BLITAR - AC Milan kembali menorehkan babak emas di pentas Eropa berkat tangan dingin Carlo Ancelotti, yang mampu mengubah tim yang sempat terseok-seok menjadi raksasa sepak bola kembali berprestasi.
Kombinasi antara pengalaman para legenda dan bakat muda membuat Rossoneri menjuarai dua gelar Liga Champions dalam periode 2003 hingga 2007, sekaligus membangkitkan reputasi klub yang sempat redup di akhir dekade 1990-an.
Era Krisis dan Transisi Milan
Masa sulit Milan terjadi ketika ikon seperti Franco Baresi dan Mauro Tassotti pensiun, meninggalkan lubang besar di lini pertahanan. Penunjukan pelatih Alberto Zaccheroni pada akhir 1990-an sempat membawa harapan baru, terutama dengan kedatangan Oliver Bierhoff dan George Weah.
Namun performa Milan tidak konsisten, baik di Serie A maupun Liga Champions. Tim sempat finis ke-11 dan ke-10 di Serie A musim 1996–1998, menandai periode transisi yang penuh tantangan.
Kedatangan Andriy Shevchenko dari Dynamo Kiev dan Gennaro Gattuso dari Salernitana mulai memberikan sinyal perubahan. Shevchenko menjadi mesin gol Milan, sementara Gattuso membawa semangat juang di lini tengah. Meski demikian, Milan belum menemukan harmoni yang membuat mereka kembali menjadi tim impian seperti era sebelumnya.
Ancelotti dan Revolusi Taktik
Penunjukan Carlo Ancelotti pada 2001 menjadi titik balik bagi Milan. Ancelotti dikenal dengan pendekatan sabar dan inovatif. Salah satu langkah briliannya adalah mengubah Andrea Pirlo menjadi regista atau gelandang pengatur serangan.
Perubahan ini menghubungkan lini pertahanan dan serangan dengan sempurna, sementara Rui Costa mendukung dua striker tajam, Shevchenko dan Filippo Inzaghi, yang haus gol di depan gawang.
Di lini belakang, kehadiran Alessandro Nesta dan Paolo Maldini menjadikan pertahanan Milan salah satu yang terkokoh di Eropa. Sementara itu, Clarence Seedorf menambah kedalaman lini tengah dengan stamina dan kekuatan fisik luar biasa. Ancelotti juga mempromosikan Dida sebagai kiper utama, meskipun ia masih kerap melakukan kesalahan. Formasi berlian 4-1-2-1-2 dan pengaturan posisi yang matang membuat Milan tampil lebih dinamis.
Puncak Kejayaan: Liga Champions 2003
Musim 2002–2003 menjadi bukti genius taktik Ancelotti. Milan tampil impresif di Liga Champions, termasuk mengalahkan Real Madrid dan Bayern Munchen di fase grup. Di semifinal, mereka menyingkirkan rival sekota Inter Milan melalui gol tandang Shevchenko, lalu menghadapi Juventus di final di Old Trafford.
Pertandingan berakhir imbang 0-0 hingga adu penalti, di mana Shevchenko menuntaskan eksekusi dengan tenang, membawa Milan juara Eropa untuk keenam kalinya.
Kemenangan ini bukan hanya gelar, tetapi juga simbol kebangkitan Milan setelah empat tahun tanpa trofi. Paolo Maldini, yang menorehkan sejarah serupa dengan ayahnya Cesar 40 tahun sebelumnya, menjadi Man of the Match, sementara Ancelotti membuktikan diri setelah dianggap gagal di Juventus.
Konsolidasi dan Gelar Kedua Eropa
Memasuki musim 2003–2004, Ancelotti memperkuat skuad dengan kedatangan Kaka dari Sao Paulo dan Kafu dari AS Roma. Perpaduan ini memperkuat lini serang Milan, sementara pertahanan tetap solid dengan Nesta, Maldini, dan Stam.
Meski sempat gagal di final Piala Dunia Antarklub 2003 melawan Boca Juniors dan dikejutkan Deportivo La Coruna di Liga Champions, Milan tetap fokus pada Scudetto Serie A.
Di musim berikutnya, Milan kembali ke Liga Champions dengan skuad yang semakin matang. Pada final 2007 melawan Liverpool di Athena, Milan yang kini lebih tua secara rata-rata usia menunjukkan kekuatan dan ketangguhan. Kemenangan 2-1 diakhiri Milan sebagai juara, membalas kekalahan dramatis di Istanbul dua tahun sebelumnya dan menegaskan dominasi tim di era Ancelotti.
Warisan Ancelotti di Milan
Dari 2003 hingga 2007, Carlo Ancelotti memimpin Milan dalam 423 pertandingan, meraih semua trofi penting termasuk satu Scudetto dan dua Liga Champions. Tim ini menjadi contoh sempurna penggabungan pengalaman dan bakat muda, serta bukti bahwa strategi dan taktik yang tepat mampu mengubah tim yang sempat rapuh menjadi raksasa Eropa yang dihormati di seluruh dunia.
Editor : Axsha Zazhika