BOJONEGORO – Megawati Hangestri hanya mencetak 5 poin saat Jakarta Pertamina Enduro takluk 1-3 dari Jakarta Livin Mandiri pada lanjutan Proliga 2026 di GOR Utama Bojonegoro, Jumat (13/2). Hasil ini langsung mengguncang klasemen dan memunculkan tanda tanya besar: apa yang terjadi dengan sang Megatron?
Kekalahan Jakarta Pertamina Enduro dari Livin Mandiri menjadi kejutan besar di Proliga 2026. Pasalnya, tim besutan pelatih Enduro masih kokoh di puncak klasemen dengan koleksi 21 poin. Namun performa Megawati Hangestri yang biasanya dominan justru jauh dari ekspektasi.
Megawati Hangestri yang sepanjang musim telah mengoleksi lebih dari 150 poin, kali ini hanya menyumbang 5 angka. Angka tersebut sangat tidak biasa bagi pemain yang menjadi poros serangan Jakarta Pertamina Enduro.
Set Pertama Jadi Awal Petaka
Sejak set pertama dimulai, Jakarta Livin Mandiri langsung tampil agresif. Mereka membuka poin lewat kesalahan (fault) Megawati. Momentum itu terus berlanjut dengan service ace Dian Pratiwi yang memperlebar jarak.
Pertamina Enduro kesulitan membangun serangan. Penerimaan bola pertama yang kurang sempurna membuat pengatur serangan tak mampu memberi umpan matang. Smash keras Megawati dan Wilma Salas berkali-kali dimentahkan blok solid Livin Mandiri.
Pada technical time out pertama, Livin Mandiri unggul 4-8. Situasi makin memburuk saat skor melebar menjadi 6-16. Outside hitter Salsabila Darap Putri alias Billbank tampil impresif dan menutup set pertama dengan skor telak 12-25.
Strategi Tak Berjalan Maksimal
Memasuki set kedua, pelatih Pertamina Enduro mencoba perubahan dengan memasukkan Nur Laili sebagai libero menggantikan Dita Azizah. Harapannya lini pertahanan membaik.
Namun strategi tersebut belum memberi dampak signifikan. Livin Mandiri tetap dominan dan mengamankan set kedua dengan skor 20-25. Ana Belica tampil efektif sebagai opposite dan kerap mencetak poin krusial.
Megawati terlihat kesulitan menembus blok ganda lawan. Beberapa kesalahan sendiri justru memberi tambahan poin bagi Livin Mandiri. Rasio keberhasilan spike yang biasanya tinggi menurun drastis di laga ini.
Baca Juga: Kabar Gembira, Pemkab Blitar Targetkan Pencairan ADD 2026 Februari Ini, Ini Penjelasan DPMD
Sempat Bangkit, Tapi Gagal Kunci Laga
Dalam kondisi tertinggal dua set, Pertamina Enduro mencoba bangkit di set ketiga. Mereka tampil lebih lepas dan mulai menemukan ritme permainan.
Megawati cs memanfaatkan sedikit kelengahan Livin Mandiri dan sukses mencuri set ketiga dengan skor 25-15. Harapan memaksakan laga ke set kelima sempat terbuka.
Namun di set keempat, pertarungan kembali berjalan sengit. Livin Mandiri mampu menjaga fokus dan unggul tipis 14-16 lewat kontribusi Yolla Yuliana dan rekan-rekannya.
Servis ace tajam Ana Belica akhirnya menjadi penutup pertandingan. Livin Mandiri menang 20-25 dan memastikan kemenangan 1-3 atas sang pemuncak klasemen.
Sinyal Bahaya untuk Megawati Hangestri?
Kekalahan ini menjadi peringatan keras bagi Jakarta Pertamina Enduro. Meski tetap berada di puncak klasemen, performa Megawati Hangestri yang hanya mencetak 5 poin jelas jadi sorotan.
Padahal dalam sejumlah laga sebelumnya, Megawati tampil konsisten sebagai mesin poin tim. Ia bukan hanya finisher utama, tetapi juga pengatur tempo serangan dari sektor sayap.
Strategi variasi quick set dan high ball yang biasanya efektif membuka ruang tembak, kali ini berhasil dibaca dengan baik oleh pertahanan Livin Mandiri.
Livin Mandiri menunjukkan kerja sama tim yang solid serta sistem blok dan transisi bertahan-menyerang yang disiplin. Mereka sukses meredam efisiensi serangan Megawati sejak set pertama.
Kemenangan ini mengangkat Livin Mandiri ke posisi empat klasemen sementara dan menjaga asa menuju babak final four. Sebaliknya, Pertamina Enduro harus segera melakukan evaluasi.
Pertanyaan besar kini muncul: apakah ini hanya laga buruk sesaat bagi Megawati Hangestri, atau tanda penurunan performa menjelang fase krusial Proliga 2026?
Yang pasti, duel di Bojonegoro menjadi bukti bahwa di level Proliga, satu pemain bintang saja tidak cukup. Konsistensi tim dan disiplin taktik tetap menjadi kunci.
Kompetisi masih panjang. Namun jika Megawati gagal segera menemukan kembali sentuhan terbaiknya, jalan menuju final four bisa menjadi jauh lebih terjal bagi Jakarta Pertamina Enduro.
Editor : Divka Vance Yandriana