia dan memperbaiki hal-hal yang kurang baik di pertandingan terakhir,” jelasnya.
Di tengah tekanan denda dan tantangan di lapangan, Persebaya Surabaya menghadapi ujian ganda: menjaga performa sekaligus menahan agar ATM Komdis tak kembali berbunyi. Konsistensi, disiplin, dan dukungan suporter yang tertib menjadi kunci agar Green Force tetap melaju di jalur persaingan.
Editor : Divka Vance Yandriana