BLITAR - Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) yang seharusnya menjadi "neraka" bagi tim tamu, kini justru menjadi momok bagi sang tuan rumah sendiri. Fenomena aneh sedang menyelimuti perjalanan Persebaya Surabaya di GBT sepanjang musim 2025/2026. Alih-alih tampil perkasa dengan dukungan puluhan ribu Bonek, tim berjuluk Bajol Ijo ini justru sering terlihat kesulitan dan kehilangan poin krusial saat berlaga di hadapan publik sendiri.
Hingga memasuki pertengahan Februari 2026, catatan statistik menunjukkan ketimpangan performa yang cukup mencolok. Persebaya yang biasanya dikenal garang, justru terlihat lebih leluasa saat bermain di kandang lawan. Ketidakmampuan menjaga keangkeran stadion kebanggaan warga Surabaya ini memicu diskusi hangat di kalangan pengamat sepak bola dan suporter fanatik mereka, Bonek Mania. Banyak yang mempertanyakan apakah masalah ini murni teknis di lapangan atau ada beban psikologis yang terlalu berat saat bermain sebagai tuan rumah.
Laga-laga kandang yang dilakoni Persebaya Surabaya di GBT musim ini memang penuh dengan kejutan pahit. Sebut saja kekalahan memalukan di laga pembuka saat menjamu PSIM Yogyakarta. Puncaknya, kekalahan telak 1-3 dari Persija Jakarta menjadi bukti sahih bahwa GBT tidak lagi menjadi benteng yang menakutkan bagi lawan. Ironisnya, performa ini berbanding terbalik dengan hasil laga tandang, di mana Bruno Moreira dan kawan-kawan justru sukses mencuri poin penuh di markas tim kuat seperti Persita Tangerang dan Bali United.
Baca Juga: Hilal Tak Terlihat di Kota Blitar, Pemerintah Resmi Umumkan Awal Ramadan Jatuh Pada Kamis
Tekanan Ekspektasi Tinggi di Hadapan Bonek
Salah satu faktor utama yang diduga menjadi penyebab merosotnya performa tim adalah tekanan ekspektasi. Bermain di depan puluhan ribu suporter fanatik adalah kebanggaan luar biasa, namun bagi sebagian pemain, hal ini bisa berubah menjadi beban mental. Rasa takut melakukan kesalahan di depan publik sendiri seringkali membuat aliran bola menjadi tidak cair. Beberapa pemain terlihat tampil lebih tegang dan kurang berani melakukan improvisasi dibandingkan saat mereka bermain di luar kota yang tekanannya relatif lebih rendah.
Strategi "Parkir Bus" Tim Tamu yang Merepotkan
Selain faktor mental, tantangan taktis juga menjadi penghalang besar bagi Persebaya Surabaya di GBT. Banyak tim tamu yang datang ke Surabaya dengan instruksi bertahan total atau dikenal dengan istilah "parkir bus". Strategi ini terbukti efektif meredam agresivitas serangan Bajol Ijo. Persebaya seringkali dominan dalam penguasaan bola, namun buntu saat harus membongkar pertahanan rapat. Kelengahan saat asyik menyerang inilah yang kemudian dimanfaatkan lawan untuk melancarkan serangan balik cepat, seperti yang terlihat saat kekalahan menyakitkan dari Dewa United dan Malut United.
Masalah Finishing dan Kesalahan Individu
Efektivitas penyelesaian akhir menjadi catatan merah bagi pelatih Bernardo Tavares. Meski mendominasi permainan, barisan depan Persebaya seringkali membuang peluang emas. Kurangnya ketenangan di kotak penalti lawan membuat banyak momentum terbuang percuma. Tavares sendiri sempat menyoroti beberapa kesalahan individu fatal yang terjadi justru saat tim sedang berada di atas angin. Kesalahan elementer seperti salah umpan di area pertahanan sendiri menjadi makanan empuk bagi lawan untuk mencuri gol.
Evaluasi Manajemen dan Harapan di Putaran Kedua
Melihat tren negatif ini, manajemen Persebaya tidak tinggal diam. Tuntutan evaluasi besar-besaran dari Bonek telah direspons dengan langkah nyata. Manajemen mulai melakukan perombakan di jajaran staf kepelatihan dan mendatangkan pemain asing baru guna meningkatkan kualitas permainan di putaran kedua. Tujuannya jelas: mengembalikan GBT sebagai tempat yang angker bagi lawan, bukan beban bagi kawan. Perbaikan komunikasi antar lini dan penguatan mental bertanding menjadi fokus utama agar Persebaya kembali ke jalur juara.
Kini, tantangan besar ada di tangan Bernardo Tavares untuk meramu strategi yang tepat guna memutus "kutukan" kandang ini. Jika masalah efektivitas serangan dan ketenangan mental tidak segera dibenahi, ambisi untuk merajai kompetisi musim ini bisa saja kandas di tengah jalan. Bonek tentu berharap di sisa musim ini, raungan Bajol Ijo akan kembali menggelegar di Stadion Gelora Bung Tomo. (*)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly