BLITAR - Dukungan terhadap Persija Jakarta justru menjadi bumerang bagi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia diserang netizen setelah tim berjuluk Macan Kemayoran itu menelan kekalahan dari Arema FC. Namun, respons Pramono justru membuat publik terdiam dan menuai perhatian luas.
Kata kunci utama: gubernur Persija
Dalam beberapa hari terakhir, isu “gubernur Persija” ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet menilai Pramono terlalu ikut campur dalam urusan klub sepak bola ibu kota tersebut. Kritik itu memuncak setelah Persija kalah 0-2 dari Arema FC.
Namun, di balik kritik tersebut, Pramono justru menunjukkan sisi emosionalnya sebagai pendukung. Ia mengaku kekalahan Persija sangat memengaruhi perasaannya, bahkan sampai mengganggu waktu istirahatnya.
Respons Santai Tapi Menohok
Pernyataan itu disampaikan saat acara silaturahmi akbar kaum Betawi yang digelar di Museum MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026). Dalam suasana yang awalnya formal, topik Persija justru mencairkan suasana.
Pramono secara terbuka menanggapi kritik yang menyebut dirinya terlalu fokus pada Persija. Ia tak menampik tudingan tersebut, bahkan menjawab dengan santai namun menohok.
“Ya masa saya ngurus yang lain, ya pasti Persija saya urusin. Kemarin kalah 2-0 lawan Arema saja enggak bisa tidur saya,” ujarnya disambut tepuk tangan dan tawa hadirin.
Pernyataan tersebut langsung viral di media sosial. Banyak yang menilai respons tersebut sebagai bentuk kejujuran sekaligus kedekatan emosional seorang kepala daerah dengan klub kebanggaan warganya.
Bentuk Tanggung Jawab Moral
Bagi Pramono, dukungan terhadap Persija bukan sekadar hobi pribadi. Ia menganggap hal tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab moral sebagai gubernur DKI Jakarta.
Menurutnya, Persija bukan hanya klub sepak bola, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan warga ibu kota. Karena itu, ia merasa wajar jika memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan tim tersebut.
“Menang bikin lega, kalah bisa terbawa sampai ke rumah,” ungkapnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa keterlibatannya bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk empati terhadap perasaan masyarakat Jakarta yang mencintai Persija.
Dinamika Emosi Suporter
Kekalahan dari Arema FC memang menyisakan kekecewaan mendalam, terutama karena ekspektasi terhadap Persija di musim 2025-2026 cukup tinggi. Tekanan publik pun ikut meningkat, baik kepada tim maupun pihak-pihak yang dianggap terkait.
Pramono bahkan sempat berkelakar soal pertemuannya dengan Ketua Umum The Jakmania, Dicky Sumarno. Ia mengaku sempat merasa sebal harus bertemu setelah hasil buruk tersebut.
Namun, hal itu dinilai sebagai bagian dari dinamika emosional dalam mendukung sebuah klub sepak bola. Tidak hanya suporter, bahkan pejabat publik pun bisa merasakan hal yang sama.
Publik Mulai Berbalik Simpati
Di tengah derasnya kritik, banyak pihak justru memberikan pembelaan terhadap Pramono. Mereka menilai sikap terbuka sang gubernur sebagai bukti nyata kedekatannya dengan masyarakat.
Bagi sebagian warga, wajar jika seorang gubernur peduli terhadap klub daerahnya sendiri. Bahkan, hal itu dianggap sebagai nilai positif yang menunjukkan keberpihakan pada identitas lokal.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana sepak bola memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat, termasuk di tingkat pemerintahan.
Kini, sorotan tidak hanya tertuju pada performa Persija di lapangan, tetapi juga pada dukungan dari berbagai elemen, termasuk gubernur. Dukungan tersebut diharapkan mampu menjadi energi tambahan bagi Persija untuk bangkit di pertandingan berikutnya.
Di sisi lain, perdebatan soal “gubernur Persija” juga menjadi refleksi tentang batas antara peran publik dan kecintaan pribadi. Namun yang jelas, respons Pramono telah mengubah kritik menjadi perbincangan yang lebih luas dan penuh perspektif.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana