BLITAR - Siapa sangka klub tersukses di daratan Inggris, Liverpool FC, lahir bukan karena ambisi besar sejak awal, melainkan akibat perselisihan internal dan tuduhan keserakahan. Sejarah Liverpool FC yang begitu melegenda ini nyatanya memiliki akar yang sangat erat dengan rival sekota mereka, Everton. Tanpa adanya konflik di masa lalu, mungkin publik Anfield tidak akan pernah melihat kejayaan klub berjuluk The Reds ini.
Pada tahun 1884, Everton yang sudah berusia 10 tahun harus berpindah markas dari Priory Road ke Anfield Road karena masalah kebisingan suporter. Saat itu, John Houlding, Presiden Everton, membantu proses pemindahan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, Houlding justru dianggap memanfaatkan klub untuk kepentingan pribadi, mulai dari menaikkan biaya sewa lahan hingga mewajibkan pemain menggunakan fasilitas hotel miliknya.
Konflik memuncak pada tahun 1892 ketika petinggi Everton lainnya memutuskan hengkang ke Goodison Park. Ditinggal sendirian di Anfield, John Houlding pun nekat membentuk klub baru. Inilah titik awal sejarah Liverpool FC yang resmi berdiri pada 3 Juni 1892, setelah nama awal "Everton FC and Athletic Grounds" ditolak oleh otoritas setempat karena dianggap meniru nama klub yang sudah ada.
Langkah Awal di Kasta Bawah dan Era "Team of Mac"
Di bawah asuhan manajer John McKenna, Liverpool memulai perjalanannya dari kompetisi lokal bernama Lancashire League. Uniknya, skuad pertama Liverpool didominasi oleh pemain-pemain asal Skotlandia yang banyak di antaranya memiliki nama depan "Mac". Hal ini membuat tim tersebut dijuluki sebagai Team of Mac.
Kejayaan awal langsung terasa ketika mereka menjuarai divisi dua (Football League Second Division) dengan rekor tak terkalahkan (unbeaten) pada musim 1893-1894. Meski sempat merasakan pahitnya degradasi, Liverpool segera bangkit dan meraih gelar kasta tertinggi Liga Inggris pertama mereka pada musim 1900-1901.
Masa Kelam dan Sang Juru Selamat Bill Shankly
Perjalanan sejarah Liverpool FC tidak selalu mulus. Klub ini pernah mengalami periode kelam selama 22 tahun tanpa trofi (1923-1945). Puncaknya terjadi pada musim 1953-1954 ketika mereka terdegradasi ke kasta kedua dan tertahan di sana selama delapan musim.
Kondisi klub yang berantakan, fasilitas latihan Melwood yang buruk, serta finansial yang tidak stabil akhirnya berubah total saat Bill Shankly datang pada 1 Desember 1959. Shankly bukan sekadar pelatih; ia adalah arsitek mentalitas yang menanamkan nilai-nilai "The Liverpool Way". Ia merombak skuad, memperbaiki infrastruktur, dan membawa Liverpool kembali ke kasta tertinggi serta memenangkan gelar liga dan trofi Eropa pertama mereka (UEFA Cup).
Dominasi Bob Paisley hingga Era Modern Jurgen Klopp
Estafet kepemimpinan berlanjut ke asisten Shankly, Bob Paisley. Di tangan Paisley, Liverpool bertransformasi menjadi monster yang menakutkan di Eropa. Selama sembilan tahun, Paisley mempersembahkan 20 trofi, termasuk tiga gelar Liga Champions. Prestasi ini menjadikannya manajer tersukses sepanjang masa bagi publik Anfield.
Setelah sempat mengalami masa pasang surut di era Premier League, harapan baru muncul saat Jurgen Klopp datang pada 2015. Dengan taktik gegenpressing, Klopp berhasil mengakhiri puasa gelar Liga Inggris selama 30 tahun pada musim 2019-2020 dan kembali mengangkat trofi Liga Champions.
Kini, di bawah kendali pelatih asal Belanda, Arne Slot, Liverpool tampaknya belum kehilangan tajinya. Transisi dari era Klopp ke Slot berjalan sangat mulus, membawa harapan bahwa sejarah Liverpool FC akan terus dihiasi dengan deretan trofi bergengsi di masa depan. (*)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly