BLITAR- Bahaya mobil listrik kini menjadi perhatian serius kalangan otomotif di berbagai negara. Para teknisi dan pemilik bengkel dari Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Rusia hingga China mencatat sejumlah masalah keselamatan yang harus dipahami konsumen sebelum membeli EV (Electric Vehicle) atau mobil listrik. Isu ini mencakup risiko kebakaran baterai, pintu terkunci saat kecelakaan, hingga tantangan mengisi daya di rumah.
Dalam pertemuan konferensi teknisi otomotif internasional yang baru-baru ini berlangsung di Asia, sejumlah data mengejutkan terkait bahaya mobil listrik dibahas. Para pakar mengatakan bahwa persepsi umum tentang EV bisa sangat berbeda dengan realitas di lapangan. “Ini bukan upaya menjelekkan, tapi penting untuk masyarakat memahami semua sisi sebelum memutuskan membeli mobil listrik,” ujar salah satu praktisi bengkel yang mengikuti konferensi tersebut.
Subsidi Pemerintah dan Harga EV
Pemerintah di beberapa negara tengah mempertimbangkan subsidi besar untuk mobil EV dan hybrid dengan tujuan mempercepat transisi kendaraan ramah lingkungan. Rencana subsidi ini diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per unit, tergantung kebijakan masing‑masing negara. Meski begitu, paket subsidi ini menjadi sorotan karena justru mengikuti harga kendaraan yang sebelumnya sudah tinggi karena pajak otomotif yang besar.
Dengan skema pajak yang tinggi lalu diberi subsidi, banyak praktisi menilai hal ini kurang efektif. “Kalau dari awal harga mobil listrik dan hybrid tidak dibebani pajak berat, sebetulnya subsidi besar seperti ini tidak diperlukan. Ini malah membuat konsumen bingung melihat harga final,” kata salah satu analis otomotif.
Tantangan Pengisian Daya di Rumah
Salah satu bahaya mobil listrik yang tidak kalah penting adalah terkait kesiapan infrastruktur pengisian daya. Konsumen EV harus memastikan rumahnya mampu mendukung pengisian baterai dengan aman. Beberapa model EV, seperti yang dibahas dalam konferensi, bisa menarik arus listrik hingga 8.800 watt — setara dengan kapasitas listrik satu rumah tangga.
Jika instalasi listrik rumah tidak memadai, pemilik baru EV harus mengajukan permintaan tambahan dari PLN atau pemasok listrik lokal untuk menambah MCB khusus EV. “Kalau dari rumah tidak siap, maka Anda akan kesulitan mengisi daya dan berpotensi menimbulkan masalah teknis,” ujar seorang teknisi listrik otomotif.
Selain itu, kapasitas baterai EV juga harus dipahami dengan baik oleh calon pembeli. Semakin besar kapasitas (misalnya 100 kWh atau lebih), semakin jauh jarak tempuh yang bisa dicapai dalam satu kali pengisian. Namun, perjalanan panjang juga tergantung kondisi jalan, lalu lintas, dan penggunaan AC yang bisa menurunkan jarak tempuh efektif.
Bahaya Mobil Listrik Saat Kecelakaan
Salah satu bahaya mobil listrik yang paling mengkhawatirkan terjadi saat kecelakaan. Berbeda dengan kendaraan konvensional, sistem EV sangat bergantung pada baterai besar yang menyuplai semua sistem kelistrikan. Ketika terjadi benturan hebat, ada kemungkinan baterai mengalami “puncture” atau kerusakan struktural.
Akibatnya, bukan hanya risiko kebakaran yang muncul, tetapi juga sistem pintu dan mekanisme keselamatan bisa gagal bekerja. Dalam beberapa kasus di luar negeri, korban kecelakaan EV tidak bisa membuka pintu karena sistem listrik mati total. “Pintu terkunci dan tidak dapat dibuka merupakan salah satu risiko nyata yang dilaporkan di berbagai negara,” kata seorang instruktur keselamatan otomotif.
Jika baterai rusak dan terbakar, upaya pemadaman juga menjadi tantangan besar. Baterai EV bisa membakar dengan suhu mencapai 1.800 derajat Celsius dan tidak mudah dipadamkan dengan cara konvensional. Di Korea Selatan, petugas pemadam kebakaran menggunakan metode menenggelamkan kendaraan dalam tangki berisi air agar api bisa terkendali dan oksigen terputus. Namun, bahkan dalam kondisi demikian, baterai tetap bisa menyala dan sulit benar‑benar padam.
Kasus Kebakaran di Berbagai Negara
Sejumlah kasus kebakaran EV telah dilaporkan di berbagai negara. Di China, beberapa unit EV terbakar saat proses pengisian daya di rumah, termasuk model dari pabrikan lokal yang sempat viral di media sosial otomotif. Sementara di Amerika Serikat, kasus Chevrolet Bolt yang terbakar saat parkir di depan rumah juga sempat mencuat sebagai salah satu contoh bahaya mobil listrik yang memerlukan perhatian ekstra.
Risiko kebakaran ini menjadi alasan mengapa banyak produsen kendaraan listrik kini memberi rekomendasi agar EV tidak diparkir di dalam garasi rumah, terutama saat tidak ada pengawasan. Hal ini untuk meminimalkan kemungkinan api menyebar ke struktur rumah jika terjadi kejadian luar biasa.
Tips Penting Sebelum Membeli EV
Meski banyak tantangan, teknologi EV juga terus berkembang. Untuk itu, calon pembeli harus mengevaluasi aspek keselamatan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan. Beberapa tips penting yang disarankan oleh para ahli otomotif antara lain:
-
Pastikan instalasi listrik di rumah memadai untuk pengisian baterai EV.
-
Ketahui kapasitas baterai dan estimasi jarak tempuh sesuai kebutuhan harian Anda.
-
Selalu jaga kondisi baterai, jangan biarkan terisi habis dan hindari panas berlebih.
-
Update perangkat lunak EV secara berkala dan perhatikan sistem pendingin baterai.
-
Pertimbangkan risiko kebakaran, terutama saat parkir di tempat tertutup seperti garasi.
Para praktisi otomotif menegaskan bahwa meskipun banyak manfaat dari kendaraan listrik, risiko keselamatan seperti bahaya mobil listrik yang disebutkan harus menjadi bagian dari pertimbangan matang setiap calon pembeli. Dengan memahami semua sisi, keputusan membeli EV diharapkan lebih bijak dan aman bagi konsumen Indonesia.
Editor : Izahra Nurrafidah