Adalah Ana Bjelica, opposite asing asal Serbia milik Jakarta Livin Mandiri, yang memberikan pandangan menarik usai laga. Pemain berusia 33 tahun dengan segudang pengalaman di kompetisi Eropa ini tak segan memuji kualitas Megawati, namun di saat yang sama, ia juga melontarkan kritik konstruktif yang cukup menohok. Bjelica, yang besar dalam tempaan sistem voli Serbia yang brutal dan disiplin, melihat ada satu hal yang hilang dari sosok Megawati musim ini.
"Di Indonesia, dia adalah opposite yang sempurna. Postur, power, teknik, daya tahan, semua disatukan menjadi performa yang magis," ujar Bjelica dengan nada respek. Namun, sambil tersenyum tipis, ia menambahkan kalimat yang membuat banyak pihak tertegun. "Satu hal yang tidak dia miliki dibanding saya. Kelincahannya menurun. Saya tahu berat badannya tidak se-perfect saat di Korea," ungkapnya jujur.
Analisis Tajam dari Mata Pemain Dunia
Pernyataan Bjelica bukan lahir dari rasa iri atau kekecewaan akibat kekalahan. Sebagai pemain yang pernah merasakan ketatnya persaingan di level tertinggi Eropa, ia memiliki mata elang dalam menilai performa lawan. Menurutnya, Megawati Hangestri Pertiwi saat ini terlihat membutuhkan waktu sepersekian detik lebih lama untuk bangkit setelah melakukan dive atau penyelamatan bola.
"Itu bukan kelemahan mutlak, itu konsekuensi. Tubuh tinggi, tubuh kuat, jika berat badan bertambah, energi untuk bangkit dari lantai tentu lebih besar," analisis Bjelica. Ia membandingkan kondisi Megawati saat ini dengan performa puncaknya saat membela Daejeon Red Sparks di Liga Voli Korea. Saat itu, Megawati dikenal sebagai simbol perlawanan yang tak kenal lelah, melompat dan menyerang tanpa henti dengan kelincahan yang prima.
Apa yang disampaikan Bjelica seolah menjadi cermin bagi Megawati. Beban kompetisi yang padat, mulai dari Liga Korea yang menguras fisik hingga langsung terjun ke Proliga, tampaknya meninggalkan jejak kelelahan pada tubuh sang "Megatron".
Baca Juga: Keuangan Arema FC Belum Stabil Meski Jor-joran Transfer, Target Lima Besar Tak Goyah
Dominasi Jakarta Pertamina Enduro Tak Terbantahkan
Terlepas dari sorotan fisik tersebut, kehadiran Megawati Hangestri Pertiwi di lapangan tetap memberikan teror nyata bagi lawan. Dalam laga melawan Jakarta Livin Mandiri, Jakarta Pertamina Enduro tampil dengan ketenangan yang mematikan. Serangan mereka mengalir deras seperti gelombang pasang, terukur dan sulit dibendung.
Lini pertahanan Jakarta Pertamina Enduro yang solid membuat serangan-serangan Ana Bjelica dan kawan-kawan kerap menemui jalan buntu. Middle blocker mereka tidak hanya berfungsi sebagai tembok, tetapi juga pengatur ritme yang membuat lawan frustrasi. Bjelica sendiri mengakui bahwa timnya sudah realistis sejak sebelum laga dimulai. "Musim lalu mereka pemilik trofi, dan sekarang skuad mereka semakin solid dengan adanya opposite nomor satu Indonesia," akunya.
Pesan Tersirat untuk Sang Bintang
Kritik Bjelica sejatinya adalah bentuk kepedulian profesional. Sebagai sesama opposite, ia tahu betul bahwa Megawati Hangestri Pertiwi adalah aset berharga. Pesan tersiratnya jelas: Megawati harus kembali mengasah fisik, mengembalikan kelincahan, dan menemukan keseimbangan tubuh idealnya.
Megawati kini berada di persimpangan karier seorang legenda. Ia harus menyesuaikan tubuhnya dengan ambisi besar, atau sebaliknya. Laga di Medan malam itu menjadi saksi bahwa meski dengan kondisi yang disebut "menurun" kelincahannya, aura Megawati masih mampu membungkam lawan. Namun, untuk tetap berada di puncak dunia, saran dari kompatriot Serbia ini layak menjadi bahan evaluasi serius menuju laga-laga krusial berikutnya. (*)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar