BLITAR - Bonek dan kereta api seperti dua hal yang sulit dipisahkan dalam sejarah panjang Persebaya Surabaya. Tradisi Bonek naik kereta api saat away day sudah berlangsung sejak era perserikatan. Namun di balik romantisme dukungan total tersebut, tersimpan cerita kelam yang tak banyak diketahui publik.
Bagi Bonek, kereta api bukan sekadar moda transportasi menuju kota lawan. Kereta api adalah simbol kebersamaan, solidaritas, dan perjuangan mendukung Persebaya berlaga di luar kandang. Sayangnya, dalam perjalanannya, Bonek kerap mendapat stigma negatif akibat berbagai gesekan yang terjadi di sejumlah daerah.
Cerita tentang Bonek naik kereta api kembali mencuat setelah salah satu suporter membagikan pengalamannya saat perjalanan menuju Semarang. Ia mengaku pernah diteror dan dilempari batu ketika kereta yang ditumpanginya melintas pada tengah malam.
Awal Mula Tradisi Away Day Bonek
Persebaya yang berdiri sejak 1927 dikenal sebagai klub legendaris dengan basis suporter fanatik. Bonek, singkatan dari Bondo Nekat, disebut sebagai pelopor suporter yang mengorganisir dukungan tandang dalam jumlah besar di Indonesia.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, rombongan suporter mulai melakukan away day menggunakan bus dan kereta api. Namun kereta api menjadi pilihan utama karena lebih ekonomis dan mampu mengangkut massa dalam jumlah besar.
Selain faktor biaya, suasana perjalanan menjadi daya tarik tersendiri. Bernyanyi bersama, memenuhi gerbong dengan atribut hijau, hingga menjalin solidaritas antarsuporter menjadi pengalaman tak terlupakan.
Namun, mobilisasi besar-besaran itu juga memunculkan resistensi dari sebagian warga daerah yang dilewati.
Dilempari Batu Saat Melintas Semarang
Salah satu pengalaman paling membekas terjadi saat kereta rombongan Bonek melintas di Semarang. Rivalitas Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama antara Persebaya dan PSIS Semarang, kala itu sedang memanas.
Seorang suporter menceritakan bagaimana ia diminta bersembunyi di bawah kursi ketika kereta memasuki wilayah Semarang. Tepat sekitar pukul 00.00, lemparan batu menghantam jendela dari kiri dan kanan.
“Kami hanya bisa tiarap dan berlindung. Jendela pecah, serpihan kaca beterbangan,” ungkapnya.
Situasi tersebut membuat penumpang panik. Beberapa bahkan mengangkat kursi untuk dijadikan tameng. Dalam kondisi kereta tetap berjalan, mereka tidak bisa membalas, hanya bertahan dari serangan.
PT KAI sebenarnya telah mengantisipasi dengan pengawalan keamanan dan tidak menghentikan kereta di stasiun rawan. Namun kerusakan tetap terjadi. Kerugian akibat kaca pecah hingga kerusakan lokomotif disebut mencapai ratusan juta rupiah.
Ironisnya, setiap insiden seringkali memicu pemberitaan yang kembali memperkuat citra negatif Bonek.
Stigma Negatif dan Peran Media
Sebagian suporter menilai media lebih sering menyorot sisi gelap Bonek ketimbang aktivitas positif mereka. Padahal, komunitas ini juga aktif dalam kegiatan sosial seperti penggalangan dana bencana dan pembangunan fasilitas ibadah.
Menurut mereka, pemberitaan negatif dianggap lebih menarik klik dan meningkatkan oplah. Akibatnya, citra Bonek selalu identik dengan kerusuhan, meski perubahan sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Bonek Kini Lebih Dewasa
Seiring pergantian generasi, wajah Bonek perlahan berubah. Kekerasan dan anarkisme mulai ditinggalkan. Saat ini, banyak suporter yang menekankan pentingnya menjaga nama baik klub dan komunitas.
Tradisi Bonek naik kereta api tetap dipertahankan, tetapi dengan semangat berbeda. Kereta api masih dianggap sebagai transportasi paling murah, nyaman, dan mempererat kebersamaan.
Pengalaman final Liga 2 di Bandung menjadi bukti. Rombongan suporter dari berbagai daerah berkumpul dalam satu gerbong, bernyanyi bersama tanpa insiden berarti.
Kini layanan kereta api juga semakin baik, dengan fasilitas AC dan pengamanan yang lebih ketat dibanding era terdahulu.
Menjaga Masa Depan yang Lebih Baik
Cerita kelam masa lalu perlahan menjadi pelajaran. Harapannya, gesekan antarwilayah dan kerusakan sarana transportasi tak lagi terulang.
Pesan yang kini digaungkan adalah menjaga fasilitas umum dan membangun citra positif suporter sepak bola Indonesia. Bonek, dengan sejarah panjangnya, diharapkan menjadi contoh perubahan.
Kereta api dan Bonek akan selalu memiliki cerita. Bedanya, masa depan diharapkan bukan lagi tentang lemparan batu dan kaca pecah, melainkan solidaritas, sportivitas, dan dukungan tanpa kekerasan.
Editor : Axsha Zazhika