BLITAR - Keputusan PSBI Blitar vakum Liga 3 musim ini akhirnya dijelaskan secara terbuka oleh manajemen. Klub bersejarah asal Kabupaten Blitar tersebut memastikan tidak mengikuti kompetisi bukan karena menyerah, melainkan akibat persoalan kompleks yang membelit sejak bertahun-tahun lalu, mulai dari finansial, perubahan regulasi, hingga dinamika politik dan manajerial.
Dalam forum dialog yang melibatkan manajemen dan suporter, pihak pengelola PSBI Blitar menyampaikan bahwa vakumnya tim di Liga 3 merupakan pilihan paling realistis di tengah kondisi internal yang tidak memungkinkan. Manajemen menegaskan, sejak pandemi Covid-19, operasional klub praktis ditopang secara mandiri tanpa sokongan kuat dari sponsor besar.
“Sejak 2021 kami membiayai sendiri PSBI untuk berkompetisi. Puncaknya persiapan 2022, biaya hampir Rp500 juta sudah keluar, tapi gagal tampil karena tragedi Kanjuruhan dan perubahan situasi,” ungkap perwakilan manajemen. Kondisi tersebut disebut menjadi titik nadir karena kejadian serupa juga pernah dialami PSBI Blitar pada 2015 akibat situasi politik nasional.
Sponsor Batal, Format Liga Berubah
Alasan lain di balik PSBI Blitar vakum Liga 3 adalah batalnya kerja sama dengan calon pengelola klub. Manajemen mengungkap, sempat ada dua pihak yang menyatakan siap mengelola PSBI. Salah satunya bahkan sudah mencapai kesepakatan, namun mundur sepihak kurang dari sebulan sebelum kompetisi bergulir.
Pihak lain yang merupakan pengusaha besar juga dikabarkan tertarik mengambil saham mayoritas. Namun rencana tersebut kandas setelah format kompetisi berubah dari Liga 3 ke Liga 4. Perubahan label kompetisi membuat calon investor kehilangan minat.
“Waktu semakin mepet. Kami konsultasi ke Askab, dan disampaikan kalau tidak ikut tahun ini masih aman, tidak dicoret keanggotaan. Dengan kondisi keuangan kami, akhirnya diputuskan vakum,” jelas manajemen.
Tidak Bisa Dikembalikan ke Pemkab
Isu pengembalian PSBI Blitar ke Pemerintah Kabupaten Blitar juga kembali mencuat. Namun manajemen menegaskan hal tersebut tidak dimungkinkan secara regulasi. Berdasarkan aturan Kementerian Dalam Negeri sejak 2012, pemerintah daerah tidak memiliki dasar hukum untuk mengelola klub sepak bola profesional.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya PT Blitar Bola Mandiri sebagai badan hukum klub. Manajemen mengaku sudah menawarkan PSBI ke sejumlah pejabat daerah, bahkan tanpa nilai transaksi. Namun semua terbentur aturan dan kesiapan pendanaan.
“Bukan tidak mau. Secara hukum memang tidak bisa. Kecuali kepala daerahnya benar-benar hobi bola dan mau menggalang sponsor, itu pun sifatnya tidak langsung,” kata manajemen.
Manajemen Akui Banyak Kekurangan
Dalam dialog tersebut, manajemen PSBI Blitar juga tidak menutup mata terhadap kritik suporter. Mereka mengakui tata kelola klub belum ideal, terutama dalam hal komunikasi, pemasaran, dan hubungan publik. Ketidakpercayaan sebagian suporter dinilai sebagai dampak dari pola pengelolaan yang belum profesional.
Namun manajemen menegaskan, upaya membangun klub tetap dilakukan. Salah satunya dengan menggelar Liga Internal PSBI dan seleksi terbuka yang disiarkan melalui YouTube pada masa pandemi. Bahkan, beberapa pemain hasil kompetisi internal tersebut kini berkarier di klub profesional, termasuk di Kalimantan.
Opsi Masa Depan PSBI Blitar
Meski PSBI Blitar vakum Liga 3, manajemen memastikan klub tidak mati. Sejumlah opsi ditawarkan untuk masa depan Laskar Bung Karno. Pertama, pemberian hak kelola manajerial kepada pihak lain dengan sistem evaluasi tahunan. Kedua, pelepasan saham, baik sebagian maupun total, dengan skema yang disesuaikan calon pengelola.
Opsi ketiga yang lebih ekstrem adalah pembentukan badan hukum baru yang melibatkan suporter, koperasi, dan pemangku kepentingan sepak bola di Blitar. Manajemen menyatakan terbuka jika Askab PSSI Kabupaten Blitar ingin menjadikan PSBI sebagai rumah besar sepak bola Blitar.
“Kami ingin PSBI kembali hidup, punya pengurus, punya pembinaan usia dini, dan stadion kembali terisi. Menyelamatkan PSBI bukan sekadar menyelamatkan klub, tapi menjaga sejarah,” tegas manajemen.
PSBI Blitar, klub yang lahir pada 1928 dan berafiliasi dengan PSSI, kini berada di persimpangan jalan. Vakumnya musim ini menjadi alarm keras bahwa perubahan mendasar mutlak dibutuhkan agar klub legendaris ini tidak sekadar bertahan, tetapi benar-benar bangkit.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh