BLITAR – Nama Blitar dalam sejarah Indonesia tak bisa dilepaskan dari sosok Proklamator, Soekarno. Namun, selain dikenal sebagai kota kelahiran Presiden pertama RI, Blitar juga menyimpan kisah panjang di dunia sepak bola nasional melalui klub legendaris PSBI Blitar.
PSBI Blitar merupakan salah satu klub tertua di Indonesia. Klub ini berdiri pada 8 Desember 1928, jauh sebelum kompetisi sepak bola modern terbentuk. Pada awal pendiriannya, PSBI dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Bangsa Indonesia, sebuah simbol perlawanan kultural di masa kolonial. Klub ini didirikan sebagai wadah talenta pribumi agar mampu bersaing di lapangan hijau, yang kala itu didominasi klub-klub bentukan pemerintah kolonial.
Seiring berdirinya PSSI pada 19 April 1930, PSBI menjadi bagian dari denyut awal sepak bola nasional. Setelah Soekarno tidak lagi menjabat Presiden Republik Indonesia, klub ini kemudian dipindahkan ke Blitar dan resmi bermarkas di tanah kelahiran Sang Proklamator. Sejak saat itulah, PSBI dikenal sebagai Persatuan Sepak Bola Indonesia Blitar.
Prestasi dan Perjalanan Kompetisi
Dalam catatan sejarahnya, PSBI Blitar pernah mencicipi prestasi cukup membanggakan di era Perserikatan. Pencapaian terbaik mereka adalah finis di peringkat keenam Perserikatan musim 1971–1973. Setelah itu, PSBI lebih banyak berkutat di kasta kedua sepak bola nasional.
Memasuki era liga modern, PSBI sempat tampil konsisten di Divisi Utama. Musim 2009–2010 menjadi salah satu periode paling dikenang suporter, ketika PSBI nyaris menembus babak delapan besar nasional setelah finis di peringkat keempat grup. Namun, tren tersebut tidak berlanjut lama. Pada musim 2017, PSBI harus terdegradasi dari Liga 2 dan sejak 2018 berkompetisi di Liga 3 zona Jawa Timur. Bahkan pada beberapa musim, PSBI sempat vakum akibat berbagai kendala non-teknis.
Dinamika Jersey dan Identitas Klub
Identitas PSBI Blitar juga tak lepas dari polemik, terutama soal warna jersey. Sejak awal berdiri, warna merah dipilih sebagai simbol nasionalisme dan semangat kebangsaan, sejalan dengan visi Bung Karno. Namun pada era 2009, manajemen sempat mengubah jersey menjadi biru, yang memicu perdebatan di kalangan suporter.
Perubahan warna tersebut dinilai mengaburkan identitas historis klub. Meski demikian, manajemen akhirnya mengombinasikan merah, biru, dan putih dalam beberapa musim berikutnya. Warna biru kerap digunakan saat PSBI berlaga di kasta kedua, sementara merah tetap dipertahankan sebagai simbol utama.
Julukan yang Tak Pernah Sepi Pro-Kontra
PSBI Blitar juga memiliki kisah unik soal julukan tim. Dua nama besar yang melekat hingga kini adalah Laskar Bung Karno dan Singoludro. Julukan Laskar Bung Karno muncul karena keterkaitan sejarah klub dengan Soekarno. Sementara Singoludro merujuk pada simbol lokal khas Blitar.
Pergantian julukan ini beberapa kali memicu perdebatan di internal suporter. Bahkan ada anggapan mistis, ketika PSBI lebih sering menang saat menggunakan julukan Singoludro dibanding Laskar Bung Karno. Meski bersifat subjektif, perdebatan tersebut menunjukkan kuatnya ikatan emosional suporter dengan identitas klub.
Suporter dan Stadion Kebanggaan
PSBI Blitar memiliki basis suporter fanatik dengan salam khas “Satu Hati”. Dua kelompok utama yang dikenal adalah Blitzmania dan Freedom Gate. Dukungan mereka mengiringi PSBI baik saat bermarkas di Stadion Soeprijadi Kota Blitar maupun setelah pindah ke Stadion Gelora Penataran, Kabupaten Blitar, yang kini menjadi kandang utama.
Meski prestasi belum kembali bersinar, PSBI Blitar tetap menjadi simbol sejarah, nasionalisme, dan kebanggaan masyarakat Blitar. Di tengah dinamika sepak bola modern, PSBI bukan sekadar klub, melainkan bagian dari perjalanan panjang sepak bola Indonesia itu sendiri.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh