JAKARTA - Sen Lamens perlahan menjelma menjadi fondasi kebangkitan Manchester United musim ini. Di tengah sorotan terhadap empat kemenangan beruntun era Michael Carrick, nama Sen Lamens justru sempat tenggelam. Padahal, kontribusinya di bawah mistar gawang menjadi faktor krusial dalam menjaga konsistensi Setan Merah.
Sejak direkrut pada awal musim, Sen Lamens sempat diragukan. Kiper asal Belgia berusia 23 tahun itu dianggap perjudian besar. Harga transfer yang relatif terjangkau memicu kritik, bahkan sejumlah pihak menilai United seharusnya mengejar nama besar seperti Gianluigi Donnarumma atau Emiliano Martinez.
Namun seiring waktu, performa Sen Lamens justru berbicara lebih lantang daripada kritik.
Baca Juga: Pemerintah Beri Stimulus Tiket KA Lebaran 30 Persen, Imbau Masyarakat Segera Pesan Tiket
Perjudian yang Berbuah Manis
Sebelum kedatangan Lamens, lini belakang United kerap dihantui blunder. Nama Andre Onana dan Altay Bayindir beberapa kali menjadi sasaran kritik akibat kesalahan fatal yang berujung gol lawan.
Manajemen klub akhirnya mengambil jalur berbeda. Rekomendasi pemandu bakat kiper Tony Coton menjadi penentu. Direktur olahraga Jason Wilcox lebih memilih pendekatan berbasis data ketimbang reputasi.
Secara statistik, Lamens tercatat sebagai salah satu kiper dengan jumlah penyelamatan terbanyak di 10 liga top Eropa sebelum direkrut. Ia juga unggul dalam distribusi bola progresif untuk kategori usia di bawah 23 tahun. Kemampuan memotong umpan silang menjadi nilai tambah—area yang sebelumnya menjadi kelemahan United.
Faktor usia dan gaji turut menjadi pertimbangan. Lamens lebih cocok untuk proyek jangka panjang dibanding Martinez yang sudah mendekati usia puncak dan memiliki tuntutan gaji tinggi.
Baca Juga: Pemerintah Beri Stimulus Tiket KA Lebaran 30 Persen, Imbau Masyarakat Segera Pesan Tiket
Statistik yang Sulit Dibantah
Sejak berseragam Manchester United, Lamens baru menelan dua kekalahan dari 18 penampilan. Angka itu kontras dibanding periode sebelumnya di posisi penjaga gawang.
Di era Michael Carrick, ia mencatat dua clean sheet dari empat laga. Salah satu momen krusial terjadi saat menghadapi Fulham, ketika refleks cepatnya menggagalkan peluang jarak dekat Joachim Andersen.
Performa impresif juga terlihat saat United menang dramatis di Emirates Stadium. Lamens beberapa kali menggagalkan peluang Arsenal, termasuk sundulan jarak dekat Martin Zubimendi. Bukan sekadar menepis, ia mengarahkan bola menjauh dari area rebound—detail teknis yang menunjukkan kualitas elite.
Kemampuannya mengantisipasi bola atas juga teruji ketika menghadapi sembilan sepak pojok Arsenal. United hanya kebobolan sekali dari situasi tersebut.
Peran Vital dalam Build Up Carrick
Di bawah asuhan Michael Carrick, peran Lamens tak hanya sebagai shot stopper. Ia menjadi distributor pertama dalam skema build up 4-2 United.
Dalam laga kontra Manchester City, Lamens sukses melepaskan 11 umpan lambung akurat dari 13 percobaan. Long ball tersebut efektif menembus pressing lawan sekaligus memulai transisi cepat.
Ia juga berani memainkan bola pendek ke Kobbie Mainoo dan Casemiro saat membangun serangan dari bawah. Distribusi yang tenang dan presisi membuat United lebih fleksibel dalam variasi serangan.
Stabilitas lini belakang yang diisi Harry Maguire, Lisandro Martinez, Diogo Dalot, dan Luke Shaw turut membantu konsistensinya. Koordinasi antarlini kini lebih solid dibanding periode sebelumnya yang sering mengalami bongkar pasang.
Pro dan Kontra Eks Pemain
Mantan bek United, Phil Jones, memberikan apresiasi tinggi. Ia menilai posisi kiper utama di Old Trafford adalah peran berat, dan Lamens mampu menanganinya dengan baik.
Sebaliknya, eks asisten Sir Alex Ferguson, Rene Meulensteen, masih meragukan kapasitas Lamens sebagai kiper nomor satu jangka panjang. Menurutnya, United belum memiliki penjaga gawang yang benar-benar bisa “memenangkan pertandingan” seperti yang dimiliki Arsenal, Liverpool, atau Manchester City.
Perdebatan ini memperkaya narasi kebangkitan United. Namun fakta di lapangan menunjukkan Lamens memberi rasa aman yang sebelumnya jarang dirasakan pendukung.
Jika ada satu kata untuk menggambarkan perannya musim ini, itu adalah “keamanan”. Setiap kali namanya tercantum di starting XI, tingkat kecemasan publik Old Trafford menurun.
Kini, dengan United berada di jalur perebutan empat besar Premier League, konsistensi Lamens berpotensi menjadi pembeda. Di tengah euforia kebangkitan era Carrick, satu hal semakin jelas: Sen Lamens bukan lagi perjudian—ia mulai menjelma menjadi investasi masa depan Manchester United.
Editor : Divka Vance Yandriana