BLITAR - Skandal PSSI kembali menjadi perbincangan setelah tragedi Kanjuruhan memicu gelombang kritik terhadap federasi sepak bola tertinggi di Indonesia itu. Berdiri sejak 9 April 1930, PSSI kini telah berusia lebih dari 90 tahun. Namun di tengah usia yang matang, polemik justru terus membayangi perjalanan organisasi tersebut.
Skandal PSSI bukan hanya soal satu peristiwa. Dari drama lempar tanggung jawab dalam tragedi Kanjuruhan hingga konflik internal berkepanjangan, federasi ini seakan tak pernah benar-benar lepas dari kontroversi.
Dalam setiap periode kepengurusan, selalu ada cerita yang menyita perhatian publik. Mulai dari dugaan pengaturan skor, dualisme liga, hingga kasus hukum yang menyeret para petinggi federasi.
Baca Juga: Megawati Hangestri Resmi Jadi Duta AVC 2026, Bukti Voli Indonesia Bangkit dan Diakui Dunia
Sekjen Terlama dan Awal Polemik
Salah satu nama yang kerap dikaitkan dengan panjangnya polemik adalah Nugraha Besoes. Ia tercatat sebagai Sekretaris Jenderal PSSI terlama, menjabat selama 28 tahun di bawah beberapa ketua umum berbeda.
Masa jabatan yang panjang sebenarnya bukan masalah jika dibarengi tata kelola yang bersih. Namun pada periode itu, berbagai kontroversi muncul, termasuk kasus yang dikenal sebagai “sepak bola gajah” pada Piala AFF 1998.
Saat itu, laga Indonesia melawan Thailand diwarnai dugaan pengaturan skor demi menghindari lawan tertentu di fase berikutnya. Insiden gol bunuh diri Mursyid Effendi menjadi simbol kelam yang masih diingat publik hingga kini.
Era Nurdin Halid dan Ancaman Sanksi FIFA
Skandal PSSI semakin mencuat saat Nurdin Halid memimpin federasi pada 2003–2011. Ia tersandung berbagai kasus hukum di luar sepak bola, mulai dari penyelundupan gula hingga pelanggaran impor beras.
Situasi ini memicu kemarahan suporter dan sorotan internasional. FIFA bahkan sempat mengancam sanksi terhadap Indonesia. Kritik publik semakin tajam ketika statuta PSSI diubah, dari syarat “tidak pernah terlibat kasus kriminal” menjadi “tidak sedang dinyatakan bersalah”.
Perubahan tersebut dinilai sebagai bentuk kompromi terhadap integritas organisasi. Istilah satire pun bermunculan di kalangan suporter sebagai bentuk protes.
Baca Juga: Sembilan Atlet BMX Berhasil Naik Podium Juara di Ajang Balapan Piala Bupati Blitar
Dualisme Liga dan Perpecahan Internal
Setelah Nurdin lengser melalui Kongres Luar Biasa (KLB) 2011, harapan pembenahan sempat menguat. Namun konflik baru justru muncul pada era Johar Arifin Husin.
Upaya merombak kompetisi memicu perpecahan. Lahir dualisme liga antara Indonesia Super League (ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI). Bahkan sejumlah klub besar seperti Persebaya dan Arema terbelah menjadi dua kubu.
Perpecahan ini membuat pemerintah turun tangan. Konflik berkepanjangan berujung pada pembekuan PSSI oleh pemerintah dan sanksi FIFA pada 2015. Sepak bola Indonesia pun sempat mengalami “mati suri” selama satu tahun.
Kontroversi Era Edy Rahmayadi dan Iwan Bule
Setelah sanksi dicabut pada 2016, kursi ketua umum kembali berganti. Edy Rahmayadi memimpin PSSI, namun masa jabatannya tak lepas dari kontroversi.
Beberapa pernyataannya yang dianggap kontroversial memicu kritik publik. Ia juga terseret polemik dengan suporter dan wartawan. Desakan mundur terus menguat hingga akhirnya ia melepaskan jabatan pada 2019.
Kepemimpinan kemudian beralih ke Mochamad Iriawan atau Iwan Bule. Di masa inilah tragedi Kanjuruhan terjadi pada 2022, yang menjadi salah satu tragedi sepak bola terburuk di dunia.
Penanganan pasca-tragedi kembali memicu kritik keras. Publik menilai federasi kurang sigap dan transparan dalam bertanggung jawab. Isu nepotisme dalam struktur organisasi juga sempat mencuat, menambah panjang daftar skandal PSSI.
Prestasi yang Tertutup Kontroversi
Meski identik dengan polemik, sejarah PSSI juga mencatat prestasi. Pada era Kardono, Timnas Indonesia pernah menembus semifinal Asian Games 1986 dan babak play-off Kualifikasi Piala Dunia.
Pada awal berdirinya, PSSI yang dipimpin Suratin Sosrosoegondo bahkan memiliki misi besar: melawan kolonialisme melalui olahraga. Sepak bola menjadi simbol persatuan dan perlawanan.
Namun perjalanan panjang itu kini sering tertutup oleh bayang-bayang kontroversi. Skandal PSSI seolah menjadi bagian dari ingatan kolektif suporter Indonesia.
Reformasi tata kelola, transparansi, dan profesionalisme menjadi tuntutan utama agar federasi bisa kembali dipercaya. Tanpa pembenahan menyeluruh, polemik dikhawatirkan akan terus berulang di masa depan.
Editor : Axsha Zazhika