BLITAR - Dunia sepak bola Inggris tidak akan pernah sama tanpa kehadiran Liverpool FC. Klub yang bermarkas di Merseyside ini telah membuktikan diri sebagai salah satu kekuatan paling dominan di jagat raya. Namun, tahukah Anda bahwa sejarah Liverpool FC dimulai dari sebuah pertikaian sengit terkait biaya sewa tanah? Bukan karena visi sepak bola yang megah sejak awal, melainkan akibat pecah kongsinya pengusaha lokal dengan klub tetangga.
Kisah ini bermula pada tahun 1892. John Houlding, seorang konglomerat sekaligus pemilik tanah Anfield, terlibat perselisihan dengan dewan direksi Everton FC. Masalahnya klasik: uang sewa. Houlding yang ambisius mematok harga tinggi untuk penggunaan Anfield, yang memicu kemarahan pihak Everton hingga mereka memutuskan pindah ke Goodison Park. Tak ingin stadion miliknya menganggur, Houlding pun nekat mendirikan klub baru yang kini kita kenal sebagai Liverpool FC.
Dalam perjalanannya, sejarah Liverpool FC mencatat pertumbuhan popularitas yang sangat kilat. Hanya berselang sembilan tahun sejak didirikan, The Reds langsung tancap gas dengan menjuarai Football League Division pada musim 1901. Prestasi ini disusul kembali pada tahun 1906, yang membuat nama mereka mulai diperhitungkan di seantero Inggris. Sayangnya, momentum emas ini sempat terhenti akibat pecahnya Perang Dunia I dan II yang memaksa kompetisi ditangguhkan dan merenggut nyawa beberapa pemain pilar mereka.
Era Kebangkitan Bersama Bill Shankly
Titik balik paling krusial dalam sejarah Liverpool FC terjadi pada 1 Desember 1959. Kala itu, kondisi klub sedang berada di titik nadir, terpuruk di kasta kedua Liga Inggris dengan fasilitas latihan yang sangat memprihatinkan. Datanglah sosok manajer disiplin asal Skotlandia, Bill Shankly. Shankly bukan sekadar pelatih; ia adalah arsitek budaya.
Ia menerapkan aturan diet ketat, mewajibkan pemain makan bersama untuk memupuk persaudaraan, dan menanamkan mentalitas pemenang. Butuh waktu dua tahun bagi Shankly untuk membawa Liverpool kembali ke kasta tertinggi. Turning point terjadi pada musim 1964/1965 saat mereka menjuarai FA Cup dan mulai merambah kompetisi Eropa. Shankly berhasil mengubah Liverpool dari tim semenjana menjadi kekuatan yang ditakuti, sebelum akhirnya ia mengundurkan diri pada 1974.
Tongkat estafet kemudian diteruskan oleh asistennya, Bob Paisley. Di tangan Paisley, Liverpool mengalami fenomena "tsunami trofi". Mereka mendominasi Liga Inggris dan berhasil menjuarai European Cup (sekarang UCL) dua kali berturut-turut pada 1977 dan 1978. Inilah masa di mana dominasi Liverpool benar-benar tak tergoyahkan di daratan Eropa.
Baca Juga: Keuangan Arema FC Belum Stabil Meski Jor-joran Transfer, Target Lima Besar Tak Goyah
Pasang Surut Era Modern dan Sentuhan Magis Jurgen Klopp
Memasuki era modern, perjalanan The Reds tidak selalu mulus. Setelah sempat mengalami masa-masa sulit pasca akuisisi oleh Fenway Sports Group (FSG) pada 2010 yang dianggap terlalu berorientasi bisnis, Liverpool sempat kehilangan taji. Munculnya nama-nama seperti Michael Owen yang fenomenal namun kemudian dicap pengkhianat karena pindah ke Manchester United, sempat mewarnai drama internal klub.
Kebangkitan nyata kembali dirasakan saat Jurgen Klopp datang pada tahun 2015. Dengan gaya main gegenpressing yang enerjik, Klopp meminta waktu empat tahun kepada fans untuk membangun tim. Janji itu ditepati. Pada 2019, Liverpool sukses mengangkat trofi Liga Champions setelah menumbangkan Tottenham Hotspur di final Madrid. Nama-nama seperti Mohamed Salah dan Sadio Mane pun ditasbihkan sebagai legenda baru di Anfield.
Kini, tantangan terbesar bagi Liverpool adalah menjaga konsistensi. Banyak pengamat menilai Liverpool terlalu bergantung pada figur manajer yang kuat. Namun, dengan sejarah panjang yang penuh dengan drama penebusan dosa dan kerja keras, Liverpool FC telah membuktikan bahwa mereka adalah klub yang selalu bisa bangkit dari kegelapan. (*)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly