Pertanyaan mendasarnya, bagaimana ponsel ini bisa mencapai performa sebrutal itu padahal menggunakan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang sama dengan kompetitornya seperti iQOO 15 atau Poco F8 Ultra? Rahasia utamanya terletak pada sistem pendingin termutakhir. Redmagic 11 Pro diklaim sebagai ponsel komersial pertama di dunia yang menggunakan teknologi liquid cooling (pendingin cair) sungguhan yang disematkan langsung di dalam bodinya, bukan lagi sekadar produk purwarupa atau konsep.
Dalam review Nubia Redmagic 11 Pro tersebut, David membongkar desain unik di bagian belakang ponsel yang transparan. Pengguna bisa melihat langsung cairan berwarna biru—yakni cairan fluorinasi khusus serupa yang dipakai di server superkomputer—mengalir melintasi komponen mesin. Sistem kerjanya menyerupai urat nadi; cairan akan menyerap panas dari mesin utama, memutarnya ke seluruh bodi untuk didinginkan, lalu kembali lagi menyerap panas. Meskipun saluran cairannya sangat tipis bak mie gepeng, eksistensi teknologi ini sukses menarik perhatian.
Desain Gahar dan Kipas Internal Berkecepatan Tinggi
Tak hanya pendingin cair, Redmagic 11 Pro juga tetap mempertahankan DNA gaming-nya dengan menyematkan kipas pendingin internal. Saat fitur ini dihidupkan, suara desingannya cukup terdengar jelas. Kipas ini bahkan sanggup meniup mati api lilin kecil. Hebatnya lagi, meski memiliki banyak rongga udara untuk kipas, ponsel ini ternyata sudah mengantongi sertifikasi tahan celupan air.
Dari segi desain fisik, ponsel ini terasa tebal, solid, dan berbobot (230 gram). Bodi belakangnya dilapisi kaca rata tanpa tonjolan modul kamera sedikit pun (flat), sementara rangkanya menggunakan material aluminium space gray. Bagi pembeli tercepat, Nubia juga memberikan bundel eksklusif berupa gamepad Redmagic Shadow Blade bertema Xbox yang sangat ergonomis untuk menunjang pengalaman bermain game kelas berat.
Uji Stabilitas: Berani Panas Demi Performa Puncak
Bagian paling menarik dari ulasan ini adalah saat pengujian stabilitas menggunakan aplikasi 3DMark. Terungkap fakta mengejutkan bahwa Redmagic 11 Pro membiarkan suhunya meroket hingga 53 derajat Celcius demi mempertahankan performa puncaknya. Berbeda dengan ponsel arus utama yang cenderung menurunkan kecepatan (throttling) saat menyentuh angka 45 derajat agar tetap dingin. Inilah alasan logis mengapa skor AnTuTu-nya bisa meledak tinggi; ia tidak menahan tenaga sama sekali saat dites secara ekstrem.
Namun, Anda tidak perlu khawatir. Saat digunakan untuk bermain game berat secara normal seperti Genshin Impact pada pengaturan tertinggi (60 fps), suhu maksimalnya ternyata sangat bersahabat, yakni hanya berkisar di 37 derajat Celcius. Mesin pintarnya mampu menyesuaikan beban kerja tanpa harus selalu menekan pedal gas hingga 100 persen.
Kelemahan Terbesar: Kamera Layaknya Anak Tiri
Sayangnya, predikat ponsel spesialis gaming membuat sektor kamera Redmagic 11 Pro harus dikorbankan. Kamera depan under-display (di bawah layar) menghasilkan kualitas video yang berkabut dan redup, jauh dari ekspektasi ponsel seharga Rp 20 juta. Begitu pula dengan kamera belakangnya yang kehilangan fitur autofokus krusial pada lensa ultrawide-nya.
Kesimpulannya dari review Nubia Redmagic 11 Pro ini, perangkat tersebut adalah sebuah mahakarya niche yang sangat garang dan berani mendobrak batas performa. Dengan banderol harga normal mencapai Rp 20 juta (atau Rp 18 juta untuk pemesanan awal), ponsel layar penuh tanpa notch ini bukanlah gawai untuk masyarakat umum, melainkan sebuah "monster" yang diciptakan khusus bagi para gamer hardcore yang mendambakan performa ekstrem tanpa kompromi. (*)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar