BLITAR - Sejarah Bonek Persebaya selalu menarik untuk dibahas, terutama bagi pecinta sepak bola nasional. Julukan Bonek yang melekat pada suporter Persebaya Surabaya bukan sekadar nama, melainkan identitas yang lahir dari perjalanan panjang penuh militansi dan loyalitas.
Sejarah Bonek Persebaya bermula pada akhir 1980-an, tepatnya saat kompetisi Perserikatan musim 1987-1988. Dalam momen itulah istilah Bonek pertama kali muncul dan kemudian menjadi simbol totalitas dukungan untuk Bajul Ijo.
Kini, Bonek Persebaya tidak hanya dikenal sebagai suporter militan, tetapi juga komunitas yang aktif dalam kegiatan sosial melalui berbagai gerakan seperti Bonek Peduli.
Awal Mula Julukan Bonek
Secara harfiah, Bonek merupakan akronim dari “Bondo Nekat” yang berarti modal nekat. Istilah ini menggambarkan keberanian suporter Persebaya Surabaya yang rela berangkat mendukung tim kesayangan meski dengan bekal minim.
Pada musim 1987-1988, Persebaya berhasil lolos ke babak 12 besar dan menghadapi Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan. Saat itu, belum lazim suporter tim tamu datang langsung ke stadion lawan dalam jumlah besar.
Namun antusiasme pendukung Persebaya tak terbendung. Ribuan suporter nekat berangkat ke Jakarta secara mandiri tanpa koordinasi matang. Banyak yang tidak memiliki tiket pertandingan, bahkan kehabisan bekal untuk kembali ke Surabaya.
Pemandangan suporter yang terlantar di sekitar stadion dan sudut ibu kota membuat sejumlah tokoh angkat bicara. Dari situlah istilah Bondo Nekat atau Bonek mulai dikenal luas.
Siapa yang Mencetuskan Istilah Bonek?
Ada beberapa versi mengenai pencetus istilah Bonek Persebaya. Salah satu versi menyebutkan bahwa Dahlan Iskan, yang saat itu menjadi petinggi surat kabar ternama di Jawa Timur, adalah sosok pertama yang menyebut suporter Persebaya sebagai “Bonek”.
Ia disebut geleng-geleng kepala melihat banyaknya pendukung Persebaya yang datang ke Senayan tanpa perbekalan cukup. Sebutan Bondo Nekat pun terlontar untuk menggambarkan keberanian tersebut.
Versi lain menyebutkan nama Purnomo Kasidi, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Persebaya sekaligus Wakil Ketua DPRD Jawa Timur. Ia melihat para suporter beristirahat di halaman hotel tempatnya menginap karena tak memiliki biaya penginapan. Dari situlah istilah Bonek kembali disebut.
Meski awalnya berkonotasi negatif, para pendukung Bajul Ijo justru merangkul istilah tersebut. Bonek tidak lagi dimaknai sebagai nekat tanpa perhitungan, melainkan simbol loyalitas tanpa batas.
Dari Stigma Negatif Jadi Identitas Kebanggaan
Perjalanan sejarah Bonek Persebaya tidak selalu mulus. Dalam beberapa periode, istilah Bonek sempat identik dengan kericuhan dan citra negatif.
Namun seiring waktu, suporter Persebaya berbenah. Identitas Bonek kini lebih identik dengan solidaritas, kreativitas, dan gerakan sosial. Komunitas Bonek Peduli misalnya, aktif dalam kegiatan kemanusiaan seperti penggalangan dana dan bantuan bencana.
Militansi Bonek tetap terlihat setiap Persebaya berlaga, baik di kandang maupun tandang. Ribuan suporter selalu memadati stadion untuk memberi dukungan penuh kepada Green Force.
Tradisi “away day” atau mendukung langsung di kandang lawan bahkan disebut sebagai salah satu pelopor di Indonesia. Langkah berani Bonek pada era Perserikatan menjadi inspirasi budaya suporter di tanah air.
Rivalitas dan Derbi Panas Jawa Timur
Tak bisa dipungkiri, sejarah Bonek Persebaya juga lekat dengan rivalitas panas. Laga melawan klub-klub besar seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, hingga PSIS Semarang selalu menyedot perhatian.
Namun yang paling emosional adalah pertandingan melawan Arema FC. Derbi Jawa Timur ini dikenal sebagai salah satu laga paling panas di Indonesia.
Tiket pertandingan antara Persebaya dan Arema kerap ludes dalam hitungan menit. Atmosfer stadion selalu membara sejak sebelum laga dimulai hingga peluit akhir berbunyi.
Meski rivalitas begitu kuat, banyak pihak berharap suporter tetap mengedepankan sportivitas dan menjadikan sepak bola sebagai ajang persaudaraan.
Bonek Hari Ini dan Harapan ke Depan
Saat ini, Bonek Persebaya telah berkembang menjadi komunitas besar dengan jaringan luas. Tidak hanya di Surabaya, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia.
Dukungan terhadap Persebaya di BRI Liga 1 2024/2025 terus mengalir. Semangat “Bonek Wani” menjadi slogan yang menggambarkan keberanian sekaligus loyalitas tanpa kompromi.
Sejarah Bonek Persebaya membuktikan bahwa sebuah stigma bisa berubah menjadi kebanggaan ketika dirangkul dengan kesadaran dan tanggung jawab. Dari bondo nekat menjadi identitas suporter militan yang disegani di Indonesia.
Editor : Axsha Zazhika