Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Persija “Klub Sultan” Baru? Di Balik Transfer Mewah, Ada Strategi Besar Menuju Juara 2027

Divka Vance Yandriana • Selasa, 17 Februari 2026 | 18:45 WIB
Persija Jakarta tertinggal dari Persib Bandung di Super League 2026. Mauricio Souza kirim pesan tegas usai kalah dari Arema FC.
Persija Jakarta tertinggal dari Persib Bandung di Super League 2026. Mauricio Souza kirim pesan tegas usai kalah dari Arema FC.

JAKARTA – Narasi besar sedang ditulis di ibu kota. Gebrakan transfer Persija Jakarta membuat publik sepak bola nasional terperangah. Macan Kemayoran yang musim lalu diterpa isu krisis, kini menjelma menjadi salah satu klub dengan belanja paling agresif di Liga 1.

Tujuh pemain baru didatangkan hanya dalam satu jendela transfer. Bukan nama sembarangan. Ada Jen Mota yang pernah satu tim dengan Lionel Messi di Inter Miami, Paulo Ricardo yang berpengalaman di UEFA Conference League, hingga top skor Liga India musim lalu Aladin Ajari. Ditambah deretan diaspora seperti Syidatinama, Mauro Zilstra, dan kiper potensial Seus Margono.

Total belanja Januari disebut menyentuh Rp36,49 miliar—lebih besar dibanding rival abadi Persib Bandung yang mengeluarkan sekitar Rp22,60 miliar untuk lima pemain.

Baca Juga: Panen Raya Cabai Ribuan Hektar di Kabupaten Blitar Terancam Gagal Dampak Terserang Hama Penyakit

Kini Persija dinobatkan sebagai skuad termahal kedua di liga dengan valuasi total sekitar Rp15 miliar. Pertanyaannya: dari mana datangnya dana sebesar itu?


Disokong BUMD dan Sponsor Tambang

Awal musim ini, Persija mendapat dukungan signifikan dari sejumlah BUMD DKI Jakarta. Kolaborasi itu diluncurkan langsung oleh Wakil Gubernur saat itu, termasuk kerja sama dengan Bank Jakarta, PAM Jaya, TransJakarta hingga MRT Jakarta.

Direktur Utama Persija Muhammad Prapanca menyebut target komersialisasi dari dukungan sponsor tersebut mencapai Rp7 miliar.

Tak hanya BUMD. Persija juga mendapat dukungan dari perusahaan tambang seperti Aman Mineral dan Tapin Coal Terminal. Bahkan musim ini mereka mendapat suntikan sponsor dari Hyundai Motors Indonesia.

Baca Juga: Profil 11 Pemain Asing Persib Bandung Usai Datangkan Tom Haye, Federico Barba, dan Patrick Mortensen

Secara bisnis, kombinasi sponsor pemerintah daerah dan swasta ini menjadi fondasi utama pembiayaan operasional klub: belanja pemain, gaji, logistik hingga pengembangan infrastruktur.


Peran Gubernur dan Target 2027

Sosok Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung disebut memiliki ambisi besar: Persija harus juara pada 2027, bertepatan dengan 500 tahun Jakarta.

Tak hanya dukungan sponsor, kebijakan keringanan pajak tontonan hingga 60 persen membuat Persija hanya membayar sekitar 4 persen pajak pertandingan kandang. Ini memberi ruang finansial lebih longgar bagi manajemen.

Namun langkah ini juga memicu cibiran. Persija sempat dijuluki “klub APBD” oleh rival. Meski begitu, secara regulasi, sponsor dari BUMD sah selama transparan dan akuntabel.

Baca Juga: Hasil FA Cup 2026 Babak 32 Besar Lengkap: Arsenal Menggila, Liverpool Lolos, Manchester City Melaju, Ini Daftar Top Skor Terbaru


Di Balik Layar: Bakrie Group

Sejak 2018, 100 persen saham Persija berada di bawah kendali Nirwan Bakrie melalui PT Persija Jaya Jakarta. Nirwan bukan nama baru di sepak bola nasional. Ia pernah mengelola Pelita Jaya dan dikenal sebagai pionir model government-backed football di era 1990-an.

Model ini menggabungkan dukungan pemerintah daerah dan kekuatan swasta. Dalam konteks Persija, pendekatan tersebut kini tampil lebih modern—tidak sepenuhnya bergantung pada pemda, tetapi memanfaatkan sinergi BUMD dan korporasi besar.

Pertanyaannya, apakah model ini ideal?

Di satu sisi, sokongan dana besar memungkinkan Persija kompetitif dan berambisi menembus Liga Champions Asia. Di sisi lain, ketergantungan pada jejaring pemerintah berisiko jika tidak dikelola transparan.


PR Besar: Prestasi dan Stabilitas

Transfer mahal tak selalu menjamin prestasi. Di bawah pelatih Mauricio Souza, performa Persija masih inkonsisten, termasuk kekalahan kandang dari Arema yang membuat jarak poin dengan Persib melebar.

Manajemen sebenarnya sudah mencoba menjaga neraca tetap sehat dengan melepas beberapa pemain seperti Alan Cardoso dan Gustavo Franca untuk meringankan beban gaji.

Kini kunci ada pada pengelolaan profesional: pembayaran gaji tepat waktu, penguatan akademi, serta keputusan teknis yang terukur.

Sejarah menunjukkan model ini pernah berhasil. Pada 2018, Persija juara liga dengan dukungan finansial kuat dari Bakrie Group. Namun publik juga belajar dari kasus klub seperti Persipura dan Sriwijaya FC yang pernah berjaya dengan dukungan pemda, lalu terpuruk saat sokongan melemah.


Jalan Berbeda Menuju Sukses

Setiap klub punya cara berbeda menuju kejayaan. Persib memilih model relatif mandiri, sementara Persija menempuh jalur kolaborasi pemerintah dan korporasi besar.

Apakah strategi ini akan membawa Persija juara pada 2027?

Jawabannya tergantung pada satu hal: tata kelola. Dari mana pun sumber dananya, tanpa manajemen modern dan transparan, klub sebesar apa pun bisa runtuh.

Saat ini, Macan Kemayoran sedang menikmati fase ambisiusnya. Euforia transfer sudah tercipta. Tinggal membuktikan di lapangan: apakah ini awal dinasti baru di ibu kota, atau sekadar proyek mahal tanpa mahkota?

Editor : Divka Vance Yandriana
#persija jakarta #liga 1 #Transfer Liga Indonesia 2026