KEDIRI - Persik Kediri dipastikan tidak akan menggelar laga kandang melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Brawijaya pada pekan ke-21. Keputusan ini diambil setelah pihak kepolisian tidak memberikan izin keamanan untuk pertandingan tersebut.
Situasi ini membuat Persik Kediri kembali harus menjadi “tim musafir” dalam laga kandangnya. Pertandingan home ketiga Macan Putih musim ini kemungkinan besar kembali digelar di luar Kota Kediri, meski masih berada di wilayah Jawa Timur.
Penolakan izin tersebut bukan tanpa alasan. Aparat keamanan mempertimbangkan histori pertemuan kedua tim saat masih berlaga di Liga 2 beberapa tahun lalu yang berakhir ricuh.
Faktor Kericuhan Masa Lalu
Pertemuan Persik Kediri dan PSIM Yogyakarta di masa lalu sempat memicu kericuhan besar hingga larut malam. Akses lalu lintas di sekitar Stadion Brawijaya lumpuh total akibat suporter yang berkerumun di jalan raya.
Saat itu, suporter PSIM sempat tertahan di area sekitar kolam renang Tayasa yang berada di utara stadion. Insiden tersebut menjadi catatan serius bagi kepolisian.
Selain PSIM, laga Persik melawan Arema Malang juga disebut sebagai pertandingan berisiko tinggi. Meski suporter tim tamu dilarang hadir, sejumlah oknum kerap masuk ke Kota Kediri dan memicu gesekan di beberapa titik.
Baca Juga: Profil 11 Pemain Asing Persib Bandung Usai Datangkan Tom Haye, Federico Barba, dan Patrick Mortensen
Karena alasan tersebut, izin penggunaan Stadion Brawijaya untuk laga kontra PSIM kali ini tidak diterbitkan.
Opsi Stadion Alternatif
Ketua panitia pelaksana, Widodo, saat ini tengah mencari alternatif venue. Salah satu stadion yang ditinjau adalah Stadion Surajaya Lamongan.
Jika keputusan final diambil, maka laga Persik Kediri melawan PSIM Yogyakarta hampir pasti digelar di luar Kediri. Artinya, dukungan penuh dari Persikmania kembali tidak bisa maksimal dirasakan langsung di kandang sendiri.
Kondisi ini tentu menjadi kerugian tersendiri bagi Persik Kediri yang tengah berjuang memperbaiki posisi di klasemen.
Ancaman Lebih Besar Musim Depan
Masalah tidak berhenti di situ. Persik Kediri juga menghadapi ancaman lebih serius untuk musim depan. PSSI dikabarkan menerapkan standar baru bagi klub Liga 1 terkait kelayakan stadion sebagai home base.
Beberapa syarat utama yang wajib dipenuhi antara lain pencahayaan stadion minimal 1.600 lux dan minimal 5.000 kursi single seat. Selain itu, kualitas rumput, drainase, serta fasilitas ruang ganti juga harus memenuhi standar tertentu.
Stadion Brawijaya dinilai belum memenuhi syarat tersebut. Lampu stadion yang baru diganti dengan LED disebut masih berada di kisaran 1.400 hingga 1.500 lux. Artinya, masih di bawah standar minimal yang ditetapkan.
Dari sisi tempat duduk, Brawijaya juga belum memiliki 5.000 single seat karena sebagian besar tribun masih berupa beton cor.
Renovasi Sulit Terealisasi
Jika harus memenuhi seluruh persyaratan tersebut, renovasi Stadion Brawijaya diperkirakan hampir menyentuh 100 persen struktur stadion. Hal itu tentu memerlukan waktu dan biaya besar.
Di sisi lain, pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati saat ini masih dalam tahap pengerjaan, termasuk pemasangan atap. Target penyelesaian stadion baru tersebut diperkirakan pada 2027.
Dengan waktu yang terbatas, peluang Persik Kediri menggunakan Brawijaya sebagai kandang musim depan terbilang sangat kecil. Jika tidak ada solusi cepat, Macan Putih berpotensi menjadi tim musafir hingga stadion baru selesai dibangun.
Harapan Persikmania
Persikmania tentu berharap ada kepastian segera terkait lokasi laga kandang terdekat, termasuk saat menjamu PSIM dalam waktu dekat. Dukungan suporter dinilai sangat penting untuk menjaga mental dan performa tim.
Namun realitas saat ini menunjukkan bahwa faktor keamanan dan regulasi menjadi pertimbangan utama.
Untuk sementara, Persik Kediri harus bersiap menjalani laga kandang di luar Kota Kediri. Sambil menunggu kejelasan renovasi atau rampungnya Stadion Gelora Daha Jayati, Macan Putih dituntut tetap fokus menjaga performa di tengah situasi yang tidak ideal.
Editor : Divka Vance Yandriana