Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Stadion Pakansari Hening Tanpa Koreo, Ini Alasan Ultras Garuda dan La Grande Indonesia Boikot Laga Timnas U-23 hingga Tuntut Erick Thohir Mundur

Saifullah Muhammad Jafar • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:05 WIB

Stadion Pakansari hening tanpa Ultras Garuda dan La Grande Indonesia. Simak alasan boikot, tuntutan revolusi PSSI, hingga penolakan pelatih
Stadion Pakansari hening tanpa Ultras Garuda dan La Grande Indonesia. Simak alasan boikot, tuntutan revolusi PSSI, hingga penolakan pelatih
BLITAR – Atmosfer berbeda dan cenderung hampa menyelimuti Stadion Pakansari, Bogor, pada laga uji coba Timnas Indonesia U-23 melawan Mali, Sabtu kemarin. Hilang sudah hingar-bingar nyanyian penyemangat dan koreografi megah yang biasanya menjadi ciri khas laga Skuad Garuda. Pemandangan tak biasa ini terjadi akibat absennya dua kelompok suporter terbesar di tanah air, yakni Ultras Garuda dan La Grande Indonesia.

Ketidakhadiran Ultras Garuda dan La Grande Indonesia di tribun utara dan selatan bukan disebabkan oleh kendala teknis atau kehabisan tiket. Padahal, panitia pelaksana mencatat ada sekitar 8.000 penonton umum yang hadir, angka yang cukup baik untuk sebuah laga uji coba. Namun, tanpa kehadiran dua basis suporter militan ini, atmosfer pertandingan terasa seperti sayur tanpa garam. Tidak ada giant flag yang berkibar, tidak ada chants yang membakar semangat Jay Idzes dan kawan-kawan dari menit awal hingga peluit akhir.

Usut punya usut, absennya Ultras Garuda dan La Grande Indonesia merupakan bentuk protes keras dan terorganisir yang ditujukan kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Aksi boikot ini adalah puncak gunung es dari kekecewaan yang telah lama terpendam di kalangan pecinta sepak bola nasional, khususnya terkait tata kelola federasi dan prestasi timnas belakangan ini.

Baca Juga: Persib Bandung Tak Main-Main: Dana Unilever Mengalir, Rekor Transfer Siap Pecah, 6 Nama Mewah Jadi Target Operasi Juara

Aksi Demonstrasi di GBK Arena: Tuntutan Revolusi Total

Sebelum laga melawan Mali digelar, tepatnya pada hari Jumat, gelombang protes sudah memanas di ibu kota. Ultras Garuda menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor PSSI, GBK Arena, Jakarta. Dalam aksi tersebut, mereka membawa spanduk-spanduk besar dengan pesan menohok, salah satunya bertuliskan "Erick Thohir Out".

Para suporter menuntut adanya revolusi total di tubuh PSSI. Salah satu orator aksi dengan lantang menyuarakan aspirasi bahwa jika Ketua Umum PSSI tidak mampu membawa perubahan positif, maka pilihannya adalah mundur. "Kami meminta tuntutan kepada PSSI agar segera revolusi total. Hari ini Ultras Garuda meminta Erick out. Jika tidak mampu, silakan pergi," seru sang orator yang disambut gemuruh massa aksi.

Tuntutan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Kekecewaan suporter memuncak setelah Timnas Indonesia senior dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Langkah Skuad Garuda harus terhenti di ronde keempat Kualifikasi Zona Asia setelah menelan kekalahan pahit dari Arab Saudi dan Irak. Bagi suporter, kegagalan ini adalah pukulan telak mengingat harapan yang begitu tinggi digantungkan pada pundak timnas.

Baca Juga: Keuangan Arema FC Belum Stabil Meski Jor-joran Transfer, Target Lima Besar Tak Goyah

Kontroversi Pelatih Baru: Patrick Kluivert Gantikan Shin Tae-yong

Selain kegagalan di kualifikasi Piala Dunia, faktor lain yang memicu kemarahan Ultras Garuda dan La Grande Indonesia adalah keputusan kontroversial PSSI dalam menunjuk pelatih baru. Publik sepak bola tanah air yang sudah terlanjur jatuh hati dengan kinerja Shin Tae-yong (STY) merasa dikhianati. STY dianggap berhasil mengangkat level permainan Indonesia secara signifikan, namun federasi justru mengambil langkah berbeda.

PSSI menunjuk Patrick Kluivert (disebut Patrick Lifert dalam transkrip) sebagai nakhoda baru. Keputusan ini dianggap tidak sejalan dengan aspirasi suporter yang menginginkan keberlanjutan program yang telah dibangun STY. Penunjukan ini dinilai sebagai langkah mundur dan menjadi pemantik utama mengapa tribun utara dan selatan memilih untuk kosong pada laga melawan Mali.

Baca Juga: Sejarah Persib Bandung: Dari Perlawanan Era Kolonial hingga Raja Liga 1 Back to Back, Warisan Nasionalisme yang Tak Pernah Padam

Boikot Sebagai Bentuk Cinta Tertinggi

Absennya suporter di stadion jangan disalahartikan sebagai lunturnya rasa cinta mereka kepada Timnas Indonesia. Sebaliknya, aksi ini adalah bentuk cinta yang menyakitkan namun perlu dilakukan (tough love). Mereka rela mengorbankan kesempatan mendukung tim kebanggaan secara langsung demi memperjuangkan perbaikan sistem yang lebih fundamental.

Suporter kini memposisikan diri bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai pemangku kepentingan (stakeholder) yang kritis. Ketika federasi dianggap melenceng dari rel prestasi, maka suporter menjadi garda terdepan untuk mengingatkan. Boikot ini adalah "surat cinta" yang ditulis dengan cara berbeda, berharap para petinggi PSSI membuka mata dan telinga.

Kini, bola panas ada di tangan PSSI. Akankah federasi mendengar jeritan hati dari tribun yang kosong ini? Sinergi antara tim, federasi, dan suporter adalah kunci mutlak prestasi. Tanpa salah satu elemen tersebut, fondasi sepak bola nasional akan rapuh. Publik berharap segera ada dialog terbuka untuk mencari solusi terbaik agar Garuda bisa kembali terbang tinggi dengan dukungan penuh "pemain ke-12" di belakangnya. (*)

Editor : Saifullah Muhammad Jafar
#shin tae-yong #Timnas Indonesia U-23 gagal final #Erick Thohir Out #PSSI